Porosmedia.com – Tanggal 18 Januari hadir dengan daftar panjang peringatan global. Dari kehangatan karakter Winnie the Pooh hingga legitimasi narsisme di Museum Selfie Day. Namun, jika kita membedah lebih dalam melalui lensa Indonesia hari ini, ada kontradiksi tajam antara apa yang kita rayakan di media sosial dengan apa yang terjadi di akar rumput.
Museum Selfie Day yang jatuh hari ini seolah menjadi oase bagi generasi visual. Namun, kita harus berani bertanya: Apakah kita ke museum untuk menghargai sejarah, atau sekadar menjadikan artefak sebagai latar belakang (background) demi validasi digital?
Di Indonesia, banyak museum daerah yang masih sepi pengunjung dan kekurangan dana perawatan. Merayakan hari selfie di museum tanpa mendorong kebijakan revitalisasi museum yang serius adalah bentuk pendangkalan budaya. Kita tidak butuh sekadar foto estetik; kita butuh kurasi yang hidup agar sejarah tidak sekadar jadi pajangan bisu di belakang kamera ponsel.
Peringatan National Forrest Day pada 18 Januari terasa getir jika disandingkan dengan data tutupan hutan kita. Berdasarkan data Global Forest Watch, Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan primer dalam dua dekade terakhir.
Mengaitkan kata “Forrest” dengan sejarah Eropa kuno—seperti yang disebutkan banyak referensi—adalah romantisme yang tidak relevan bagi kita. Bagi rakyat Indonesia, hutan bukan sekadar tempat tinggal “orang kerajaan”, melainkan benteng terakhir melawan krisis iklim. Merayakan Hari Hutan di tanggal 18 Januari seharusnya bukan sekadar unggahan infografis, melainkan tagihan janji atas penghentian izin konsesi lahan yang ugal-ugalan.
Hari Berat Badan Wanita Sehat (Women’s Healthy Weight Day) juga jatuh hari ini. Ini adalah tamparan bagi industri kecantikan tanah air yang masih memuja standar “putih dan kurus”. Di saat kita merayakan kesehatan mental dan penerimaan diri, pasar justru membombardir wanita dengan produk pelangsing instan yang berisiko kesehatan.
Pesan berani yang harus diangkat adalah: Kesehatan wanita adalah isu kedaulatan pangan dan akses nutrisi, bukan sekadar angka di timbangan yang dipaksakan oleh standar patriarki.
18 Januari tidak boleh hanya menjadi daftar “hari apa hari ini” di mesin pencari. Tanpa kesadaran kritis, kita hanya terjebak dalam ritual digital yang hampa.
- Museum butuh pengunjung yang berpikir, bukan sekadar bergaya.
- Hutan butuh perlindungan hukum, bukan sekadar pengakuan nama.
- Tubuh wanita butuh nutrisi dan rasa aman, bukan sekadar label “sehat” dari standar industri.







