Porosmedia.com – Di balik keriuhan nada yang lahir di sudut-sudut jalanan Kota Bandung, terdapat sebuah narasi besar tentang mimpi yang dipatahkan oleh sejarah. Cepi Suhendar, yang kini menahkodai Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Bandung, bukanlah sosok yang lahir dari ruang hampa. Ia adalah saksi hidup sekaligus penyintas dari ambisi besar dirgantara Indonesia yang sempat mengangkasa sebelum akhirnya terhempas badai krisis.
Jauh sebelum memimpin organisasi musisi jalanan, langkah Cepi bermula di Wing 4, sebuah fasilitas manufaktur milik Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Berbekal ijazah STM, ia bukan sekadar pekerja; ia adalah bagian dari ekosistem teknologi kelas dunia yang digagas oleh Sang Visioner, B.J. Habibie.
”Saat itu, tangan ini ikut memberi sentuhan pada rangkaian karya gemilang putra terbaik bangsa,” kenang Cepi dengan nada yang dalam. Baginya, bekerja di IPTN adalah pernyataan sikap bahwa Indonesia mampu menjadi produsen teknologi, bukan sekadar pasar konsumsi global.
Namun, sejarah mencatat luka kolektif pada medio 1997–1998. Krisis moneter yang berujung pada tekanan politik internasional memaksa industri strategis nasional bertekuk lutut. Restrukturisasi besar-besaran membuat ribuan tenaga ahli dan pekerja terampil, termasuk Cepi, harus menanggalkan seragam kebanggaan mereka.
Cepi menegaskan bahwa kepulangan mereka saat itu bukan karena ketidakmampuan teknis, melainkan akibat rapuhnya kedaulatan industri di tengah tekanan global.
”Kami pulang bukan karena tidak mampu. Kami pulang karena negara menyerah,” ujarnya, sebuah kalimat yang merangkum pahitnya era reformasi bagi para pekerja industri strategis.
Kehilangan pekerjaan tidak membuat Cepi kehilangan martabat. Ia membawa semangat kemandirian tersebut ke ranah seni jalanan. Di bawah kepemimpinannya yang diproyeksikan hingga 2026, KPJ Bandung bertransformasi menjadi wadah yang vokal memperjuangkan hak-hak seniman marjinal.
Baru-baru ini, ia aktif mengawal peluncuran album kompilasi dan menata struktur organisasi agar musisi jalanan memiliki posisi tawar yang kuat. Baginya, jalanan adalah panggung baru untuk menyuarakan kritik yang sama: kapan Indonesia benar-benar berdaulat sebagai bangsa pembuat?
Kini, di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, Cepi Suhendar terus bergerak. Pesannya jelas bagi generasi mendatang agar tidak hanya mewarisi cerita tentang mimpi yang kandas. Ia menggugat keberanian politik negara untuk kembali berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Melalui Poros Media, kisah Cepi menjadi pengingat bahwa di balik setiap petikan gitar di trotoar, mungkin ada tangan yang dulu pernah merakit sayap pesawat. Sebuah potret resiliensi manusia Indonesia yang menolak menyerah pada keadaan.







