Porosmedia.com, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), memberikan apresiasi tinggi atas peluncuran dua buku terbaru yang mengulas perjalanan hidup dan pemikiran Eros Djarot, yakni “Autobiografi Eros Djarot” dan “Apa Kata Sahabat”.
Dua karya tersebut menjadi dokumentasi intelektual sekaligus refleksi perjalanan panjang seorang tokoh lintas zaman — seniman, sutradara, jurnalis, sekaligus aktivis yang tidak pernah berhenti menyuarakan kebenaran dan idealisme.
“Eros Djarot merupakan representasi dari keberanian berpikir bebas di tengah tekanan politik dan budaya yang sering kali mengekang kreativitas. Ia menunjukkan keteguhan seorang individu yang menolak dikotomi antara seni dan politik, antara idealisme dan realitas,” ujar Bamsoet usai menghadiri peluncuran buku tersebut di Jakarta, Minggu (19/10/2025).
Acara peluncuran turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional lintas generasi, antara lain Guntur Soekarnoputra, Guruh Soekarnoputra, Bambang Wuryanto, Marsekal TNI (Purn.) Djoko Suyanto, Aburizal Bakrie, Ganjar Pranowo, Jaya Suprana, Theo L. Sambuaga, Tonny Wenas, Bambang Harimurti, Slamet Rahardjo, Abraham Samad, serta sejumlah budayawan dan pelaku seni lainnya.
Eros Djarot: Menjembatani Dunia Seni, Politik, dan Kesadaran Publik
Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 itu menilai, kekuatan utama Eros Djarot terletak pada kemampuannya menjembatani berbagai dunia — seni, politik, budaya, dan bahkan bisnis — tanpa kehilangan integritas dan jati diri.
“Eros mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, namun tidak pernah larut. Dalam musik, film, maupun media, jejaknya selalu menggugah kesadaran publik. Ia menjadikan kreativitas sebagai bentuk tanggung jawab sosial,” tutur Bamsoet.
Dalam pandangan Bamsoet, sikap konsisten seperti yang diperlihatkan Eros merupakan hal yang semakin langka di tengah dinamika politik dan budaya yang serba berubah. Eros bukan sekadar pengkritik, tetapi pemikir yang menawarkan solusi dan arah moral di saat banyak pihak kehilangan kompas nilai.
“Eros tidak sekadar mengkritik, tetapi menawarkan gagasan. Di masa ketika banyak orang kehilangan arah moral, sosok seperti Eros menjadi kompas yang menuntun,” ujar Bamsoet menegaskan.
Inspirasi bagi Generasi Muda dan Budaya Digital
Sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia sekaligus Kepala Badan Bela Negara FKPPI, Bamsoet juga menilai kehadiran buku “Autobiografi Eros Djarot” sangat penting bagi generasi muda Indonesia yang kini tumbuh dalam arus digitalisasi dan budaya instan.
Menurutnya, kisah hidup Eros Djarot mengajarkan bahwa kreativitas sejati lahir dari keberanian berpikir, kejujuran berkarya, dan ketulusan dalam pengabdian, bukan dari pencarian popularitas sesaat.
“Generasi muda harus belajar dari sosok Eros, bahwa karya besar tidak lahir dari keinginan untuk dikenal, tetapi dari keteguhan dalam memperjuangkan nilai. Itulah esensi dari keberanian intelektual,” kata Bamsoet.
Warisan Moral dan Intelektual
Lebih dari sekadar perjalanan seni dan politik, Bamsoet menilai warisan terbesar Eros Djarot adalah keteladanan moral dan intelektual. Ia menolak menjadi sekadar “penghibur” publik, melainkan memilih jalur lebih berat — menjadikan seni sebagai sarana perjuangan dan penyadaran.
“Warisan terbesar Eros bukan sekadar karya monumental, tetapi keteladanan moral dan intelektual. Ia menolak menjadi penghibur belaka. Eros memilih menjadi pejuang yang menggunakan seni sebagai senjata. Di tengah zaman yang penuh kepalsuan, ketulusan dan keberanian seperti itu menjadi oase yang menyegarkan,” pungkas Bamsoet.
Peluncuran dua buku tersebut bukan hanya mengenang perjalanan pribadi seorang seniman besar, tetapi juga menjadi catatan sejarah tentang keberanian berpikir dan kejujuran berkarya — nilai-nilai yang kini semakin dibutuhkan dalam kehidupan kebangsaan dan kebudayaan Indonesia.







