Menguji Ambisi Ekosistem Sampah Sukamiskin: Antara Target 70 Persen dan Realita Lapangan

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, mengklaim berhasil menekan hingga 70 persen timbulan sampah melalui skema pengolahan berbasis komunitas. Namun, di balik target ambisius menuju “laboratorium sampah,” terdapat sejumlah tantangan teknis dan konsistensi warga yang menjadi pilar penentu keberlanjutan program tersebut.

​Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail, mengungkapkan bahwa produksi sampah harian di wilayahnya berkisar 4 hingga 6 ton per hari. Saat ini, skema pengolahan terbagi dalam beberapa metode, mulai dari budidaya maggot, komposter skala RW, pembuatan briket peyeumisasi, hingga pengolahan berbasis teknologi plasma dingin.

​”Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah,” ujar Sofian.

​Meski demikian, penelusuran data menunjukkan sejumlah poin krusial yang memerlukan pengawalan dan evaluasi berkala:

1. Kecepatan Perubahan Perilaku Warga

Dari total sasaran sosialisasi ke 500 rumah tangga, baru sekitar 250 rumah tangga (50 persen) yang aktif memilah dan mengolah sampah secara mandiri. Angka ini mencerminkan bahwa separuh warga sasaran masih bergantung pada jalur pembuangan konvensional. Untuk menopang 17 RW, efektivitas 17 petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah) menjadi tumpuan utama dalam menambal celah pemilahan di tingkat rumah tangga.

Baca juga:  Bikin Kapok dan Ngeri! Begini Ancaman Bagi Pembuang Sampah di Tempat Ini

2. Kerentanan Mesin Impor dan Kendala Teknis

Ambisi Sukamiskin untuk menjadi pengolah sampah lintas wilayah sempat tertahan kendala teknis. Fasilitas pengolahan teknologi plasma dingin—hasil kolaborasi dengan Unisba dan Pemprov Jabar yang berkapasitas 1,5 ton per hari—saat ini mangkrak sementara. Mesin tersebut menghentikan operasionalnya akibat menunggu pengiriman komponen pengganti dari luar negeri.

3. Proyeksi Briket dan Kesiapan Sektor Industri

Kelurahan ini sedang mematangkan pengolahan sampah non-organik menjadi briket melalui metode peyeumisasi dengan dukungan enam unit mesin. Jika berjalan optimal, kapasitasnya diproyeksikan menembus 6 ton per hari, dengan perluasan area produksi ke RW 13 seluas 200 meter persegi. Hasil briket direncanakan diserap oleh pabrik semen, industri tekstil, hingga pabrik genteng di Majalengka. Namun, kepastian off-taker (pembeli siaga) dan standarisasi kalori briket sampah menjadi tantangan industri yang wajib dipenuhi.

4. Integrasi Pangan dan Nilai Tambah Sosial

Satu di antara poin progresif dalam ekosistem ini adalah skema Sirkuler Program Karasa (Sirkuler Bandung Utama). Residuum budidaya maggot (kasgot) dimanfaatkan sebagai pupuk kebun pangan kelurahan. Hasil pakan organik tersebut terintegrasi dengan peternakan ayam petelur yang menghasilkan 60–90 butir telur per hari untuk menekan angka tengkes (stunting) dan memenuhi gizi balita serta ibu hamil di wilayah setempat.

Baca juga:  Ketua FPHJ Eka Santosa: Perizinan Eiger di KBB dan Kab. Bogor sudah Lengkap, Ono Surono: Gubernur harus Menginventarisasi Bangunan di Jabar

Peluang Jadi Lab Sampah Bandung

Dengan memanfaatkan lahan kelurahan seluas 3.000 meter persegi—yang baru terpakai sekitar 800 meter persegi—Sukamiskin menyiapkan fasilitas ekspos di lantai dua berkapasitas 20 orang sebagai laboratorium pengolahan sampah.

​Pengembangan fasilitas baru ditargetkan mulai berjalan pada akhir 2026 atau awal 2027. Jika seluruh mesin peyeumisasi dan plasma dingin kembali beroperasi penuh, Sukamiskin tidak hanya rampung mengolah sampahnya sendiri, tetapi juga berpotensi menampung limpahan sampah dari kelurahan tetangga.

​Publik kini menanti apakah ekosistem pengolahan sampah ini mampu bertahan secara mandiri saat beban volume terus meningkat, atau justru sangat bergantung pada keandalan suku cadang mesin dan konsistensi anggaran daerah. (Red/PM)