Porosmedia.com, Bandung – Di tengah bayang-bayang trauma global pasca-pandemi Covid-19, kemunculan kasus virus hanta (orthohantavirus) di sejumlah negara mulai memicu kekhawatiran domestik. Menanggapi potensi ancaman zoonosis tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung meminta masyarakat mengedepankan rasionalitas ketimbang kepanikan, meski celah penularan dari lingkungan tetap wajib diwaspadai.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung, dr. Dadan Mulyana Kosasih, SpDLP., PhD., menegaskan bahwa karakteristik virus hanta secara epidemiologis berbeda fundamental dengan Sars-CoV-2 (Covid-19).
“Kalau Covid-19 dahulu merupakan virus baru yang langsung menyebar luas antar-manusia. Sedangkan hantavirus ini penularannya lebih banyak dari tikus ke manusia,” ujar Dadan saat berbicara dalam sebuah talkshow di Radio Sonata, Rabu (20/5/2026).
Menurut Dadan, transmisi patogen ini didominasi oleh kontak erat dengan hewan pengerat (rodent), baik melalui paparan air liur, urine, maupun feses tikus yang mengontaminasi lingkungan atau bahan pangan.
Secara klinis, manifestasi awal infeksi virus hanta kerap mengecoh karena menyerupai influenza biasa, seperti demam tinggi, sefalgia (sakit kepala), mialgia (nyeri otot), dan asthenia (lemas). Kendati demikian, Dadan memaparkan adanya dikotomi dampak klinis yang signifikan secara global berdasarkan wilayah geografis.
Di kawasan Asia dan Eropa, strain virus ini cenderung bersifat nefrotoksik yang memicu gangguan fungsi ginjal akut hingga risiko gagal ginjal berat. Sebaliknya, manifestasi klinis di benua Amerika lebih dominan menyerang sistem respirasi (Hantavirus Pulmonary Syndrome), yang memicu radang paru-paru hingga asfiksia (sesak napas ekstrem).
“Perbedaan gejala ini dipengaruhi oleh jenis tikus dan strain virus yang berbeda di tiap wilayah,” urai Dadan secara mendalam.
Sebagai langkah mitigasi di tingkat lokal, Dinkes Kota Bandung mengklaim telah mengaktifkan sistem pemantauan berkala (sentinel) khusus penyakit zoonosis, yang diintegrasikan dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Melalui sistem ini, pasien yang menunjukkan indikasi klinis mengarah pada leptospirosis atau hantavirus akan langsung diisolasi secara prosedural untuk pemeriksaan penegakan diagnosis (laboratorium konfirmasi).
Tak hanya pada penanganan pasien, tim surveilans jajaran Dinkes dilaporkan turut melakukan pelacakan lingkungan (environmental tracking) guna memetakan densitas dan mengambil sampel tikus di sekitar perimeter yang dicurigai.
Berdasarkan data pemantauan ekologis yang dihimpun otoritas kesehatan setempat sejak tahun 2025, Dadan mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel tikus di wilayah Kota Bandung sejauh ini belum mendeteksi adanya status positif hantavirus.
“Sejauh ini pemantauan tikus yang kami lakukan masih negatif hantavirus. Tapi tentu pengawasan tetap dilakukan karena kemungkinan tikus pembawa virus tidak tertangkap tetap ada,” akunya, mengonfirmasi bahwa potensi risiko belum sepenuhnya berada di angka nol.
Mengingat hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang sahih mengenai transmisi hantavirus dari manusia ke manusia (human-to-human transmission), fokus utama pencegahan kini bertumpu pada intervensi hulu, yakni memutus rantai kontak dengan vektor pembawa.
Pihak Dinkes mengimbau keras agar warga Kota Bandung memperketat sanitasi lingkungan pemukiman dan menjaga higienitas pasokan pangan, terutama saat mengakses kuliner di luar rumah. Bahan makanan yang terindikasi telah terkontaminasi atau tersentuh oleh hewan pengerat dilarang keras untuk dikonsumsi.
“Virus ini bisa masuk lewat saluran pernapasan maupun pencernaan. Jadi kalau ada makanan yang sudah terkena tikus, sebaiknya jangan dimakan. Pada prinsipnya, rumah yang bersih dan bebas tikus dapat membantu mencegah berbagai penyakit yang ditularkan hewan pengerat,” pungkas Dadan. (Son/Red)







