Membaca Pembelian Lukisan Kuda Api Karya SBY oleh Low Tuck Kwong : Seni, Citra dan Relasi Elite

Avatar photo

Oleh : Anto Ramadhan

Porosmedia.com – Pembelian lukisan “Kuda Api” karya Susilo Bambang Yudhoyono oleh pengusaha nasional Low Tuck Kwong dengan nilai miliaran rupiah (6,5M, red) menarik perhatian publik. Peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan seni, tetapi juga menyentuh aspek politik, pencitraan, dan relasi antara elite ekonomi dan elite kekuasaan.
Dalam masyarakat modern, fenomena semacam ini perlu dibaca secara kritis agar publik tidak melihatnya semata sebagai aksi filantropi, melainkan sebagai bagian dari dinamika sosial dan politik.

Seni sebagai Modal Simbolik

Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa seni memiliki nilai yang disebut sebagai capital symbolique atau modal simbolik, yaitu kekuatan simbol yang dapat meningkatkan status sosial seseorang. Dalam bukunya The Field of Cultural Production, Bourdieu menegaskan bahwa karya seni tidak pernah berdiri netral, tetapi selalu terkait dengan struktur kekuasaan.
Dalam konteks ini, aktivitas melukis SBY tidak hanya bersifat personal, tetapi juga membangun citra sebagai negarawan humanis dan berbudaya. Ketika lukisannya dihargai tinggi, yang dinilai bukan hanya kualitas visual, melainkan juga posisi sosial sang pelukis.
Seni kemudian berfungsi sebagai alat legitimasi simbolik.

Baca juga:  Peradaban Masjid Menuju Generasi Madani

Filantropi dan Legitimasi Sosial

Low Tuck Kwong sebagai pendiri Bayan Resources beroperasi di sektor batubara yang kerap mendapat sorotan publik, terutama terkait isu lingkungan dan ketimpangan.
Menurut teori legitimasi sosial, perusahaan dan elite ekonomi berusaha memperoleh penerimaan masyarakat melalui kegiatan sosial. Filantropi menjadi sarana untuk membangun kepercayaan dan reputasi.
Dalam kajian komunikasi politik, Political Communication and Public Opinion in America menjelaskan bahwa citra publik dibentuk melalui simbol, narasi, dan aktivitas sosial yang dikemas secara strategis.
Pembelian lukisan dalam acara amal dapat dibaca sebagai bagian dari proses tersebut.

Relasi Elite dalam Ruang Politik

Lelang lukisan ini berlangsung dalam kegiatan yang berkaitan dengan Partai Demokrat, bertepatan juga dengan Hari Imlek. Meskipun dibingkai sebagai acara sosial, konteks politiknya tetap signifikan.
C. Wright Mills dalam The Power Elite menjelaskan bahwa elite ekonomi, politik, dan sosial cenderung membangun jaringan informal untuk mempertahankan pengaruh.
Relasi semacam ini jarang terlihat secara terbuka, tetapi hadir melalui simbol, dukungan moral, dan partisipasi dalam kegiatan sosial.
Dalam demokrasi modern, pola ini merupakan bagian dari politik simbolik.
Harga, Narasi, dan Konstruksi Makna serta
Nilai ekonomi sebuah karya seni tidak selalu mencerminkan kualitas artistik murni.
Howard Becker dalam Art Worlds menyebut bahwa nilai seni dibentuk oleh jaringan sosial, media, kolektor, dan institusi.

Baca juga:  KDM: Dana Operasional Gubernur Bukan untuk Pribadi, Tapi untuk Masyarakat

Dalam kasus ini, harga lukisan ditentukan oleh: Status pelukis, Momentum politik, Tujuan filantropi, Sorotan media. Publik pada akhirnya membeli narasi dan makna simbolik, bukan sekadar objek visual.

Tantangan Etis dan Sikap Kritis

Meskipun membawa manfaat sosial, peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan etis. Jurgen Habermas dalam The Structural Transformation of the Public Sphere mengingatkan bahwa ruang publik seharusnya menjadi arena diskusi rasional, bukan sekadar panggung pencitraan elite.
Dominasi kelompok berkuasa dalam kegiatan sosial berpotensi melemahkan partisipasi publik yang setara. Oleh karena itu, sikap kritis masyarakat ,mahasiswadan pers menjadi sangat penting.

Dosen Kajian Sastra dan Teori Kritis sekaligus pelukis di Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Ari J. Adipurwawidjana

Pembelian lukisan karya SBY oleh Low Tuck Kwong menunjukkan bahwa seni, politik, dan ekonomi saling terhubung dalam ruang publik. Peristiwa ini mencerminkan bagaimana modal simbolik, filantropi, dan relasi elite bekerja secara bersamaan dalam membentuk citra dan legitimasi.

Dosen Kajian Sastra dan Teori Kritis sekaligus pelukis di Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Ari J. Adipurwawidjana mengatakan bahwa bagi
kalangan akademik, termasuk mahasiswa, fenomena ini menjadi bahan refleksi penting tentang betapa kekuasaan beroperasi secara subtil dan laten melalui seni, peristiwa budaya, dan kegiatan sosial.
Seniman asal Unpad ini berpendapat seni senantiasa berkelindan dengan ranah ekonomi dan politik.
“Seni tidak hanya menjadi alat legitimasi, melainkan juga ruang kritis bagi masyarakat ” Ujar Ari. Dengan demikian lanjut nya, “Ranah seni menjadi–meminjam istilah Bourdieu–sebuah _champ_, medan atau arena, sebagaimana ranah kehidupan yang lain, tempat berbagai kekuatan dan kepentingan bersaing dan bernegosiasi untuk menentukan nilai dan memapankan pengaruh”

Baca juga:  Masyarakat Serbu Bazar Murah Kodam III/Slw

“Karena itu juga, harga jual sebuah karya seni tidak pernah hanya perkara estetika. papar Ari.
Sebagaimana yang pernah ditegaskan mendiang Edward Said, karya seni, seperti karya sastra, bersifat _worldly_ atau duniawi, dan nilainya bergantung pada pihak-pihak yang sedang berperan dominan pada masa tertentu di wilayah tertentu.

Dari Berbagai Sumber/AI