Pengakuan Dosa Korupsinikus kepada Abah Landoeng

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

Porosmedia.com – Abah Landoeng,
izinkan saya mengaku.
Saya Korupsinikus, dulu di Negeri Konoha Raya pernah disangka mirip Phitecantropus Erectus atawa the Java Man. Sejatinya, aku murid Abah paling rajin, Ya, rajin menghindari pelajaran kejujuran!
Menjelang 11 Juli 2026, nanti Abah tepat 100 tahun.
Saya? Tak pernah tua.
Setiap rezim, saya lahir lagi. Setiap anggaran, saya tumbuh subur menggerogoti.
Abah mengajar pakai kapur.
Saya belajar pakai proposal.
Abah menghapus salah hitung di papan tulis.
Saya menghapus jejak di laporan.
Dulu Abah bilang, jujur itu sederhana, tapi hebat dan keren.
Saya membuktikan sebaliknya:
jujur itu ribet, berisiko, dan tak ada honor transportnya, repot Bah
Abah, di usia nyaris seabad, jutaan anak Indonesia masih mengalami putus sekolah.
Maaf.
Dana pendidikannya sempat saya pinjam dan golangkan!
Bukan dicuri—diputar dulu. Lama-lama lupa dikembalikan.
Sekolah bocor?
Itu bukan kebocoran, Bah.
Itu sistem ventilasi—agar uang bisa keluar masuk tanpa ketahuan.
Sebagian murid Abah berhasil.
Sebagian lain, seperti saya, berhasil juga, tapi lewat jalur berbeda.
Masuk berita, bukan wisuda S-1, S-2, S-3, dan seterusnya.
Malah masuk KPK, bukan kampus.
Saya bangga, lewat jalur OTT pula, nama saya jadi contoh nasional.
Abah mengajar fisika:
setiap aksi ada reaksi.
Saya koreksi sedikit:
reaksi tergantung jaringan dan koneksi.
Di kelas Abah: 2 + 2 = 4.
Di kelas saya: 2 + 2 = proyek.
Kalau Abah tak bertanya, hasilnya bisa berlipat.
Sekarang Abah hampir seabad.
Saya masih berkeliaran, mencari mangsa
Karena jujur saja, selalu tak hebat dan repot pisan Bah …
Di negeri ini rajin menghafal moral lebih berharga, daripada mempraktikkannya,
saya akan selalu lulus.
Maafkan saya, Abah.
Saya murid Abah.
Tapi saya memilih jadi pelajaran—
pelajaran paling mahal
tentang betapa mahalnya kejujuran
di negeri yang gemar memperjual-belikannya.

Dan Abah, kalau suatu hari negeri ini benar-benar bersih,
mungkin itu bukan karena saya tobat,
melainkan karena murid-murid baru tak lagi diajar cara mengakali, tapi diajar cara malu.

Baca juga:  ‎MBG Bermanfaat atau Tidak? Korupsinikus: Au Ah…

Sampai hari itu tiba, izinkan saya tetap hidup:
di balik meja, di balik pasal, di balik senyum resmi.
Karena selama Abah Landoeng hanya satu,
sementara Korupsinikus berjamaah, banyak rekan Bah
kejujuran akan terus sekedar diperingati—
bukan dipraktikkan!

(Selesai …tapi Belum)