Porosmedia.com, Jakarta – Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Romo Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, seorang rohaniawan Yesuit, budayawan lintas iman, penyair, dan pelukis, telah berpulang ke rumah Bapa di Surga pada Minggu malam. Sosok yang akrab disapa Romo Mudji ini meninggalkan warisan pemikiran yang mendalam tentang estetika, kemanusiaan, dan keberagaman.
Romo Mudji bukan sekadar seorang imam Katolik. Beliau adalah seorang Polimatik Modern. Di dunia akademik, beliau dikenal sebagai Guru Besar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Namun, di luar mimbar kuliah, jemarinya lincah menari di atas kanvas dan merangkai kata dalam bait-bait puisi.
Bagi Romo Mudji, seni dan spiritualitas bukanlah dua hal yang terpisah. Melalui lukisan-lukisannya yang seringkali bergaya sketsa minimalis namun sarat makna, ia merekam kegelisahan sosial sekaligus kedamaian batin. Sebagai penyair, puisi-puisinya menjadi cermin bagi siapa saja yang merindukan dialog tulus antarmanusia.
Sebagai budayawan, Romo Mudji aktif menyuarakan pentingnya “etika publik” dalam kehidupan berbangsa. Beliau seringkali hadir dalam berbagai forum lintas agama, menjadi penyejuk di tengah dinamika perbedaan. Keberpihakannya pada nilai-nilai kebudayaan lokal menjadikannya sosok yang dihormati tidak hanya oleh umat Katolik, tetapi juga oleh para budayawan, aktivis, dan cendekiawan lintas latar belakang.
”Seni adalah cara kita menyentuh yang Ilahi dalam keseharian,” demikian semangat yang sering terpancar dari pemikiran-pemikirannya.
Berdasarkan informasi resmi, jenazah Romo Mudji akan disemayamkan di Kapel Kolese Kanisius (CC), Jakarta Pusat, mulai Senin pagi. Sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi perjalanan abadi beliau, rangkaian Misa Requiem akan diselenggarakan sebagai berikut:
- Senin, [29 Desember 2025]: Misa Requiem pukul 19.00 WIB.
- Selasa, [30 Desember 2025]: Misa Requiem pukul 19.00 WIB.
Setelah rangkaian doa di Jakarta usai, jenazah direncanakan akan dihantar menuju tempat peristirahatan terakhir di Makam Jesuit, Girisonta, Ungaran, pada Selasa malam pukul 21.00 WIB. Girisonta, yang dikenal sebagai tempat yang teduh, akan menjadi saksi bisu kembalinya sang petualang spiritual ke haribaan Sang Pencipta.
Kepergian Romo Mudji Sutrisno, SJ adalah kehilangan besar bagi dunia literasi dan kebudayaan Indonesia. Namun, melalui buku-buku filsafatnya, lukisan-lukisannya, serta inspirasi hidup yang ia bagikan, “Sang Penjaga Kedalaman” ini akan terus hidup dalam sanubari bangsa.
Selamat jalan, Romo Mudji. Terima kasih telah mengajarkan kami cara melihat dunia dengan mata batin yang lebih jernih.







