Porosmedia.com – Ini bukan sekadar kisah banjir. Ini adalah kisah tentang cinta terakhir seorang ibu—cinta yang bertahan bahkan ketika nyawanya sendiri harus dilepaskan.
Air datang tanpa aba-aba. Bukan genangan, melainkan amukan yang merobohkan harapan dalam hitungan menit.
Di sebuah rumah sederhana di Simpang Empat Merdu, seorang ibu muda berdiri di antara hidup dan mati.
Di pelukannya, ada dunia kecil yang belum sempat mengenal kerasnya hidup : anaknya.
Air sudah menyentuh atap. Dengan tangan gemetar namun tekad yang bulat, ia mengangkat buah hatinya ke celah plafon. Tak ada waktu untuk menyelamatkan harta, tak ada waktu untuk berpikir panjang. Hanya satu tujuan: anaknya harus hidup.
Rumah itu tak sanggup melawan.
Dinding menyerah, atap runtuh, dan air menyeret segalanya. Di tengah kepanikan, mata sang ibu menangkap satu harapan terakhir : sebatang pohon mangga.
Dengan sisa tenaga, ia berenang melawan arus, memanjat batang pohon sambil mendekap erat anaknya.
Angin dingin menusuk, air terus menghantam.
Dan di sanalah, dalam kondisi paling genting, ia membuat keputusan paling mulia dalam hidupnya.
Dengan sehelai kain, ia mengikat tubuh kecil anaknya ke dahan pohon.
Ia pastikan ikatan itu kuat.
Ikatan itu bukan sekadar simpul kain—
itu adalah janji seorang ibu.
Saat ia mencoba bertahan lebih tinggi, takdir berkata lain.
Kakinya terpeleset.
Pegangannya lepas.
Dalam satu detik yang sunyi, tubuh sang ibu terseret arus dan menghilang ditelan banjir yang ganas.
Ia pergi…
Tanpa sempat mengucap selamat tinggal.
Anak itu bertahan.
Terikat di dahan pohon mangga, menggigil, menangis, menunggu.
Ia tidak tahu bahwa pelukan hangat yang tadi menjaganya
adalah pelukan terakhir dari ibunya.
Ketika air surut, warga menemukannya.
Tangis pecah di antara mereka.
Seorang anak selamat—
karena nyawa seorang ibu telah menjadi tebusannya.
Ibu itu telah tiada.
Namun di Simpang Empat Merdu, orang-orang kini tahu :
cinta seorang ibu tidak pernah tenggelam.
Ia hidup di setiap doa.
Ia terukir di batang pohon mangga.
Dan ia akan selalu dikenang sebagai pengorbanan paling sunyi, namun paling abadi.
Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rojiun !







