Porosmedia.com, Bandung – Inalillahi Wainnailaihi Rojiuun, Turut berduka cita dari PT. Poros Media Indonesia. Sebelum menayangkan obituari singkat, saya melakukan verifikasi cepat ke sumber tepercaya. Hingga, Senin, 1 September 2025 (22.22 WIB), kabar wafatnya Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah (Acil Bimbo) resmi dikabarkan oleh kolega dari keluarganya. Sebelumnya, pada Januari–Februari 2025 beredar kabar serupa yang dibantah keluarga dan dipastikan hoaks oleh sejumlah media arus utama dan kanal cek fakta.
Profil & Biografi Singkat: R. Darmawan D. Hardjakusumah (Acil Bimbo)
Nama lahir: Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah (sering ditulis juga Darmawan/Acil Darmawan Hardjakusumah). Musisi, vokalis bariton, penulis lagu, dan salah satu pilar grup Bimbo dari Bandung.
Abah Acil yang lahir di kota Bandung, 20 Agustus 1943, dengan Pendidikan: Sarjana Hukum (FH Universitas Padjadjaran, 1974); Magister Kenotariatan/Notariat (Unpad, 1994).
Suami Ernawati; dikaruniai empat anak dan cucu. Di keluarga besarnya terdapat publik figur Adhisty Zara dan Hasyakyla Utami (cucu/keponakan dalam garis keluarga Bimbo).
Grup/karier: Trio Bimbo terbentuk pertengahan 1960-an, tampil di TVRI 1967; menjadi Bimbo sejak 1973 saat Iin Parlina bergabung. Repertoar meliputi balada pop, lagu sosial, dan religi.
Peran musikal Acil Bimbo: Dikenal dengan bariton bergetar khas, mengisi harmoni rendah Bimbo serta warna vokal pada nomor balada dan religi.
Nyatanya, Bandung selalu punya cara melahirkan suara yang melampaui ruang hiburan. Di antara nama-nama itu, Acil Bimbo berdiri sebagai bariton penyangga harmoni: suara rendah yang jarang tampil mencolok di depan, tetapi justru menyemen ingatan kita pada Bimbo—dari balada lembut hingga doa-doa yang mengudara tiap Ramadan. Ia bukan sekadar satu per tiga harmoni; ia adalah aksen emosional yang membuat lirik peka sosial Bimbo terasa lebih menjejak tanah.
Sejak panggung perdana TVRI 1967 hingga pergantian dekade ketika Trio Bimbo berevolusi menjadi Bimbo (1973), karier Acil adalah pelajaran tentang kesetiaan pada kualitas. Di saat banyak grup berubah mengikuti arus, Bimbo justru mematangkan ciri timbre: tenor Sam, bariton Acil, dan register Jaka yang saling mengisi, memperlihatkan bahwa kekuatan pop Indonesia pernah bertumpu pada ilmu harmoni yang tekun. Catatan katalog (Discogs/Muso) memperlihatkan konsistensi keterlibatan Acil dalam rekaman dan panggung, sebuah bukti bahwa ia bukan figur simbolik, melainkan pekerja suara yang serius.
Di luar panggung, pendidikan hukumnya (FH dan kenotariatan Unpad) menjelaskan satu hal: ketelitian. Itulah yang terdengar pada cara Bimbo mengolah tema besar—agama, kemanusiaan, hingga kritik sosial—tanpa sensasi. Bimbo berhasil menaruh doa dan tanya dalam satu bingkai musik: religi mereka tidak menggurui; kritik mereka tidak berteriak. Dalam lanskap industri yang sering memilih kebisingan, Acil justru memahat keheningan—memberi ruang bagi lirik untuk mendarat.
Warisan utamanya bukan hanya lagu-lagu yang akrab tiap Ramadhan, melainkan standar etis bermusik: mengolah isu publik dengan bahasa puitik, tertib sumber, dan empati. Ketika kabar-kabar palsu tentang dirinya beberapa kali beredar, keluarga dan jurnalisme arus utama merespons dengan verifikasi—sebuah refleksi nilai yang Bimbo ajarkan sejak lama: kebenaran perlu disiplin, bukan panik.
Karena itu, sosok bernama Acil Bimbo, cara terbaik mengenangnya adalah menjaga telinga publik: merawat harmoni, merapikan klaim, dan memulangkan musik ke tugas awalnya—mendidik perasaan. Hingga saat itu, kita menaruh hormat pada seorang bariton yang membuat pop Indonesia berdoa tanpa menunduk dan bertanya tanpa mencaci.







