RESTORASI JATI DIRI: Mengurai Benang Kusut Perjalanan Bangsa

Avatar photo

Oleh : Beni Setia Nugraha

Porosmedia.com – ​Indonesia bukan sekadar gugusan 17.400 pulau yang dipisahkan lautan, melainkan sebuah mahakarya sosiologis yang menyatukan 1.700 suku bangsa dan 900 bahasa dalam satu tarikan napas. Kekuatan kita bukan pada keseragaman, melainkan pada kebersamaan yang terikat nilai.

​Jejak kearifan lokal kita sesungguhnya adalah “konstitusi batin” yang telah lama hidup sebelum negara ini berdiri. Kita mengenal:

  • Izako Bekai, Izako Kai di Merauke (Satu hati, satu tujuan).
  • Moloku Kie Raha di Maluku Utara (Persatuan empat kesultanan).
  • Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau (Harmoni adat dan iman).
  • Sintuwu Maroso di Poso hingga Serumpun Sebalai di Bangka Belitung.

​Para pendiri bangsa (Founding Fathers) tidak menciptakan Indonesia dari ruang hampa. Mereka merajut kemajemukan ini ke dalam bingkai NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, di tengah arus modernisasi, benang-benang rajutan ini mulai tampak rapuh.

​Perubahan zaman adalah keniscayaan, namun kehilangan jati diri adalah kecelakaan sejarah. Kita seringkali terpesona pada kemajuan materiil tapi abai pada kekayaan mentalitas.

Baca juga:  Inilah Wajah Asli NEGERIku

​Mari berkaca pada Jepang. Mereka adalah anomali yang mengagumkan; melesat di puncak teknologi dunia tanpa sedikit pun menanggalkan semangat Bushido. Di sana, kehormatan dan persaudaraan adalah harga mati. Sementara di sini, kita justru sedang terjebak dalam tren “degradasi kolektif”, di mana nilai-nilai luhur dianggap sebagai beban masa lalu yang menghambat efisiensi.

​Haruskah identitas kita lumat oleh syahwat kekuasaan? Sangat disayangkan jika bangsa sebesar ini harus tercerai-berai hanya karena segelintir elit yang memilih “menari di atas penderitaan saudara sendiri”. Fenomena zero-sum game—di mana keberhasilan seseorang harus dibangun di atas kehancuran orang lain—telah menjadi penyakit kronis yang menggerus kohesi sosial.

​Penyelenggara negara seharusnya berfungsi sebagai kompas identitas, bukan sekadar manajer administratif. Mereka harus menjadi teladan bagi filosofi Sunda: “Akur jeung dulur, panceg na galur, ngajaga lembur.” (Rukun dengan sesama, teguh pada aturan/prinsip, serta menjaga keutuhan tumpah darah).

​Menjadi modern bukan berarti menjadi asing di tanah sendiri. Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa hanya akan menjadi jargon usang jika tidak diimplementasikan dalam satu gerak jantung menuju kesejahteraan bersama.

Baca juga:  Peringati HPN 2026, PWI Kota Cimahi Gandeng DPUPR dan DLH Gelar Aksi Sosial Kebersihan

​Hanya bangsa yang lemah yang membiarkan budayanya tergerus egoisme. Sudah saatnya kita kembali pada titik nol kesadaran: bahwa Indonesia tegak bukan karena kesamaan rupa, tapi karena kesamaan janji untuk saling menjaga.