​Transformasi Pasar Sarijadi: Antara Potensi Ruang Kreatif Anak Muda dan Tantangan Keberlanjutan Pasar Rakyat

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Dinamika pasar rakyat di Kota Bandung mulai menunjukkan pergeseran fungsi. Tidak lagi semata menjadi pusat transaksi kebutuhan pokok harian, Pasar Sarijadi kini disorong menjadi ruang publik kontemporer yang menyasar gaya hidup generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa di wilayah utara Kota Bandung.

​Pasar tematik dengan arsitektur kontemporer yang dikelola Perumda Pasar Kota Bandung ini berada di kawasan strategis pendidikan. Potensi ini dimanfaatkan untuk memperluas fungsi pasar sebagai alternatif ruang kumpul (nongkrong), pusat kuliner terjangkau, hingga fasilitas pelayanan publik.

​Seorang mahasiswa perguruan tinggi di kawasan Sarijadi, Dani (21), mengungkapkan bahwa keberadaan ragam tenant kuliner murah menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa.

​”Tempatnya cukup nyaman untuk kumpul. Pilihan makanannya variatif dan harganya relatif ramah di kantong mahasiswa,” ujarnya pada Kamis (5/11/2026).

​Senada dengan Dani, pengunjung lain, Syifa, menilai Pasar Sarijadi memiliki keunggulan fleksibilitas ruang dibanding pusat perbelanjaan komersial atau kafe biasa. “Selain tempat makan, ada ruang yang cukup luas untuk berinteraksi atau sekadar berdiskusi santai,” tuturnya.

Baca juga:  Menanti "Keajaiban" di Labirin Cicadas: Trotoar Cantik vs Dompet yang Cekik

​Selain aspek gaya hidup, pengelolaan Pasar Sarijadi juga mengklaim penerapan prinsip berwawasan lingkungan (eco-market) melalui integrasi pemilahan dan pengolahan sampah organik berbasis komposter untuk menekan volume buangan ke TPA. Pengelolaan ini disandingkan dengan penyediaan outlet pelayanan publik seperti Samsat serta area parkir yang memadai.

​Keberlanjutan Okupansi dan Revitalisasi Fungsi

​Kendati konsep pasar tematik kontemporer menjanjikan wajah baru bagi BUMD perdagangan, pengamat ekonomi dan kebijakan publik daerah menyatukan catatan penting terkait efektivitas pengelolaan.

​Tantangan utama pasar rakyat yang diubah menjadi ruang kreatif kontemporer adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi ruang anak muda dengan keberlanjutan pedagang komoditas harian eksistensial. Integrasi ruang seni, pameran fotografi, maupun event komunitas membutuhkan strategi konsisten—bukan sekadar promosi seremonial—agar tingkat keterisian (occupancy rate) tenant tidak fluktuatif di luar jam kuliah atau masa libur semester.

​Pengembangan Pasar Sarijadi menjadi pertaruhan bagi Perumda Pasar Kota Bandung dalam membuktikan bahwa sinergi ruang ekonomi rakyat dapat berjalan sejajar dengan target pendapatan daerah dan semangat pembangunan perkotaan yang inklusif, bersih, serta berdaya saing.

Baca juga:  ​Mempertanyakan Hidup Layak: Menakar Urgensi "Pemberontakan Konstitusional" Warga Negara

​Ke depan, keaktifan manajemen dalam merangkul komunitas lokal dan tata kelola fasilitas sanitasi-lingkungan secara konsisten akan menjadi tolok ukur utama apakah Pasar Sarijadi mampu bertahan sebagai ikon pasar rakyat adaptif di Kota Bandung. (Redaksi/PM)