Seturut M. Rizal Fadillah: Jokowi Mah Kitu Kieu Rugi Korupsinikus Menggeram: Untung dari Mana, Bos?

Avatar photo

Esai Satire Kasar – Harri Safiari

Porosmedia.com – Sejak republik ini gemar memelihara kabut, nama M. Rizal Fadillah muncul sebagai salah satu orang yang justru gemar meniupnya. Bukan untuk menghalau sepenuhnya, tapi cukup agar bau busuk di balik kabut itu tercium publik. Sebagai pemerhati politik dan kebangsaan, juga Wakil Ketua TPUA, Rizal Fadillah belakangan berdiri di garis depan bersama Trio RRT—Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dr. Tifa—menggugat satu soal yang mestinya sederhana tapi sengaja dibuat njelimet: keaslian ijazah Presiden RI ke-7, Joko Widodo.

Lewat tributesia.com (25/1/2026), Rizal Fadillah menulis artikel berjudul “Jokowi Mah Kitu Kieu Rugi”. Judulnya terdengar enteng, tapi isinya seperti paku karatan sarat virus infeksi ganas: pelan, nyeri, dan susah dicabut. Ia tidak sedang berdebat akademik, melainkan menelanjangi logika kekuasaan yang terlanjur bebal.
Di bagian awal, Rizal langsung menghajar dua kemungkinan sekaligus—tanpa ampun:

“…jika ijazah itu palsu, maka hancurlah Jokowi. Menipu rakyat bertahun-tahun dengan wajah tanpa dosa, hati membeku, dan langkah kaki seribu—lari-lari menghindar.
Jika ijazah itu asli, Jokowi tetap rugi; ia akan dikecam telah menyembunyikan begitu lama ijazah, menumbalkan banyak korban, mengganggu stabilitas, dan membangun budaya fitnah, khianat, serta ketakutan.”

Baca juga:  Pasukan Gober bersyukur, Wali Kota Bandung Berencana Naikkan Honor Petugas Harian Lepas Kebersihan

Bahasa halus? Tidak. Tapi jujur.
Dan yang lebih menyakitkan, Rizal menambahkan satu kalimat dingin:
“Asli atau palsu ijazah tidak berpengaruh pada pengusutan lebih lanjut atas harta pribadi dan keluarganya.”
Pada titik inilah redaksi—dengan sedikit ragu tapi penuh rasa ingin tahu—menghubungi Korupsinikus.
Bagi yang belum akrab: Korupsinikus bukan manusia biasa. Ia adalah fosil hidup moral bangsa—makhluk setengah penyesalan, setengah sindiran. Tubuhnya digambarkan seperti Java Man, jalannya tegap tapi kaku, pikirannya liar tapi pahit. Di Negeri Konoha Raya, ia sering disebut jelmaan patung Malin Kundang yang gagal sepenuhnya jadi batu: mulutnya masih bisa bicara, tapi kata-katanya keras dan dingin, malah nyelekit.

Legenda menyebutkan, ia dulu bersumpah tidak akan korupsi. Namun sumpah itu runtuh oleh satu amplop haram yang ke -2005 kali diterimanya. Sejak saat itu, ia mendadak “membatu”—bukan karena kutukan ibu, tapi karena rasa malu yang tak pernah tuntas. Berhasil berkiprah seperti kita-kita, Korupsinikus katanya, secara ajaib dibantu kolaborasi halilintar dan konsletan listrik serta Wi Fi G7, jlegur suatu saat beberapa tahun lalu melumerkan patung batunya, lalu hidup lagi seperti kita-kita ini.
“Gini aja lah,” kata Korupsinikus tanpa basa-basi. “Kalau ijazah itu asli, tunjukkan. Jangan pakai drama ngayayay. Jangan sandiwara. Jangan bikin rakyat berantem di warung kopi sampai grup keluarga pecah berantakan!”

Baca juga:  Indonesia Terancam Kehilangan Gajah Kerdil Borneo: Populasi Hanya Puluhan Ekor

Runtuh Institusi …

Korupsinikus, mendengus.
“Kalau tidak asli, bilang. Jujur itu memang berat. Apalagi buat orang yang keburu dipuja sebagai simbol kesederhanaan. Tapi bangsa ini lebih butuh kebenaran ketimbang dongeng sebelum bobo.”

Saat redaksi membacakan bagian tulisan Rizal Fadillah soal potensi runtuhnya institusi—UGM, KPUD, KPU, Polisi, DPR—Korupsinikus tertawa pendek. Bukan lucu. Lebih mirip suara besi digesek, bikin gigi gemeretak dan ngilu.
“Kalau sampai palsu,” katanya, “itu bukan cuma soal satu orang. Itu soal negara yang pura-pura bodoh. Entah mereka ikut memalsukan, memproteksi, atau sekadar memilih tutup mata. Semua sama busuknya. Tinggal beda kadar.”
Ia berhenti sejenak, lalu menohok:
“Dan kalau asli pun, tetap saja rugi. Untung dari mana, Bos?

Korupsinikus lalu membacakan ulang tiga poin Rizal Fadillah, tapi dengan nada yang lebih telanjang dan menusuk:
1.Budaya jujur dihancurkan—karena kebenaran disimpan seperti barang selundupan.
2.Beban batin berkepanjangan—orang yang menyembunyikan kebenaran tak pernah benar-benar tidur nyenyak.
3.Anak diseret ke gelanggang—Gibran tak lagi berdiri sebagai individu, tapi sebagai kelanjutan masalah.
“Jadi mau asli atau palsu,” simpulnya, “tetap saja buntung. Ini bukan soal ijazah lagi. Ini soal watak kekuasaan yang alergi transparansi.”
Ia menutup dengan kalimat paling kejam, nyaris berbisik:
“Kalau dari awal jujur, mungkin tak jadi presiden. Tapi setidaknya masih jadi manusia biasa!.”
(Selesai …tapi belum)