Refleksi Kepergian Try Sutrisno: Sosok Prajurit di Persimpangan Sejarah

Avatar photo

Porosmedia.com– ​Refleksi Kepergian Try Sutrisno: Sosok Prajurit di Persimpangan Sejarahpenengah” yang mampu menjaga harmoni di tengah dinamika politik yang mulai memanas di akhir masa jabatan Presiden Soeharto.

​Lahir dari keluarga sederhana di Surabaya—putra seorang sopir ambulans—karakter Try Sutrisno ditempa oleh kesulitan masa revolusi. Pengalamannya menjadi penjual koran dan rokok di usia 13 tahun, hingga menjadi kurir bagi Batalyon Poncowati, membentuk pribadi yang dikenal rendah hati dan religius.

​Secara pribadi, ia dikenal sebagai sosok yang low profile. Di kalangan TNI, ia adalah representasi dari perwira yang menjunjung tinggi loyalitas namun tetap memiliki sisi humanis. Berbeda dengan beberapa figur militer di eranya yang cenderung keras, Try dikenal dengan pendekatan persuasif, sebuah karakter yang membuatnya diterima oleh berbagai kalangan, baik militer maupun sipil.

Karier militer Try Sutrisno adalah perjalanan prestasi yang lengkap. Sebagai lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1959, ia tidak hanya mahir dalam strategi lapangan tetapi juga dalam manajemen organisasi.

Baca juga:  Sinergi Pemuda Bandung: Ramadhan Impact 2026 Gerakkan Ekonomi UMKM dan Kepedulian Sosial

Ajudan Presiden (1974): Titik balik kariernya dimulai saat terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Posisi strategis ini memberinya pemahaman mendalam tentang tata kelola negara.

Kepemimpinan Puncak: Keberhasilannya menjabat sebagai KASAD (1986) dan kemudian Panglima ABRI (1988) menunjukkan kepercayaan besar negara padanya. Di bawah kepemimpinannya, ia harus menavigasi ABRI dalam menghadapi isu-isu keamanan domestik yang kompleks.

Terpilihnya Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden pada 11 Maret 1993 sering disebut sebagai “kemenangan” fraksi militer (melalui manuver di MPR) sebelum Presiden Soeharto menentukan pilihannya sendiri. Meski berada dalam lingkaran kekuasaan tertinggi, ia tetap menjaga integritasnya.

​Setelah purnatugas pada 1998, di tengah badai Reformasi, Try Sutrisno memilih jalan yang tenang. Ia tidak ambisius mengejar kekuasaan baru, melainkan lebih banyak berperan sebagai sesepuh bangsa di organisasi purnawirawan dan memberikan masukan-masukan kebangsaan yang tetap berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945.

​Sepanjang masa baktinya, beliau dianugerahi berbagai tanda kehormatan tertinggi, termasuk Bintang Republik Indonesia dan Bintang Mahaputera. Penghargaan ini bukan sekadar medali di dada, melainkan simbol dari dedikasi totalnya dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke.

Baca juga:  Maranatha Job Fair 2025: Sinergi atau Seremonial?

Meninggalnya Try Sutrisno hari ini adalah momentum bagi bangsa untuk mengingat kembali nilai “Prajurit Sapta Marga” yang sesungguhnya. Di tengah polarisasi politik modern, gaya kepemimpinan Try yang tenang, tidak konfrontatif, dan setia pada konstitusi menjadi teladan yang mulai langka.

​Beliau membuktikan bahwa militer bisa menjadi oase ketenangan dalam politik jika dijalankan dengan etika dan rasa cinta pada tanah air yang tulus. Indonesia kehilangan seorang Bapak, namun nilai-nilai yang ia tanamkan akan tetap hidup dalam sejarah militer dan demokrasi kita.

Selamat jalan, Jenderal. Tugasmu telah usai, baktimu abadi.