Proyeksi Laba AYAM di Tengah Ekspansi Utang: Optimisme MBG atau Beban Operasional?

Avatar photo

Porosmedia.com, Jakarta  – Emiten perunggasan PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) mematok target pertumbuhan laba bersih yang cukup konservatif di angka 6% hingga 8% untuk tahun buku 2026. Meski menyandarkan harapan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan segmen Day Old Chick (DOC), potret keuangan perusahaan menunjukkan adanya peningkatan liabilitas yang memerlukan pengawasan ketat.

​Direktur Utama AYAM, Sri Mulyani, mengonfirmasi bahwa tulang punggung pendapatan perusahaan masih tertumpu pada penjualan Parent Stock atau DOC. Dengan proyeksi harga jual di kisaran Rp7.000 – Rp7.500 per ekor dan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang membengkak di angka Rp4.600 – Rp6.000, margin keuntungan perusahaan sangat bergantung pada stabilitas harga pakan dan daya serap pasar.

​”Kontribusi laba terbesar masih diproyeksikan dari segmen DOC,” ujar Sri Mulyani dalam paparan publik terbarunya. Walau manajemen mengklaim ada potensi pertumbuhan hingga 10%, angka ini dinilai sangat bergantung pada efisiensi biaya operasional yang cenderung fluktuatif.

​Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian investor adalah peningkatan liabilitas perusahaan pada akhir 2024. Manajemen berdalih bahwa penambahan utang tersebut dialokasikan untuk ekspansi aset biologis dan infrastruktur kandang.

Baca juga:  Menepis Stigma ‘Pesanan Politik’, APAK dan SBNI Tegaskan Independensi

​Skema pembiayaan yang mengandalkan tenor dua bulan dari pemasok pakan serta pinjaman bank menjadi strategi yang berisiko jika arus kas (cash flow) tidak dikelola dengan presisi. Meski manajemen mengeklaim kondisi keuangan tetap terkendali, ketergantungan pada skema utang untuk menjaga likuiditas operasional menjadi sinyal bahwa perusahaan sedang melakukan manuver finansial yang cukup agresif di tengah ketidakpastian industri poultry.

​AYAM mencoba menangkap peluang dari program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memasok produk ke sekitar 50 dapur di wilayah Solo dan Yogyakarta melalui fasilitas Rumah Potong Ayam (RPA) milik sendiri.

​Namun, tantangan besar menanti pada tahun 2026 saat optimalisasi produksi telur baru dimulai. Pertanyaannya, sejauh mana infrastruktur distribusi dan kapasitas layer yang dikembangkan sejak 2025 mampu mengimbangi permintaan besar tanpa menggerus margin laba bersih akibat biaya logistik.

​Dalam upaya menjaga akurasi informasi pasar, manajemen juga menepis rumor mengenai kuota Grand Parent Stock (GPS). Perusahaan menegaskan bahwa kuota untuk tahun 2026 hanya berada pada kisaran 20.000 hingga 25.000, membantah spekulasi angka 90.000 yang sempat beredar. Pembatasan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kapasitas kandang yang tersedia saat ini.

Baca juga:  Polemik KJA Pangandaran: Ucapan “Bodoh” Susi Pudjiastuti Dinilai Serangan ke Institusi, Akademisi Unpad Pertimbangkan Jalur Hukum

​Hingga saat ini, AYAM menyatakan belum memiliki rencana untuk melakukan aksi korporasi seperti penerbitan saham baru (right issue) untuk menambah modal. Strategi ekspansi akan dilakukan secara selektif guna menjaga stabilitas likuiditas di tengah persaingan pasar yang kian kompetitif.

Sumber : Kabarbursa.

Foto : Net