Porosmedia.com, Bandung – Dunia literasi dan kebudayaan Indonesia kembali diperkaya dengan kehadiran karya biografi terbaru. Buku berjudul “Jaya Suprana Sang Penggagas” karya penulis dan jurnalis Aendra Medita resmi diluncurkan dan dibedah di Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Jalan Dipatiukur No. 35, Bandung, pada Kamis (5/11/2026).
Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB ini menjadi ruang refleksi atas rekam jejak pemikiran, kontribusi kebudayaan, serta gagasan besar Jaya Suprana di bidang kelirumologi dan humorologi bagi perjalanan bangsa.
Menyoroti Rekam Jejak Tokoh Multitalenta
Dalam pengantarnya, Aendra Medita mengungkapkan bahwa buku ini memotret perjalanan panjang Jaya Suprana tidak hanya sebagai seorang pengusaha terkemuka, melainkan juga sebagai budayawan, komponis, pianis, kolumnis, dan aktivis kemanusiaan. Melalui karya tulisnya yang konsisten, Jaya Suprana memperkenalkan konsep-konsep unik seperti “kelirumologi” (ilmu tentang kekeliruan yang dilembagakan) dan “humorologi”, yang mengajak publik mencermati dinamika sosial secara cerdas, kritis, namun tetap reflektif.
Aendra juga mendokumentasikan proses di balik pendirian Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 1990, yang hingga kini terus menjadi wadah apresiasi terhadap berbagai prestasi dan kreasi anak bangsa.

”Sejak tahun 2000 saya mengenal sosok Jaya Suprana,” kenang Aendra di sela-sela acara. “Hampir dua hari sekali beliau rutin mengirimkan gagasan dan tulisan kepada saya, hingga akhirnya setelah melalui proses penulisan yang mendalam, buku ini berhasil rampung,” imbuhnya.
Perspektif Akademis dan Relasi Lintas Zaman
Peluncuran dan bedah buku ini dihadiri oleh beragam kalangan, mulai dari akademisi, budayawan, mahasiswa, hingga pengamat sosial. Acara dibuka secara resmi oleh budayawan sekaligus mantan Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia.
Sementara itu, sesi bedah buku menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, yakni Pakar Semiotika Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Acep Iwan Saidi (yang akrab disapa Kang AIS). Dalam pemaparannya, Prof. AIS mengulas bagaimana Jaya Suprana meramu kritik sosial melalui koridor seni dan budaya.
Menanggapi pertanyaan peserta diskusi, Prof. AIS turut mengenang kedekatan khusus antara Jaya Suprana dan Presiden ke-4 Republik Indonesia, (Alm.) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurutnya, Jaya Suprana merupakan salah satu tokoh yang mampu membangun komunikasi akrab dan cair dengan Gus Dur melalui pendekatan humor khas.
Prof. AIS mengenang salah satu momen ikonik dalam program bincang-bincang Jaya Suprana dengan Presiden Gus Dur di televisi pada tahun 2000. Saat itu, Gus Dur melontarkan humor satir legendaris mengenai institusi kepolisian: bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia—pertama, (Alm.) Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso; kedua, patung polisi; dan ketiga, polisi tidur.
”Ini adalah humor yang luar biasa,” kenang Prof. AIS. “Itulah ciri khas Gus Dur: sederhana, spontan, namun sarat akan sindiran sosial dan politik yang tajam.”
Menatap Modernitas dengan Kepekaan Kritis
Menutup rangkaian acara bedah buku, Prof. AIS memandang Jaya Suprana sebagai representasi figur pemikir yang melintasi zaman. Ia berharap kehadiran buku “Jaya Suprana Sang Penggagas” dapat menjadi referensi literatur yang mencerahkan bagi generasi muda untuk merawat tradisi berpikir kritis, melestarikan budaya lokal, serta mempertahankan kepekaan sosial di tengah arus modernisasi.







