Porosmedia.com, Bandung – Sorotan publik kembali mengarah pada Perumda Tirta Wening (PDAM) Kota Bandung. Kritik tajam datang dari Raksa Bandung, sebuah lembaga pemerhati pelayanan publik di Kota Bandung, yang menilai perusahaan air minum milik daerah ini membutuhkan pembenahan menyeluruh, baik secara manajerial maupun pelayanan.
Yoga DH Dipura, Ketua Raksa Bandung, mengungkapkan bahwa sejumlah persoalan mendasar masih membayangi tubuh perusahaan, mulai dari tata kelola internal hingga kinerja pelayanan publik.
“Berdasarkan pengamatan kami, masih ada kebocoran yang patut mendapat perhatian serius, baik di level internal maupun dalam pelayanan kepada masyarakat,” tegas Yoga.
Ia juga menyoroti penggunaan anggaran yang perlu lebih disiplin dalam koridor peraturan, penguatan etika kerja dan budaya organisasi, serta penerapan reward and punishment yang konsisten.
“Langkah penegakan disiplin yang tegas akan menjadi efek jera yang melindungi nama baik perusahaan. Pelayanan publik seharusnya menjadi prioritas utama, sementara inovasi yang sudah ada pun perlu dibuktikan efektivitasnya, bukan sekadar rencana di atas kertas. Contohnya, aplikasi AA LINCAH yang dikabarkan menelan anggaran hingga sekitar Rp8,5 miliar di masa direksi sebelumnya, hingga kini tidak jelas pemanfaatannya,” ujar Yoga.
Plt Dirut Tono Rusdiantono: Tiga Agenda Prioritas hingga Akhir 2025
Sejak 17 Juni 2025, jabatan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Tirta Wening diemban oleh Tono Rusdiantono. Sebelumnya ia merupakan Dewan Pengawas perusahaan sekaligus menjabat sebagai Asisten Daerah Bidang Administrasi (Asda III) Pemkot Bandung. Masa tugasnya sebagai Plt Dirut direncanakan hingga Desember 2025.
Di tengah keterbatasan waktu dan beban persoalan yang menumpuk, Tono menetapkan tiga program prioritas untuk menata ulang kinerja Perumda Tirta Wening:
1. Menekan Kebocoran Air Bersih
Tingkat kebocoran distribusi air masih cukup tinggi, sekitar 38 persen, sebagian besar akibat infrastruktur pipa yang sudah menua.
2. Perluasan Layanan Air Bersih
Saat ini layanan baru menjangkau sekitar 170.000 pelanggan atau hanya 35 persen dari total penduduk Kota Bandung. Perluasan layanan menjadi prioritas agar distribusi lebih merata.
3. Perbaikan Akurasi Meteran Air
Ketidaksesuaian data penggunaan air dengan pendapatan menjadi sorotan, sehingga pembenahan meteran dan sistem pencatatannya masuk agenda mendesak.
“Tiga agenda ini menjadi fokus utama hingga akhir masa jabatan saya. Tujuannya jelas: efisiensi, pemerataan layanan, dan optimalisasi pendapatan,” jelas Tono.
Tantangan Pelayanan dan Keterbatasan Sumber Daya
Tono juga mengakui keluhan pelanggan terkait pasokan air yang kerap hanya mengalir dua hari sekali. Target perbaikan yang realistis adalah ketersediaan air mengalir minimal 12 jam per hari. Namun, kendala utama terletak pada keterbatasan sumber bahan baku air bersih dan tingginya kebocoran jaringan distribusi.
“Kami memahami keresahan pelanggan. Perbaikan bertahap dilakukan, termasuk mengurangi kebocoran yang signifikan di titik-titik rawan, agar debit air dapat ditingkatkan,” pungkasnya.
—
Catatan Redaksi:
Porosmedia.com memandang bahwa keberhasilan pembenahan Perumda Tirta Wening akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi program prioritas, keberanian melakukan evaluasi internal, serta komitmen terhadap transparansi publik.







