Komitmen Pelestarian Budaya, Bupati Bandung Sambut Hangat Kehadiran Koran Sunda Langlang Budaya

Avatar photo

Porosmedia.com, Kab. Bandung – Di tengah cuaca dingin dan rintik hujan yang menyelimuti kawasan Pangalengan, Bupati Bandung Dadang Supriatna menunjukkan keberpihakan nyata terhadap pelestarian kearifan lokal. Di sela-sela padatnya agenda “Bunga Desa” dalam rangka Hari Desa Nasional 2026, Kang DS—sapaan akrabnya—menyempatkan diri menerima audiensi kru koran berbahasa Sunda, Langlang Budaya, Jumat (23/1/2026).

​Langkah ini dinilai sebagai sinyal positif kepemimpinan yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan aspek literasi dan identitas kultural masyarakat Sunda.

​Membuka lembar demi lembar edisi perdana Langlang Budaya, Bupati Dadang Supriatna tampak memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai, di tengah gempuran digitalisasi dan penggunaan bahasa asing, kehadiran media cetak yang konsisten menggunakan bahasa Sunda secara penuh adalah sebuah keberanian sekaligus kebutuhan.

“Alhamdulillah, kiwari masih keneh aya koran Langlang Budaya anu full nganggo basa Sunda,” ujar Bupati dengan dialek Sunda yang khas. Menurutnya, koran ini bukan sekadar saluran informasi, melainkan benteng pertahanan jati diri bangsa.

Baca juga:  Jendral Dudung Jadi Guru Materi Pancasila, Anak SD Pun Gembira

​Lebih jauh, Bupati menekankan bahwa pelestarian bahasa tidak bisa berhenti pada level seremonial. Ia menginstruksikan agar muatan lokal bahasa dan adat Sunda diperkuat di seluruh jenjang pendidikan di Kabupaten Bandung, mulai dari TK hingga SMP.

“Diajar basa Sunda, utamana undak-usuk basa, penting pisan pikeun ngabentuk karakter barudak bangsa supaya miboga tata krama, sopan santun, jeung jati diri,” tegas Dadang Supriatna.

​Senada dengan hal tersebut, praktisi pendidikan dari SMP Itikurih Hibarna menyatakan bahwa bahasa Sunda adalah instrumen pembentuk karakter someah (ramah) dan hade ka semah (baik kepada tamu). Namun, tantangan besar kini menghantui: penurunan jumlah penutur aktif di kalangan Generasi Z.

​Humas SMP Itikurih Hibarna, Cecep, menambahkan bahwa tanggung jawab ini tidak bisa hanya dipikul oleh institusi pendidikan. Ada kebutuhan mendesak akan sinergi antara sekolah dan lingkungan rumah.

“Teu cukup di sakola wungkul. Di imah, kolot kudu sami-sami ngabiasakeun maké basa Sunda,” ungkap Cecep. Ia menekankan bahwa kebiasaan di rumah adalah fondasi utama agar bahasa daerah tidak dianggap asing oleh anak cucu sendiri.

Baca juga:  Pangdam III/Slw: "Pemimpin Hebat karena Prajuritnya Luar Biasa

​Berdasarkan data survei tahunan, tren penggunaan bahasa daerah memang menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Kehadiran Langlang Budaya di tengah masyarakat diharapkan mampu menjadi katalisator bagi gerakan literasi Sunda yang lebih masif.

​Kehadiran media seperti ini bukan sekadar bisnis penerbitan, melainkan sebuah ikhtiar kultural untuk memastikan bahasa Sunda tetap hidup, relevan, dan terus diwariskan di tengah derasnya arus globalisasi.***