Ika Sadaya Unpad & Disbudpar Bandung Gelar Pameran Jejak Mesin Tik Jakob Sumardjo: “Jangan Pernah Kapok Menulis!”

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – 29 Agustus 2025, Ikatan Alumni Sastra dan Budaya (Ika Sadaya) Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menggelar pameran tunggal bertajuk “Ngobrol di Museum: Jejak Mesin Tik Maestro Jakob Sumardjo” pada 26–28 Agustus 2025 di Museum Kota Bandung.

Selama tiga hari, museum menjadi ruang penghormatan bagi Jakob Sumardjo — intelektual, sastrawan, sekaligus maestro literasi Indonesia — yang sepanjang hidupnya konsisten menulis menggunakan mesin tik.

67 Buku, Ratusan Karya, dan Mesin Tik Tua

Hikmat Gumelar, selaku pengarah acara, menjelaskan bahwa Jakob Sumardjo telah menulis 67 buku serta ratusan artikel, makalah, cerpen, dan puisi, seluruhnya dengan mesin tik.

Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 26 Agustus 1939, Jakob kemudian hijrah ke Bandung pada tahun 1962 dan menetap di kota Bandung .

“Jakob Sumardjo adalah orang Jawa yang ‘nyunda’. Ia begitu tekun mengeksplorasi budaya Sunda hingga melahirkan puluhan karya penting,” ujar Hikmat.

Dalam otobiografinya, Jakob mengakui Saini KM dan Ajip Rosidi sebagai guru penting dalam perjalanannya. Dari Ajip Rosidi, ia mempelajari banyak hal, termasuk pantun Sunda, yang kemudian menjadi pintu masuk bagi Jakob dalam merumuskan filsafat budaya Sunda.

Baca juga:  Perahu Serbu Hasil Inovasi Prajurit Yon Zipur 3/YW Untuk Negeri
Pengurus dari Ika Sadaya berpoto dengan Jakob Sumardjo dan Istri (duduk di tengah)
Salah satu pengunjung sedang mencoba Mesin Tik Jakob Sumardjo
Hikmat Berdo’a, sutradara Pameran Jejak Mesin Tik Jakob Sumardjo

Sejak 2004, Jakob mulai lebih intens menulis tentang kesundaan. Semua karya itu ditulis dengan mesin tik yang ia beli tahun 1970 dari hasil kerja keras menulis.

Meski secara finansial tak selalu menguntungkan, Jakob tidak pernah berhenti menulis.

“Kalau saya hanya terus mengeluh, saya tidak akan bisa menulis. Saya tidak bisa menyebarkan gagasan-gagasan saya,” ungkap Jakob dalam salah satu catatannya.

Instalasi Seni dan Anugerah Jatiningsih Apu

Pameran ini juga menghadirkan instalasi seni bertema Air, Batu, dan Tanah yang digarap oleh seniman Herry Dim. Selain itu, Jakob Sumardjo menerima Anugerah Jatiningsih Apu sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya di dunia literasi dan kebudayaan.

“Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik bersama kawan-kawan panitia,” ujar Herry Dim merendah.

Pameran semakin semarak dengan suguhan monolog, musik, pembacaan puisi, hingga pertunjukan tari yang memperkuat nuansa perayaan intelektual Jakob Sumardjo.

Antusiasme Publik dan Apresiasi Pemerintah

Menurut Ketua Panitia, Desmanjon, kegiatan ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

“Hari pertama tercatat lebih dari 300 pengunjung di buku tamu. Karena bertepatan dengan ulang tahun ke-86 Jakob Sumardjo, banyak sahabat dan kolega beliau yang hadir,” kata Desmanjon.

Baca juga:  Polemik Vonis "Identik" di PN Bandung, Independensi Majelis Hakim Jadi Sorotan

Di acara penutupan, perwakilan Disbudpar Kota Bandung, Aceng Ismatuloh, turut hadir memberikan apresiasi.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini. Disbudpar Kota Bandung selalu terbuka terhadap kegiatan literasi, sastra, dan budaya semacam ini,” ujar Aceng.

Jakob Sumardjo: Maestro yang Tak Pernah Kapok Menulis

Jakob Sumardjo adalah contoh nyata bahwa menulis bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup. Dengan mesin tik tuanya, ia melahirkan ide-ide yang memperkaya jagat kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, khususnya kajian tentang Sunda.

Pameran ini bukan hanya bentuk penghormatan, melainkan juga pengingat bagi generasi muda: menulis adalah cara melawan lupa, cara merawat budaya, dan cara menjaga warisan intelektual bangsa.