Gonjang-ganjing Perang Iran vs Israel & AS, Korupsinikus: Pangkas Juga Program Pemerintah

Avatar photo

Esai Kontemplatif : Harri Safiari

Porosmedia.com – Sadarlah wahai kawan, kita ini terlalu sering berperan pura-pura stabil. Faktanya, ada satu titik sempit yang diam-diam memegang nasib banyak negara: Selat Hormuz!
Bagi Korupsinikus, selat itu bukan sekadar jalur laut.
Ia adalah “urat nadi ekonomi global yang bisa tiba-tiba kena kolesterol plus kram geopolitik.”
Sejak konflik memanas antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS), dunia seperti menahan napas sambil melihat grafik harga minyak yang naik turun layaknya iman pejabat menjelang audit.
Sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Artinya, satu percikan konflik di sana bisa menjalar jadi api di dapur rakyat di sini.
“Perang itu jauh,” kata Korupsinikus kepada saya,
“tapi harga minyak itu sangat nasionalis—dia cepat sekali pulang ke dalam negeri.”

Trump, NATO, dan Ego yang Kehilangan Tepuk Tangan
Korupsinikus juga menyoroti sikap Donald Trump yang disebut-sebut mulai uring-uringan karena kurangnya dukungan dari NATO.
“Kalau sekutu mulai ragu,” ujar Korupsinikus,
“itu bukan cuma masalah strategi militer. Itu tanda bahwa perang sudah mulai kehilangan sponsor moral.”
Dalam dunia politik global, dukungan bukan soal benar atau salah.
Tapi soal siapa yang masih mau ikut menanggung biaya—baik biaya perang maupun biaya reputasi.
“Dan kalau negara besar mulai saling sindir,” lanjutnya,
“negara kecil biasanya kebagian dua hal: inflasi dan esensi penghematan.”

Baca juga:  Ijazah, Banjir, dan Negeri yang Salah Bertanya - Korupsinikus Angkat Bicara

Indonesia: Tenang atau Terlambat?
Sementara Filipina sudah mulai bicara tentang krisis energi, Indonesia masih tampak kalem—atau mungkin terlalu percaya diri.
Korupsinikus menghela napas panjang.
“Tenang itu bagus. Tapi kalau terlalu tenang, bisa jadi karena belum menghitung risiko.”
Menurutnya, ancaman bukan pada perang itu sendiri, tapi pada efek berantainya:
harga BBM naik
biaya logistik melonjak
daya beli rakyat melemah
“Dan yang paling cepat merasakan itu bukan pejabat,” katanya,
“tapi ibu-ibu yang mendadak harus mengurangi jumlah cabai anggaran lauk-pauk di dapur.”

Pangkas Gaji? Itu Baru Pemanasan
Terkait usulan anggota DPR soal efisiensi, termasuk pemotongan gaji pejabat, Korupsinikus justru setuju—dengan catatan.
“Potong gaji itu bagus,” katanya,
“tapi itu baru trailer. Film utamanya: pangkas pemborosan!”
Ia lalu merinci dengan gaya yang membuat notulen rapat bisa berkeringat:
Perjalanan dinas yang lebih sering berfoto daripada bekerja.
Rapat koordinasi yang menghasilkan lebih banyak konsumsi daripada keputusan.
Program seremonial yang megah tapi miskin dampak.
“APBN kita ini bukan warisan kolonial,” sindirnya,
“yang bisa diperah terus tanpa rasa bersalah.”

Baca juga:  “Tertawa di Atas Luka: Mengapa Janda Kerap Jadi Sasaran Candaan Laki-Laki?”

Secuplik Dialog: Korupsinikus vs Pejabat Energi
Dalam imajinasi saya—yang mungkin terlalu realistis—terjadi percakapan berikut:
Pejabat:
“Kami sudah melakukan efisiensi sesuai arahan.”
Korupsinikus:
“Efisiensi atau kosmetik anggaran?”
Pejabat:
“Kami mengurangi beberapa pos belanja.”
Korupsinikus:
“Yang dikurangi itu lemak atau cuma bedaknya?”
Pejabat (mulai gelisah):
“Kami juga menjaga stabilitas energi nasional.”
Korupsinikus:
“Stabil di laporan, atau stabil di SPBU atau di kios BBM?”
Ruangan mendadak hening.
Bukan karena semua setuju—
tapi karena semua merasa tersindir – Korupsinikus memang lazim sundur-sindir!

Siaga Energi: Jangan Tunggu Krisis Jadi Tradisi
Korupsinikus menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh menunggu sampai situasi memburuk.
“Selat Hormuz itu jauh, tapi efeknya bisa sampai ke gorengan di pinggir jalan.”
Langkah yang ia dorong:
Memperkuat cadangan energi nasional
Mengurangi ketergantungan impor
Memastikan distribusi tidak bocor di tengah jalan
“Karena kebocoran itu,” katanya,
“seringkali bukan di pipa minyak—tapi di pipa kekuasaan!”

Pangkas yang Tak Perlu, Selamatkan yang Mendesak
Di akhir percakapan, Korupsinikus terdengar lebih lirih—dan justru lebih berbahaya.
“Perang tidak pernah benar-benar jauh,” katanya.
“Ia selalu menemukan cara untuk masuk ke kantong rakyat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menutup dengan kalimat yang terasa seperti tagihan yang tak bisa ditunda:
“Kalau hari ini kita tidak memangkas yang tidak perlu,
besok keadaan yang akan memangkas segalanya—
termasuk kepercayaan rakyat.” (Selesai).