Farhan Harus Segera Merangkul Akademisi, Tokoh Masyarakat, LSM dan Organisasi Publik Demi Menyelamatkan Tata Kelola Pemkot Bandung 

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Arah penyelenggaraan pemerintahan Kota Bandung dalam beberapa bulan terakhir memasuki fase yang memerlukan perhatian serius. Berbagai persoalan muncul secara simultan dan belum tertangani secara optimal, sehingga menimbulkan persepsi publik bahwa tata kelola pemerintahan berjalan kurang stabil.

Situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Jika tidak dilakukan langkah korektif yang sistematis, Kota Bandung berpotensi menghadapi “bom waktu kebijakan” yang dapat menghambat pembangunan serta menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kota.

Otoritas tertinggi kebijakan, dalam hal ini Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, perlu mengambil langkah cepat dan strategis.
Sebagai Pengamat Kebijakan Publik dan Politik, saya menilai Farhan harus segera membuka ruang dialog yang lebih luas dengan melibatkan akademisi, tokoh agama, tokoh budaya, aktivis LSM, serta organisasi kemasyarakatan.

Langkah partisipatif ini bukan hanya penting, tetapi mendesak. Kota Bandung memiliki sumber daya intelektual, modal sosial, dan kekuatan masyarakat sipil yang besar. Energi positif tersebut harus segera dikonsolidasikan untuk memperbaiki arah pembangunan kota.

Mengapa Farhan harus mendengar semua pihak? Ini alasannya:

Baca juga:  Haramain: Kiblat Ibadah, Medan Perebutan Kekuasaan Global

1. Perspektif Akademisi: Analisis Berbasis Data

Akademisi dapat memberi pandangan objektif dan ilmiah mengenai problem struktural Kota Bandung—baik tata kelola, anggaran, pelayanan publik, maupun arah kebijakan strategis.

2. Perspektif Tokoh Agama dan Budaya: Kebijakan Bermoral dan Berakar pada Kearifan Lokal

Tokoh agama dan budaya dapat memperkuat nilai etika, moral publik, serta kearifan lokal agar kebijakan tidak hanya berbasis teknokrasi, tetapi juga berakar pada karakter masyarakat Bandung.

3. Perspektif LSM dan Ormas: Pengawasan Publik

Kelompok masyarakat sipil berperan penting dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas. Keterlibatan mereka dapat memperkecil risiko kesalahan kebijakan dan mencegah ketidakselarasan prioritas pembangunan.

Tiga Langkah Mendesak Wali Kota Bandung

1. Membentuk Dewan Penasehat Wali Kota

Dewan ini diisi tokoh akademik, budaya, agama, LSM, dan komunitas profesional.
Tugasnya: memberikan nasihat kebijakan, analisa risiko, hingga rekomendasi berbasis data.

2. Meluncurkan Program “Bandung Berdaya”

Program partisipasi publik yang melibatkan masyarakat dalam: penyusunan kebijakan, evaluasi program pemerintah, kontrol sosial berbasis komunitas.

3. Membuka Ruang Konsolidasi Rutin

Baca juga:  Ketua MPR RI Bamsoet Ingatkan Ancaman Kemajuan Teknologi

Pertemuan berkala antara pemerintah, pakar, masyarakat sipil, dan komunitas agar jalannya pemerintahan selalu terkoreksi, terukur, dan terpantau.

Rekomendasi Program Strategis Tambahan

1. Inisiatif “Bandung Hijau”

Fokus pada: penghijauan kota, pengolahan sampah terintegrasi,  konservasi air.

2. Program “Bandung Cerdas”

Prioritas peningkatan kualitas SDM melalui: pelatihan guru dan siswa, beasiswa untuk siswa kurang mampu, digitalisasi sekolah.

Analisis: Argumen Baik, Buruk, dan Netral

Argumen Baik

Pendidikan harus menjadi prioritas utama Wali Kota.
Pendidikan merupakan pondasi kualitas hidup, daya saing, dan produktivitas masyarakat.

Reasoning: Investasi jangka panjang di bidang pendidikan berdampak langsung pada kemajuan ekonomi dan sosial.

Evidence: Laporan UNESCO menunjukkan korelasi kuat antara peningkatan kualitas pendidikan dan penurunan kemiskinan.

Argumen Buruk

Mengutamakan pembangunan infrastruktur tanpa perencanaan dapat kontraproduktif.

Reasoning: Infrastruktur tanpa kajian komprehensif dapat memperburuk kemacetan, menambah beban anggaran, dan merusak lingkungan.

Evidence: Banyak studi kota di Asia menunjukkan pembangunan yang tidak terukur menambah polusi dan ketidakseimbangan tata ruang.

Argumen Netral

Kebutuhan masyarakat harus menjadi dasar kebijakan, namun tetap mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Baca juga:  Board of Peace has CLOSED Al Aqsho

Reasoning: Responsivitas penting, tetapi pemerintah juga harus menjaga kesinambungan pembangunan.

Evidence: Berbagai survei kepuasan publik membuktikan bahwa masyarakat menghargai kebijakan yang mempertimbangkan aspirasi mereka.

Saatnya Farhan Mengambil Kendali

Situasi objektif Kota Bandung hari ini menuntut kepemimpinan yang tegas, lugas, dan responsif.
Farhan masih memiliki waktu untuk memperbaiki haluan dan mengembalikan kepercayaan publik—asal berani mengambil langkah partisipatif dan inklusif.

Kota Bandung membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berada di balik meja, tetapi hadir bersama masyarakat, pakar, tokoh, dan semua komponen kota.

Gagasan dan rekomendasi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk mengembalikan Bandung pada cita-cita sebagai kota “UTAMA” — unggul, transparan, amanah, dan maju.