Dinamika Peluncuran Buku “Prabowonomics” di ITB: Antara Gagasan Strategis dan Aspirasi Kritis Mahasiswa

Avatar photo

Porosmedia.com, Bandung – Lembaga riset Global Research on Economics, Advance Technology and Politics (GREAT) Institute resmi meluncurkan buku berjudul “Prabowonomics: Demokrasi dan Arah Republik ke Depan” di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (5/3/2026). Perhelatan akademik ini berlangsung dinamis, diwarnai dengan diskusi mendalam serta penyampaian aspirasi dari elemen mahasiswa.

​Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh nasional, pejabat negara, dan akademisi, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Hadir pula pengamat politik Rocky Gerung, tokoh buruh Jumhur Hidayat, Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, serta Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.

​Di tengah jalannya forum, sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan Keluarga Mahasiswa (KM) ITB menyampaikan pernyataan sikap di depan forum. Mereka menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk upaya kooptasi dan politisasi institusi pendidikan oleh pihak manapun.

​Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Rocky Gerung menilai interupsi tersebut sebagai bagian dari tradisi intelektual yang sehat di lingkungan kampus.

Baca juga:  ITB, Ikatan Alumni, dan Rumah Amal Gerak Cepat Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera

​”Dalam tradisi akademik, interupsi adalah bagian dari kehidupan intelektual. Fenomena ini justru menunjukkan bahwa ITB tetap menjadi ruang dialog yang kritis dan relevan dalam merespons isu nasional,” ujar Rocky.

​Ditempat yang sama, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dalam pemaparannya menekankan pentingnya memberikan ruang bagi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk merealisasikan program-program strategisnya. Ia menyayangkan adanya fragmentasi di tengah masyarakat sipil yang terkadang berujung pada kritik yang kurang konstruktif.

​”Masyarakat sipil diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk membuktikan kinerjanya dalam menyejahterakan rakyat. Buku ini sendiri memuat refleksi penting mengenai demokrasi dan pentingnya persatuan nasional,” ungkap Dasco.

​Ia menambahkan bahwa substansi buku “Prabowonomics” tidak hanya bertumpu pada sektor ekonomi, tetapi juga menawarkan arah mengenai koreksi yang membangun bagi perjalanan demokrasi Indonesia.

​Penulis buku sekaligus Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, menjelaskan bahwa karya ini lahir dari analisis terhadap tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perlambatan ekonomi hingga eskalasi geopolitik.

Baca juga:  100 Rumah Layak Huni di Bandung Siap Rampung Juli 2025

​”Sekitar 30 persen dari isi buku ini membedah konsep ‘Prabowonomics’. Ini adalah tawaran arah kebijakan ekonomi yang relevan dengan kepemimpinan Presiden Prabowo dalam menghadapi gejolak dunia,” jelas Syahganda.

​Ia menegaskan bahwa pesan sentral dari buku ini adalah pentingnya membangun kepercayaan publik (public trust) dan persatuan nasional sebagai fondasi utama bagi bangsa untuk bangkit dari krisis.

​Meskipun sempat diwarnai dinamika penyampaian aspirasi, acara berjalan tertib hingga usai. Pertemuan ini mempertegas peran kampus sebagai arena dialektika yang mempertemukan pemikiran akademik, visi kebijakan negara, dan suara kritis mahasiswa dalam bingkai demokrasi Indonesia.