Porosmedia.com – Foto itu membeku di tengah sejarah. H. Agus Salim berdiri dengan janggut panjang dan tatapan tajam yang menusuk logika kolonial. Sutan Sjahrir dengan wajah letih, namun bersinar oleh idealisme. Mohammad Roem dengan kacamata bulat yang menatap penuh kalkulasi politik. Di belakangnya, Dr. Johannes Leimena tegak dengan wibawa akademis, dan Ali Sastroamidjojo, sosok yang kelak memimpin kabinet, menyimpan ketenangan seorang negarawan.
Mereka bukan sekadar pria berjas dan berdasi. Mereka adalah benteng pikiran sebuah republik muda. Negara yang lahir miskin senjata, tetapi kaya strategi. Dengan diplomasi, meja perundingan mereka ubah menjadi arena pertarungan. Mereka melawan bukan dengan meriam, melainkan dengan logika, moralitas, dan kecerdasan yang membuat Belanda kehabisan dalih.
Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 di Den Haag menjadi saksi: bangsa ini pernah punya elite yang tak gentar menghadapi kekuatan kolonial di forum internasional. Mereka miskin harta, tetapi kaya visi. Mereka bukan pedagang jabatan, melainkan pedagang ide.
Bandingkan dengan hari ini.
Di Senayan, “diplomasi politik” lebih sering berarti perebutan kursi, bukan pengokohan kursi kedaulatan bangsa. Jika Agus Salim menggunakan satire untuk mempermalukan kolonial, kini satire justru dipakai pejabat untuk menutupi kelemahan diri. Jika Sjahrir menghabiskan malam demi menulis argumentasi untuk bangsa, kini tak sedikit pejabat yang menghabiskan malam untuk lobi proyek, pesta, dan selfie di hotel berbintang.
Foto itu bukan sekadar potret masa lalu, melainkan cermin getir masa kini. Bahwa republik ini pernah punya pemimpin yang memikirkan rakyat melampaui kepentingan pribadi. Sementara hari ini, kita dihadapkan pada politisi yang lihai merebut sorotan kamera, tetapi gagal merebut keadilan bagi rakyat.
Pertanyaannya jelas:
Apakah masih lahir Agus Salim yang berani menyindir dengan kecerdasan?
Apakah masih ada Sjahrir yang rela mengorbankan hidup demi idealisme?
Ataukah bangsa ini kini hanya dihuni politisi yang menjadikan kekuasaan sebagai komoditas, bukan amanah?
Sejarah memang tak pernah berhenti. Namun ironinya, bangsa ini terlalu sering memilih berjalan mundur.
Foto: H. Agus Salim (paling kanan), Sutan Sjahrir (duduk tengah depan), Mohammad Roem (paling kiri), Dr. Johannes Leimena (belakang kiri), Ali Sastroamidjojo (belakang kanan) / Konferensi Meja Bundar (KMB), Den Haag 1949.
Sumber: DDB







