Cahaya yang Tak Pernah Padam: Perjalanan “Bionic Woman” Dewi Yull dalam Keheningan dan Kegelapan

Avatar photo

Porosmedia.com – Dunia mengenal Dewi Yull melalui suaranya yang merdu dan aktingnya yang mumpuni. Namun, di balik panggung yang gemerlap, Raden Adjeng Dewi Pudjijati adalah seorang pejuang yang sedang menulis ulang definisi “kesempurnaan”. Di usianya yang kini memasuki 64 tahun, ia memberikan pengakuan yang menggetarkan hati: “Aku termasuk disabilitas lho.”

​Kalimat itu bukan diucapkan dengan nada sedih, melainkan dengan senyum ketabahan. Setelah puluhan tahun menjadi “pendengar” bagi anak-anaknya yang tunarungu, Dewi kini harus berdamai dengan dunianya sendiri yang tak lagi terang benderang.

​Masalah kesehatan mata Dewi Yull mencapai puncaknya pada pertengahan 2023. Berawal dari kondisi miopi atau rabun jauh yang ekstrem—dengan minus mencapai 25 di mata kanan dan 19 di mata kiri—ia mengalami kondisi darurat medis yang disebut Ablasio Retina.

​Ia sempat menceritakan kronologinya: munculnya cairan gelembung bening di dalam bola mata yang perlahan berubah menjadi pekat. Dalam hitungan jam, penglihatan mata kanannya gelap total. Operasi besar dengan bius total harus dilakukan segera untuk menyelamatkan sisa penglihatan yang ada.

Baca juga:  Kebijakan Satu Arah Sukajadi: Antara Efisiensi Semu dan Ancaman Nyawa Warga

​Kini, mata kanannya hanya bisa menangkap cahaya berkat bantuan silikon yang tertanam di dalamnya. Dengan nada bercanda yang penuh kekuatan, ia menjuluki dirinya sebagai “Bionic Woman”.

​Apa yang membuat cerita kesehatan Dewi Yull kali ini berbeda? Ini bukan sekadar tentang penyakit lansia, melainkan tentang empati yang tuntas.

​Selama bertahun-tahun, Dewi berjuang agar anak-anaknya, (almh) Gizca dan Surya Sahetapy, mendapatkan hak dan pengakuan yang setara meski dalam keterbatasan pendengaran. Kini, dengan hanya satu mata yang berfungsi optimal (mata kiri), Dewi seolah sedang “menyeberang jembatan” yang sama dengan anak-anaknya.

​Ia menolak tindakan Lasik pada masanya hanya agar ia bisa merasakan apa yang dirasakan anak-anaknya: sebuah perjuangan untuk tetap percaya diri di tengah keterbatasan fisik. Baginya, mata yang kini tak lagi berfungsi sempurna adalah pengingat bahwa manfaat seseorang tidak ditentukan oleh kelengkapan panca indera, melainkan oleh luasnya hati.

​Bagi pembaca di Porosmedia, kisah Dewi Yull adalah pengingat tentang pentingnya deteksi dini kesehatan mata, terutama bagi pemilik minus tinggi. Ablasio retina adalah ancaman nyata, namun keberanian untuk menghadapinya adalah pilihan.

Baca juga:  Dana Reses DPR: Triliunan Rupiah Tanpa Pertanggungjawaban, Penghinaan terhadap Akal Sehat Publik

​Dewi mengajarkan kita bahwa meski satu jendela tertutup, cahaya di dalam jiwa tidak boleh redup. Di tengah keterbatasannya kini, ia tetap aktif berkarya, mendampingi prestasi internasional Surya Sahetapy, dan terus menyebarkan pesan inklusivitas.

​Di akhir hari, Dewi Yull membuktikan bahwa menjadi “istimewa” bukan hanya tentang kondisi lahiriah, tapi tentang bagaimana kita mensyukuri setiap sisa fungsi tubuh untuk tetap menjadi berkah bagi orang lain. Karena bagi seorang “Bionic Woman”, satu mata sudah cukup untuk melihat kebesaran Tuhan.