Ketegangan Di Pintu Gerbang Sejarah 

Avatar photo

Oleh: Fatchuri Rosidin

​Porosmedia.com, Jakarta – 15 Agustus 1945, Udara Jakarta malam itu terasa pekat dan penuh ketegangan. Di dalam ruang tengah kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jati berdiri bersandar pada dinding kayu. Pemuda berusia 19 tahun itu menggenggam erat nampan seng berisi tiga cangkir teh manis yang mulai dingin.

​Di hadapannya, perdebatan sengit tengah berlangsung.

​”Jika Bung Karno tidak mau menyatakannya malam ini, besok pertumpahan darah akan dimulai!” seru Wikana. Suara tokoh pemuda itu bergetar oleh amarah dan kekhawatiran akan kehilangan momentum sejarah.

​Jati menahan napas. Ia melihat napas Soekarno tersengal-sengal. Sang orator tengah diserang demam malaria; dahinya berkeringat dingin. Namun, bukannya mundur, Soekarno justru melangkah maju hingga wajahnya berjarak amat dekat dengan Wikana.

​Soekarno menunjuk lehernya sendiri.

​”Ini leher saya!” suara Soekarno berat dan parau. “Seret saya ke sudut itu dan potong leher saya malam ini juga! Kenapa harus menunggu besok jika kamu memang berani?”

​Ting! Cangkir di nampan Jati beradu pelan. Jati menggigit bibir dalamnya. Di satu sisi, gejolak jiwanya sependapat dengan Wikana. Namun melihat Soekarno mempertaruhkan nyawa di tengah kondisi fisik yang lemah, dada Jati dipenuhi rasa hormat. Ia ingin ikut bicara, tetapi posisinya sebagai ajudan pribadi Soekarno menuntutnya untuk tetap menjaga kepatutan dan tidak memotong pembicaraan para tokoh nasional tersebut.

Baca juga:  Perkokoh Sinergi Kewilayahan, Perkumpulan Masyarakat Indonesia 'Kangprabu' Resmi Dilantik di Bandung

​Karawang, 16 Agustus 1945 — Waktu menunjukkan subuh ketika Jati berada di dalam mobil kabriolet yang melaju membelah jalanan berdebu menuju Karawang. Ia ikut dalam rombongan pergerakan menuju Rengasdengklok.

​Menyadari kendaraan tersebut bergerak menjauhi Jakarta, matanya memperhatikan sekeliling dan menyadari Soekarno tidak berada di mobil yang sama.

​“Di mana Bung Karno?” tanyanya kepada para pemuda di sampingnya.

​“Jangan khawatir, Jati. Bung Karno dan Bung Hatta ada di mobil Fiat hitam di belakang kita,” jawab seorang pemuda berseragam PETA.

​Jati refleks melihat ke belakang. “Siapa yang mendampinginya?”

​“Ada Winata dan Sukarni.”

​“Kita hendak ke mana?”

​“Nanti kamu akan tahu,” jawab pemuda lainnya. “Waktu kita terbatas.”

​Setelah melintasi Sungai Citarum dan memasuki wilayah Karawang, iring-iringan kendaraan berbelok ke jalan kecil ke arah utara. Mobil kabriolet mengarungi jalanan sempit, lalu berhenti di depan sebuah rumah panggung kayu sederhana milik seorang warga Tionghoa, Djiaw Kie Siong.

​Di dalam rumah tersebut, atmosfer ketegangan masih terasa kuat. Sukarni terus memutari meja.

Baca juga:  Satgas Yonarmed 10 Kostrad Bantu Warga Perbaiki Saluran Pipa Air Bersih

​”Bung Hatta, Sekutu akan mendarat! Jepang sudah menyerah! Apa lagi yang kita tunggu? Kita tidak butuh izin PPKI, itu lembaga bentukan Jepang!”

​Hatta melepaskan kacamatanya, mengusap lensa yang berembun dengan sapu tangan, lalu mengenakannya kembali. Sikapnya tetap tenang.

​”Kemerdekaan bukan soal terburu-buru, Sukarni,” kata Hatta tegas. “Ini soal perhitungan matang. Jika kita bertindak tanpa kepastian, tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap berpotensi melakukan tindakan represif terhadap rakyat. Siapa yang akan bertanggung jawab atas keselamatan mereka?”

​Jati yang berdiri di dekat area dapur menyimak setiap perkataan tersebut. Ia melihat jemari Sukarni mengepal, sementara Hatta tetap teguh pada pendiriannya. Jati menyadari satu hal: sikap kehati-hatian golongan tua bertujuan untuk memastikan keberlangsungan dan keselamatan bangsa yang baru akan berdiri ini.

​Jakarta, 17 Agustus 1945 — Pukul 03.00 dini hari. Ruang makan Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Miyako-dori menjadi saksi perumusan arah bangsa. Asap cerutu menggantung tebal di udara.

​Setelah negosiasi panjang dengan pihak Jepang, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo duduk mengelilingi meja. Teks draf proklamasi telah ditulis tangan oleh Soekarno. Namun, penentuan mengenai siapa yang berhak menandatanganinya kembali memicu diskusi.

Baca juga:  Bandung Kondusif: Pemkot Bandung Menyesal Kejadian di Sukahaji

​”Semua yang hadir harus menandatanganinya, seperti Declaration of Independence di Amerika!” usul salah satu anggota PPKI.

​Sukarni menyela, “Tidak! Kami tidak setuju jika ada nama pihak-pihak yang diasosiasikan dengan lembaga bentukan Jepang di lembar tersebut!”

​Suasana kembali memanas. Soekarno menyandarkan punggungnya sambil memegang pelipisnya.

​Hatta menatap Sukarni tenang, lalu bertanya, “Kalau begitu, siapa yang akan menandatangani mewakili rakyat Indonesia?”

​“Bagaimana kalau Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia?” usul Sukarni.

​Suasana hening sejenak. Hatta mengangguk pelan. Kesepakatan akhirnya tercapai.

​Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik naskah tersebut. Jati mendampingi Sayuti ke ruangan kecil di bawah tangga untuk menyiapkan mesin ketik.

​Tak… tak… tak…

​Suara mesin ketik memecah kesunyian subuh. Jati memperhatikan jemari Sayuti saat menyelaraskan kata “tempoh” menjadi “tempo”, serta “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “atas nama bangsa Indonesia”.

​Jati terharu dalam diam. Ia menyadari, setiap ketukan mesin ketik tersebut merupakan langkah nyata menuju pengakhiran masa penjajahan. Sebentar lagi, ia akan menjadi saksi sejarah pembacaan naskah proklamasi dan lahirnya Republik Indonesia.

​