Porosmedia.com, Bandung – Menghadapi dinamika perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, masyarakat kerap dihadapkan pada pilihan antara mengeluhkan keadaan atau mengambil langkah solutif. Bagi KH. Asep Syaripudin, yang akrab disapa Kang UAS, perubahan substantif hanya dapat terwujud melalui kesadaran kolektif dan kolaborasi aktif, bukan sekadar keluh kesah.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Kajian Offline bertema “Bersinergi dalam Lokomotif Perubahan” yang berlangsung di Masjid Miftahul Hidayah, Jalan Mangga, Kota Bandung, Sabtu (6/6/2026). Acara yang dihadiri oleh jemaah dari berbagai wilayah di Jawa Barat ini mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan dorongan kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Kang UAS menyoroti fenomena sosial di mana ekspektasi terhadap perbaikan kondisi sering kali tidak dibarengi dengan inisiatif pribadi. Merujuk pada prinsip teologis dalam Al-Qur’an, ia mengingatkan bahwa transformasi suatu kaum sangat bergantung pada kesungguhan kolektif untuk mengubah keadaan mereka sendiri.
”Perubahan tidak akan datang hanya dengan menunggu. Harus ada ikhtiar, kerja sama, dan keberanian untuk mengambil peran,” ujar Kang UAS di hadapan para jemaah.
Ia menambahkan bahwa tantangan kontemporer—mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, hingga degradasi moral—memiliki kompleksitas yang tinggi. Oleh karena itu, penyelesaian masalah tidak bisa bertumpu pada individu atau kelompok sektarian saja, melainkan memerlukan sinergi dan kolaborasi yang inklusif agar umat dapat menjadi bagian dari solusi.
Prinsip gotong royong dan saling mendukung dalam kebajikan dinilai sebagai implementasi ajaran Islam yang tetap relevan dalam konteks modern.
Implementasi Kemandirian Ekonomi
Semangat kolaborasi yang digaungkan dalam kajian ini juga diwujudkan melalui aksi konkret di lapangan. Di area pengajian, panitia menyelenggarakan bazar yang memfasilitasi para jemaah untuk memasarkan berbagai produk usaha mikro mereka.
Inisiatif ini dirancang sebagai langkah awal dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis jemaah. Ke depan, program bazar ini diproyeksikan untuk berkembang menjadi “Pasar Umat”—sebuah ekosistem ekonomi yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah transaksi, tetapi juga sebagai pusat penguatan jejaring bisnis antar jemaah.
Kegiatan kajian berkala yang diselenggarakan secara bergantian di Bandung dan Jakarta ini menarik minat peserta dari berbagai daerah, seperti Cicalengka, Ciparay, Banjaran, Cileunyi, Cililin, Subang, hingga Kota Bandung. Selain pertemuan fisik, komunitas ini juga aktif memfasilitasi pembelajaran daring (online) secara konsisten, mencakup materi Nahwu Shorof (tata bahasa Arab), Tadabur Al-Qur’an, hingga Sirah Nabawiyah (sejarah peradaban Islam).
Melalui rangkaian program ini, Kang UAS menekankan bahwa masyarakat harus mengambil peran aktif sebagai penggerak perubahan (lokomotif) yang membawa dampak positif di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan keagamaan.
Sebab, sebuah transformasi besar sering kali tidak dimulai dari kebijakan makro, melainkan lahir dari konsistensi kelompok kecil yang berkomitmen untuk duduk bersama, menyelaraskan visi, dan bergerak memberikan kemaslahatan nyata bagi sesama.







