Hattrick Persib dan Kembalinya Piala Dunia ke Pangkuan TVRI: Romantika Kemenangan dan Nostalgia Publik

Avatar photo

Oleh: Anto Ramadhan (Pengamat Budaya Tinggal di Cicadas)

Porosmedia.com – Ada dua kabar yang belakangan sama-sama membangkitkan gairah publik: Pertama, Persib Bandung mencatatkan prestasi “hatrick” sekaligus mempertegas dominasi Maung Bandung, lewat juru taktik asal Kroasia Bojan Hodak. Sedangkan kabar kedua, TVRI kembali menjadi rumah bagi siaran FIFA World Cup !
Sepintas dua peristiwa ini berbeda arena—satu di lapangan hijau domestik, satu di layar kaca nasional—tetapi keduanya bertemu pada satu titik yaitu kebangkitan memori kolektif bangsa.

Persib, bagi warga Bandung dan Bobotoh Jawa Barat, bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah identitas budaya. Ketika Persib mencetak hattrick, yang bersorak bukan hanya Beckam Putra, atau Tom Haye dkk di lapangan, tetapi juga jadi sejarah panjang kota Bandung yang sejak lama menjadikan sepak bola sebagai bahasa emosi bersama. Kemenangan itu bukan cuma soal angka di papan skor, melainkan penegasan bahwa tradisi besar masih hidup.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, menyebut keberhasilan Persib meraih hattrick juara liga sebagai “momen bersejarah yang super”. Ia menegaskan bahwa Persib adalah satu-satunya klub di Indonesia yang mampu mencetak pencapaian tersebut secara beruntun.

Sementara itu, kembalinya Piala Dunia ke TVRI diumumkan lewat Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) menjadi stasiun televisi resmi yang akan menyiarkan Piala Dunia 2026 mendatang dan dapat dinikmati secara gratis.
Pengumuman ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di lobi GPO LPP TVRI, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025) lalu, dan dihadiri Direktur Utama LPP TVRI, Imam Brotoseno, serta didampingi Chief Editor Siaran Piala Dunia TVRI, Usman Kansong.

Baca juga:  Kongres Luar Biasa Askot PSSI Tangsel Ditutup, Ini Pesan Wali Kota Benyamin Davnie

Piala Dunia ini
akan berlangsung dari hari Kamis, 11 Juni hingga Minggu, 19 Juli 2026. Turnamen ini akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menampilkan 48 tim dan 104 pertandingan selama 39 hari.

Tentunya peristiwa ini
menghadirkan nostalgia yang tak kalah kuat.
Bagi generasi 1970 an, 1980-an hingga awal 1990-an, TVRI adalah jendela utama melihat dunia. Dari layar sederhana di ruang keluarga, jutaan rakyat Indonesia mengenal Pele, Der Kaiser Frans Beckenbauer, Johan Cruff, Van Basten, Michel Platini ,hingga Maradona Dan Ronaldo . Ketika Piala Dunia kembali ke “pangkuan” TVRI, yang pulang bukan sekadar hak siar—tetapi kenangan kolektif tentang bagaimana bangsa ini pernah menonton bersama, tanpa sekat kelas sosial.

Memori Kolektif, Peristiwa Kultural dan “Demokratisasi Tontonan”

Piala Dunia pada waktu itu hampir otomatis mengingatkan pada TVRI. Di ruang keluarga sederhana, dengan antena yang kadang harus diputar ke sana-kemari, jutaan orang Indonesia dulu menonton pertandingan dunia lewat satu saluran yang sama. Tidak ada pilihan kanal, tidak ada streaming, tidak ada paket berlangganan. Tetapi justru di situlah letak romantismenya: seluruh bangsa menonton bersama.

Menurut Doktor Olahraga sekaligus pengamat bola Rizky Mulyawan, kembalinya Piala Dunia ke TVRI bukan sekadar urusan hak siar. Ia telah menciptakan memori kolektif sekaligus menjadi peristiwa kultural.

Rizky mengungkapkan, dalam studi media, televisi publik punya fungsi yang lebih besar daripada sekadar penyampai informasi. Ia adalah alat pembentuk memori kolektif.
“Ketika masyarakat Indonesia menonton momen gol dramatis, adu penalti, atau tangisan pemain di akhir laga melalui TVRI, yang terbentuk bukan hanya tontonan, tetapi pengalaman bersama sebagai bangsa”. ujarnya.
Mantan Asisten Pelatih Team Indonesia untuk Homeless Word Cup 2017 Oslo, Norwegia ini mengutip
teori komunikasi dari Benedict Anderson (1983) . Dia menyebut ini sebagai imagined community—komunitas yang merasa terhubung karena pengalaman bersama. Persib menyatukan Bobotoh di stadion dan jalanan; TVRI menyatukan rakyat di ruang tamu masing-masing. Keduanya adalah medium kebersamaan.
Maka, hattrick Persib dan kembalinya Piala Dunia ke TVRI sesungguhnya mengajarkan satu hal yaitu di tengah dunia yang makin individualistik, rakyat tetap merindukan ruang-ruang bersama—tempat emosi dibagi, kenangan dirawat, dan identitas dipelihara.

Baca juga:  Mens Rea Pandji Pragiwaksono via Netflix Semburkan Kritik, Korupsinikus: Tajam, Menusuk

Fakta memang mengatakan, selama beberapa dekade terakhir, fungsi itu perlahan tergerus. Siaran olahraga premium berpindah ke televisi swasta, lalu ke platform digital berbayar. Menonton pertandingan besar menjadi soal akses ekonomi. Yang mampu membayar, menonton. Yang tidak, cukup membaca hasil akhirnya.

“Di titik inilah keputusan menghadirkan kembali Piala Dunia di TVRI menjadi penting”. kata Rizky

“Ini adalah bentuk “demokratisasi tontonan”. tegasnya. Dia menambahkan
bahwa sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia, kembali dapat dinikmati oleh siapa saja—tanpa sekat langganan, tanpa tembok ekonomi. Anak di desa, buruh di kota, mahasiswa di kos, hingga pedagang di warung kopi, semuanya punya akses yang sama.

Itulah esensi televisi publik, dan tentunya romantisme saja tidak cukup. Doktor Olahraga jebolan ITB ini mengatakan
kembalinya Piala Dunia ke TVRI juga harus menjadi momentum revitalisasi.” TVRI tidak boleh sekadar menjadi “penumpang nostalgia”. Ia harus membuktikan diri sebagai lembaga penyiaran publik yang modern: kualitas siaran baik, narasi editorial kuat, platform digital adaptif, dan yang paling penting—tetap relevan bagi generasi muda.

Baca juga:  Sunset Dealer: Kembali Menyapa Lewat Reggae Ringan, Elegan, dan Menawan

Sebab tantangan hari ini berbeda dengan era dulu. Jika dahulu TVRI bersaing dengan keterbatasan teknologi, hari ini ia bersaing dengan algoritma.

Namun justru di tengah banjir konten digital, televisi publik punya keunggulan yang tidak dimiliki platform lain: kepercayaan.

Menutup refleksi ini , pernyataan dari mantan pemain Persib Junior, Rizky Mulyawan ini menjadi sangat relevan :”Maung Bandung” bukan hanya sedang menang, tetapi ia sedang menulis sejarahnya sendiri. Dan sejarah itu ditulis dengan tinta biru. Sementara siaran Piala Dunia yang kembali ke pangkuan TVRI bukan sekadar perpindahan hak siar, ia adalah kepulangan sebuah memori kolektif nasional. (AR/Berbagai Sumber)

Foto Unggulan : Rizky Mulyawan Pengamat Olahraga/ Doctor of PhilosophySenior Lecturer at
Yogyakarta State University

https://youtu.be/OpZMkQqsVTU?si=rMUbVfS9TlGz5lv6