Refleksi 80 Tahun Bandung Lautan Api: Simbol Perlawanan Rakyat dan Kedaulatan Bangsa

Avatar photo

Porosmedia.com – Tepatnya 24 Maret 2026, bangsa Indonesia memperingati momentum bersejarah ke-80 tahun peristiwa Bandung Lautan Api (BLA). Insiden yang terjadi pada medio Maret 1946 ini bukan sekadar catatan usang, melainkan manifestasi nyata dari keteguhan sikap rakyat Bandung dalam menjaga kedaulatan wilayah di tengah tekanan geopolitik pasca-proklamasi.

​Latar belakang peristiwa ini berakar pada dinamika ketegangan antara pejuang kemerdekaan dengan pihak Sekutu dan NICA (Belanda). Penolakan terhadap ultimatum Sekutu yang menuntut pengosongan Bandung Selatan menjadi titik balik krusial. Alih-alih tunduk pada instruksi yang dianggap mencederai martabat kedaulatan, Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama rakyat mengambil langkah strategis yang tidak lazim dalam taktik militer konvensional.

​Secara historis, keputusan untuk membumihanguskan kota Bandung pada 23-24 Maret 1946 merupakan opsi ekstrem yang diambil demi mencegah penguasaan fasilitas infrastruktur oleh pihak musuh. Keputusan kolektif ini mencerminkan keberanian moral; rakyat lebih memilih kehilangan harta benda dan tempat tinggal dibandingkan melihat kotanya dijadikan basis kekuatan militer asing.

​Tokoh-tokoh kunci seperti Kolonel Abdul Haris Nasution, yang saat itu menjabat Panglima Divisi III TRI, bersama tokoh heroik seperti Mohammad Toha dan pengaruh kebijakan diplomatik Sutan Sjahrir, menjadi pilar dalam koordinasi massa yang masif namun terukur.

Baca juga:  Zubair bin Awwam, orang pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah

​Memperingati 80 tahun Bandung Lautan Api di era modern ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni belaka. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan dan masyarakat sipil bahwa kedaulatan sebuah daerah ditentukan oleh persatuan dan kerelaan untuk berkorban demi kepentingan publik yang lebih besar.

​Semangat “Lautan Api” merupakan kritik abadi terhadap segala bentuk intervensi yang merugikan kepentingan rakyat. Menjaga nilai-nilai kemerdekaan yang telah dibayar mahal dengan api dan air mata adalah kewajiban konstitusional yang harus terus dirawat oleh generasi hari ini.

Oleh : Kang Ogie Ketua Rumah Aspirasi Warga