Sering Bikin Gerah Orde Baru, Setiawan Djody Ungkap Ibu Tien Soeharto Malah Suka Lagu Bento

Avatar photo

Porosmedia.com – Musisi sekaligus pengusaha Setiawan Djody berbagi cerita mengenai pengalamannya bermusik di era Orde Baru. Setiawan Djody merupakan salah satu pendiri supergrup Kantata Takwa dan SWAMI yang beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, Jockie Surjoprajogo, Donny Fatah, dan Innisisri.

Setiawan Djody mengungkapkan, pergulatan dengan musik dan keresahan pada saat itu membuat lagu seperti “Bento” dan “Bongkar” tercipta. Saat itu, Setiawan Djody menjadi orang yang mensponsori album SWAMI yang beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, dan Totok Tewel.

Setelahnya, Setiawan Djody bersama kawan-kawan membentuk Kantata Takwa yang mana dirinya terlibat langsung sebagai personel. Saat membuat Kantata Takwa, Setiawan Djody mengakui, kritiknya lebih keras ketimbang SWAMI.

“(kritik) Sudah sangat keras, karena situasi pada saat itu sudah agak lain,” ucap Setiawan Djody kepada Zulfan Lindan dalam podcast Unpacking, dikutip Senin (9/9/2024).

Kendati gemar mengkritik kondisi saat Orde Baru yang dipimpin Soeharto, Setiawan Djody mengaku biasa saja. Dirinya malah tak pernah ditegur secara langsung oleh Soeharto, hanya saja sering dipanggil Benny Moerdani yang saat itu menjadi Panglima TNI yang masih bernama ABRI.

Baca juga:  Pergantian Episode

“Tapi saya tidak pernah ditegur Pak Harto tuh,” ucap Setiawan Djody.

Setiawan Djody tak memungkiri, dirinya memang masih berkerabat dengan mendiang Ibu Tien selaku Ibu Negara pada saat itu.

“Ya saya memang masih kerabat di Mangkunegara dengan Ibu Tien,” ucap Setiawan Djody.

Setiawan Djody menyebut, justru Ibu Tien menyukai lagu-lagunya. Salah satunya adalah lagu “Bento” yang disebut-sebut mengkritik nepotisme zaman Orde Baru.

“Dan Ibu Tien malah tidak anti dengan musik saya, malah kalau lebaran ketemu dia panggil saya ‘eh Bento’, dan kalau pak Harto kan habis dapat laporan yang kurang baik, kalau saya ke rumah mas Sigit dia nyalamin sambil cemberut aku pasti mikir ada yang salah, tapi ya begitu aja,” tutur Setiawan Djody.

Sebagai informasi, sebagian besar personel SWAMI merupakan anggota kelompok musik Sirkus Barock yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 70-an dan dimotori Sawung Jabo, mereka adalah Naniel Yakin, Nanoe, dan Innisisri.

Nama Swami sendiri berasal dari bahasa India namun disini merupakan plesetan dari kata suami karena seluruh personel grup band ini semuanya sudah menjadi suami. Pada album perdana nama Iwan Fals ditampilkan di cover albumnya bertajuk SWAMI I sebagai daya tarik dan penjualan album ini sangat besar.

Baca juga:  TNI AD Harus Hadir Ditengah-Tengah Kesulitan Rakyat

Pada album kedua nama Iwan Fals tidak ditampilkan lagi hanya diisi lukisan Setiawan Djody pada covernya. Penjualan album kedua ini tidak begitu memuaskan. Tak lama usai merilis album kedua, Swami memutuskan untuk bubar dan kembali berkarier di proyek masing-masing.

Untuk Kantata Takwa, supergrup band ini tak hanya lahir sebagai grup musik tetapi juga dirangkum dalam film. Setiawan Djody selaku produser menggandeng Eros Djarot dan Gotot Prakosa untuk membuat film musikal Kantata Takwa, salah satunya terinspirasi dari konser akbar Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1990.

Lantaran mendapat banyak kesulitan dan represif dari pemerintahan Orde Baru, film ini baru bisa diselesaikan pada tahun 2008 sekaligus dirilis pada tahun yang sama. Meski belasan tahun menanti, film Kantata Takwa tak sia-sia, meraih banyak penghargaan setelah diputar di jaringan bioskop Indonesia dan berbagai festival film internasional.

Penghargaan itu di antaranya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) – Film Terbaik 2008 – Golden Hanoman Award, Asia Pacific Screen Awards 2008 – Nominasi untuk Film Dokumenter Terbaik, Nominasi dalam Hawaii International Film Festival 2008, dan Nominasi dalam Osian Cine Fan New Delhi 2008.

Baca juga:  Kiprah Kiyai Abbas Dalam Pertempuran 10 November Surabaya

Ada pun, Setiawan Djody yang bernama lengkap K.P.H. Salahuddin Setiawan Djodi Nur Hadiningrat lahir di Solo, 13 Maret 1949. Setiawan Djody merupakan cucu pahlawan nasional Dr. Wahidin Sudirohusodo. Setiawan Djody merupakan lulusan Universitas Wharton tahun 1974 dan S-2 Filsafat dari Universitas California. Untuk urusan bisnis, Setiawan Djody merupakan CEO Grup Setdco yang membidangi perminyakan dan perkapalan.