Oleh: Harri Safiari
Porosmedia.com – Pernyataan seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang berkata, “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan,” sontak memantik riuh. Bukan semata soal pilihan kewarganegaraan, melainkan soal rasa.
Beasiswa negara bukan hadiah undian. Ia adalah titipan harapan dari rakyat—dari pajak petani, buruh, pedagang kecil, penarik becak, guru honorer — yang percaya bahwa anak bangsa yang diberi kesempatan akan kembali membawa martabat bagi Indonesia.
Tak ada yang salah dengan berpikir global. Tak ada yang keliru bila anak tumbuh sebagai warga dunia. Namun, menjadi kosmopolit tak harus membuat kita ringan menanggalkan akar. Paspor boleh berbeda, tetapi hormat pada tanah asal tak semestinya pudar.
Yang mengusik bukan statusnya, melainkan nadanya. Sebab di ruang publik, kata-kata adalah cermin sikap – Mulutmu, LPDP kok jadi begitu?
Kita semua sadar negeri ini belum sempurna. Justru karena itu, ia membutuhkan cinta—bukan cibiran. Membutuhkan kontribusi—bukan jarak.
Memohon pengertian – bukan kesalahpahaman.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukanlah seberapa kuat paspor yang dipegang anak kita, melainkan seberapa tulus kita menghargai negeri yang pernah membiayai mimpi kita.
Silahkan terbang tinggi,
menjelajah dunia tanpa batas.
Namun jangan lupa,
tanah yang pertama memanggil kita
adalah Indonesia.
Mencintainya dengan sepenuh hati —
tak pernah membuat kita menjadi lebih kecil. (Selesai)







