Hewan Buas Itu Bernama Negara, yang Bukan Lagi Ibu untuk Anaknya

Avatar photo

Porosmedia.com – Hewan Buas Itu Bernama Negara. Negara ini bukan lagi ibu bagi anak-anaknya, tapi telah berubah menjadi hewan buas yang memangsa rakyat sendiri.

Ia menatap rakyatnya dengan mata lapar, seolah tubuh mereka hanya daging untuk disobek.
Kekuasaan menjadi insting purba yang menolak jinak.

Setiap kebijakan adalah kuku tajam yang menyayat tanpa suara.
Dan di balik bendera, darah keadilan menetes perlahan, tanpa warna, tanpa bau.

Korupsi adalah gigi yang paling tajam di mulutnya.
Ia mengunyah anggaran, menggerus harapan, dan menelan masa depan.

Kolusi menjadi air liur yang melumasi kerakusan agar mudah menelan.
Nepotisme adalah rahang yang menutup rapat semua pintu bagi mereka yang lemah.
Di rahang itulah cita-cita rakyat dihancurkan menjadi serbuk kekecewaan.

Oligarki adalah jantung dari hewan buas ini, berdenyut karena uang dan kekuasaan.
Ia selalu lapar, bahkan setelah melahap seluruh isi negeri.
Setiap proyek adalah mangsa baru yang digiring dengan janji kesejahteraan.

Namun di ujungnya hanya tersisa tulang-tulang rakyat yang dijadikan statistik.
Dan suara kemiskinan tenggelam di perutnya yang buncit oleh dusta.

Baca juga:  Ternyata jadi Pengangguran ialah "Kado Terindah" May Day 2025

Rakyat yang lemah hanya bisa bersembunyi di balik doa dan upacara nasionalisme.
Mereka mencintai tanah air, tapi tanah air tak pernah memeluk mereka kembali.

Bendera berkibar bukan karena kebanggaan, melainkan karena angin keputusasaan.
Anak-anak belajar tentang keadilan dari buku, bukan dari kenyataan.
Dan para guru kejujuran telah lama dimakan oleh waktu yang korup.

Hukum seharusnya menjadi rantai yang menahan hewan buas itu.
Namun rantai itu kini justru melingkar di leher rakyat.

Para penegak keadilan menutup mata, takut kehilangan tempat di meja perjamuan.
Setiap vonis adalah gigitan baru, bukan penyembuhan.
Dan rakyat kembali berdarah, diam, lalu melupakan.

Negara ini pernah lahir dari janji: melindungi segenap bangsa dan tumpah darahnya.
Tapi janji itu kini menjadi legenda yang dibacakan seperti dongeng sebelum tidur.

Keadilan menjadi tokoh fiktif yang hanya hidup di pidato.
Rakyat menua bersama kesabaran, sementara penguasa menua bersama kekayaannya.
Dan di antara keduanya, Tuhan seperti enggan turun tangan.

Namun setiap hewan buas memiliki akhir dalam siklusnya.
Ia bisa mati bukan oleh senjata, tapi oleh kelaparan dari dalam dirinya sendiri.
Ketika tak ada lagi yang bisa dimakan, ia akan mulai menggigit bayangannya.

Baca juga:  Anggota Dewan Jakarta Terima Audiensi Relawan Kawal Gibran Bersama

Saat itulah rakyat harus siap menulis kembali makna “merdeka”.
Karena dari sisa-sisa luka, bangsa sejati akan lahir untuk kedua kalinya.