Tukang Bubur Mau Adukan “Mens Rea” Pandji ke Polisi, Korupsinikus: Tuduhan Psikopat!

Avatar photo

Esai Satire – Harri Safiari

Porosmedia.com – Setelah “Mens Rea” Pandji Pragiwaksono tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025, laporan ke polisi bermunculan. Dari aktivis ormas sampai aliansi muda lintas seragam. Tuduhannya berat: penistaan agama, penghasutan di muka umum, dan—tentu saja—ketersinggungan berjamaah.

Namun kabar paling mutakhir datang bukan dari ruang diskusi, melainkan dari pengkolan. Antapani, Bandung.
Mang Dudung (45), tukang bubur, ikut naik pitam. Ia berniat melaporkan Pandji.

Korupsinikus—pelanggan setia lima tahun terakhir—menyebut ini bukan perkara sepele.
“Sejak segmen bubur itu muncul,” ujar Korupsinikus, “kedai Mang Dudung berubah jadi arena debat. Bubur diaduk atau tidak? Lalu yang tak diaduk ditempeli label kejam, psikopat. Ini bukan selera lagi. Ini diagnosa liar.”

Menurut Mang Dudung, pelanggannya kini makan sambil sidang. Sendok berhenti. Mulut berargumen, malah bikin recok tak keruan.
“Semua serius. Terkadang kental nuansa akademis. Seolah bubur itu tesis,” katanya.

Yang diaduk merasa waras. Yang tidak diaduk merasa dilecehkan. Psikopat alias gelo, katanya, bukan istilah ringan. Itu tuduhan serius. Bisa melukai martabat. Bisa merusak nafsu makan dan nafsu hidup!

Baca juga:  Seni Menertawakan Kuasa: Haruskah Fisik Jadi Sasaran?

Korupsinikus—makhluk setengah manusia, setengah entah apa, yang di Negara Konoha Raya (NKR) dikenal piawai mengajarkan korupsi agar tampak sebagai bantuan sosial—ikut resah.

“Ini sudah masuk dapur rakyat. Terlalu jauh,” katanya, sambil mengaduk bubur tanpa rasa bersalah.

Agar Guyub Kembali
Rubi, aktivis antikorupsi yang hidup pas-pasan namun berjasa “membangunkan” Korupsinikus dari hibernasi ratusan tahun (sempat dikira fosil Java Man), tampil sebagai juru damai.
“Kami hanya humas,” kata Rubi. “Intinya sederhana: agar pelanggan Mang Dudung rukun kembali. Bubur panas, jangan ditambah panasnya emosi, cukup hangat saja”
Korupsinikus mengangguk. Entah setuju, entah lehernya salah bantal.

Ke NYPD
Yang membuat redaksi hampir pingsan bukan buburnya. Tapi tujuan laporannya.
Bukan Polda Jabar. Bukan Polda Metro.
NYPD (New York Police Departement).
“Pandji kan tinggal di New York USA?!” ujar Mang Dudung serius. “Jadi laporan ke sana. Tinggal nunggu visa.”
Mikrofon jatuh. Pecah, mendadak gegar.
Reporter terhuyung.
Polemik bubur nasional mendadak naik level internasional.
Cara makan bubur kini bukan lagi soal selera dan sekedar ganjal perut.
Ia telah menjadi perkara serius lintas negara.

Baca juga:  Kakorlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan Siapkan Langkah Penanganan Arus Balik Idul Fitri 1445 H/2024 M

Dan Mang Dudung—dengan sendok di tangan, serta panci yang berbujur hideung penuh jelaga—siap menempuh jalur hukum global.Tujuannya, agar label cara santap bubur berujung psikopat yang bikin jengkel, segera sirna!
(Selesai)