Porosmedia.com –Tasikmalaya – Institut Nahdlatul Ulama (INU) Tasikmalaya secara resmi menyerahkan 111 mahasiswanya kepada Pemerintah Kecamatan Cineam untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026. Prosesi penyerahan berlangsung khidmat, dihadiri unsur Forkopimcam, seluruh kepala desa, perwakilan ormas keagamaan, serta dosen pembimbing.
Kegiatan KKN ini merupakan implementasi nyata dari
Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya poin pengabdian kepada masyarakat. Rektor INU Tasikmalaya,
Dr. H. Pepep Puad Muslim, M.S.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa program ini adalah wujud sinergi strategis antara kampus, pemerintah, dan masyarakat.
“Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, kita diciptakan untuk saling mengenal. KKN adalah medium konkret untuk mewujudkan kebersamaan, saling menghormati, dan kerja sama itu,” ujar Rektor.
Fokus pada Pemberdayaan Masyarakat “Nyantri”
KKN kali ini mengusung tema
“Nga-Rumat, Ngarojong, jeung Ngarumat Masyarakat Nyantri nu Religius, Pinunjul, Mandiri, tur Tentrem”. Tema ini berfokus pada pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dengan karakter keagamaan yang kuat, sejalan dengan identitas NU dan visi kampus.
“Kami berharap mahasiswa tidak hanya datang, tetapi bisa benar-benar ‘ngarumat’ (merawat) dan ‘ngarojong’ (mendukung) potensi yang ada di desa,” tambah Rektor.
Camat Cineam,
Edi Mulyana, A.Ks., menyambut hangat kedatangan mahasiswa. Ia berharap kolaborasi ini dapat menghasilkan program yang selaras dengan kebutuhan riil desa dan membawa manfaat berkelanjutan.
“Kami terbuka dan siap memandu. Kehadiran adik-adik mahasiswa diharapkan memberikan energi dan inovasi baru untuk pembangunan di Cineam,” ucap Edi.
Profil Peserta dan Skema Pengabdian
Berdasarkan laporan Ketua Panitia KKN,
Imas Komalasari, S.S., M.M., ke-111 mahasiswa tersebut berasal dari lima program studi,
Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Hukum Keluarga Islam (HKI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), dan Ekonomi Syariah (Eksyar).
KKN INU Tasikmalaya dikenal dengan pendekatan
“live-in” atau tinggal di tengah masyarakat. Menurut publikasi serupa di laman resmi NU Tasikmalaya, model ini dipilih untuk memastikan mahasiswa benar-benar memahami dinamika sosial, ekonomi, dan kultural warga, sekaligus menginternalisasi nilai-nilai
Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah (Sumber:
PCNU Tasikmalaya).
Peran Strategis KKN dalam Pembangunan Desa
Keberadaan program KKN di Indonesia memiliki akar sejarah dan peran strategis. Sejak diinisiasi secara nasional pada 1970-an, KKN dirancang sebagai
jembatan antara teori kampus dan realitas pembangunan di lapangan. Di era sekarang, KKN berevolusi menjadi sarana penerapan
Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yang mendorong pembelajaran di luar kampus.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam berbagai publikasinya menekankan pentingnya
sinergi triple helix (akademisi, pemerintah, dan masyarakat) untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan atau
Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat desa. Program KKN seperti ini dianggap sebagai instrumen efektif untuk mengakselerasi pembangunan, khususnya dalam bidang pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan ketahanan sosial (Sumber:
Bappenas).
Harapan dan Tantangan Ke Depan
Salah satu mahasiswa peserta,
Lida Nurlaela dari Kelompok 7 Desa Cijulang, mengaku siap menjalani pengabdian. “Kami diingatkan untuk menjaga nama baik almamater dan belajar dengan rendah hati. Sambutan masyarakat sangat hangat,” tuturnya.
Dengan penyerahan secara simbolis yang ditandai pembacaan pantun, para mahasiswa resmi memulai pengabdian. Keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana mahasiswa mampu menjadi katalisator pembangunan, sekaligus membawa pulang pembelajaran hidup yang berharga sebagai bekal menjadi calon pemimpin bangsa yang
ulama dan intelek.
20,860