Sesat Pikir “Laut Paru – Paru Dunia”

Mengapa Narasi Ini Bisa Menjadi Tiket VIP Menuju Kiamat Iklim ?

Avatar photo

Porosmedia.com – Sebuah narasi berbahaya tengah bergulir liar. Berangkat dari fakta ilmiah bahwa lautan menyumbang 50-80% oksigen bumi, muncul logika “lompat pagar” yang mengerikan, jika laut sudah mencukupi kebutuhan napas kita, untuk apa kita pusing memikirkan hutan yang ditebang ?

Ini bukan sekadar kekeliruan data, melainkan sebuah blunder ekologis yang jika diadopsi menjadi pembenaran kebijakan, akan mempercepat kehancuran peradaban manusia.

Mari kita bedah mengapa menjadikan fitoplankton sebagai alasan untuk membabat hutan adalah tindakan bunuh diri ?

1. Hutan Bukan Sekadar Tabung Oksigen, Tapi “Gudang Racun”

Fungsi vital pohon yang sering dilupakan para politisi adalah peran mereka sebagai Penyerap Karbon (Carbon Sink).

Laut memang memproduksi oksigen, tetapi hutanlah yang bekerja keras menyerap racun Karbon Dioksida (CO2) yang kita hasilkan dari pabrik dan kendaraan.

Jika pohon ditebang habis dengan dalih “masih ada laut”, miliaran ton karbon yang tersimpan di batang kayu dan tanah gambut akan lepas ke atmosfer.

Efek dominonya mengerikan :

* CO2 di udara meningkat drastis.

Baca juga:  Bandung Jadi Rujukan Karawang Kelola Aset dan APBD

* Suhu bumi memanas (Global Warming).

* Lautan menyerap panas dan kelebihan CO2 tersebut.

2. Laut yang “Sakit” Tidak Bisa Bernapas.

Inilah ironi terbesarnya. Ketika hutan hilang dan karbon menumpuk, laut akan mengalami Pengasaman (Ocean Acidification).

Air laut menjadi lebih asam karena terlalu banyak menyerap CO2. Kondisi asam ini membunuh cangkang-cangkang mikroskopis dan merusak ekosistem terumbu karang.

Siapa yang paling terdampak ? Fitoplankton !

Jadi, logikanya berputar :
Menebang pohon akan memanaskan bumi, yang akhirnya membunuh fitoplankton di laut.

Mengandalkan laut sambil membabat hutan sama saja dengan memecahkan tangki air cadangan karena merasa keran utama masih mengalir—pada hal keduanya saling terhubung.

3. Bencana Hidrologis : Air Bah Menanti

Oksigen mungkin bisa didapat dari angin laut yang berhembus, tetapi laut tidak bisa menahan tanah longsor di pegunungan. Laut tidak bisa menyerap air hujan yang jatuh di perkotaan.

Pohon berfungsi sebagai spons raksasa yang mengatur siklus air. Tanpa akar pohon yang mengikat tanah :

* Hujan sejam akan langsung menjadi banjir bandang.

Baca juga:  H-10 Menuju Batas Akhir West Java Journalist Competition (WJJC) 2025

* Musim kemarau akan menjadi kekeringan ekstrem karena tidak ada cadangan air tanah.

Kita mungkin masih bisa bernapas karena oksigen dari laut, tapi kita akan mati tenggelam oleh banjir atau mati kehausan karena mata air yang kering.

4. Kesimpulan : Narasi yang Harus Dibungkam

Menggunakan fakta “Laut Penghasil Oksigen” untuk mewajarkan deforestasi adalah manipulasi fakta demi kepentingan investasi lahan.

Hutan dan Laut adalah dua sayap dari satu pesawat yang sama bernama Bumi.

Mematahkan salah satu sayap—Hutan—dengan alasan sayap lainnya masih utuh, hanya akan membuat pesawat ini menukik jatuh lebih cepat.

Pemerintah dan masyarakat harus waspada. Jangan sampai data ilmiah dipelintir menjadi senjata untuk melegalkan perusakan alam.

Kita butuh laut untuk bernapas, tapi kita butuh hutan untuk tetap hidup.

Pertanyaan sederhana : Apa syarat utama untuk layak menjabat sebagai seorang Menteri, apa cukup hanya bermodal Otak Kosong yang penting Pandai Bernarasi ?