Esai Satire: Harri Safiari
Porosmedia.com – Ketika film horor-zombi Abadi Nan Jaya (ANJ) karya Kimo Stamboel meledak sebagai tontonan non-Inggris paling populer di Netflix, publik mungkin tak menyangka bahwa sebuah “makhluk legenda” ikut bangkit: Korupsinikus, sosok fiktif satir dari Negeri Konoha Raya (NKR), negara imajinatif yang gemar membungkus tragedi dengan jargon moralis.
Korupsinikus—makhluk yang konon berabad-abad membatu karena terlalu sering menerima amplop haram—hidup kembali akibat sambaran sinyal Wi-Fi 7 (teknologi yang bahkan belum resmi mendarat di dunia manusia). Kebangkitannya bukan karena penyesalan, melainkan karena ironi: zaman berubah, tetapi “penyakit lama” tidak ikut mati.
Kini ia bersahabat dengan Rubi, aktivis antikorupsi yang hidupnya terus minus saldo karena menolak sogokan. Kombinasi keduanya seperti kopi dan satire: pahit, tetapi menyegarkan akal publik.
Namun lucunya:
Alih-alih berubah menjadi tokoh moral, Korupsinikus justru rutin memberi “kuliah umum” tentang cara bertahan dari tuduhan korupsi secara licin. Dalam seminar fiktif bertajuk “Tips Etis Menghindari Serangan Hukum Bertubi-tubi”, ia berpesan ke Gen Z:
“Jika ingin aman, jadilah seperti belut suci. Lihai bermanuver, tapi tetap tampak bersih.”
Sebuah sindiran halus tentang bagaimana sebagian oknum pejabat publik di negeri-negeri alegoris sering terlihat “tak tersentuh” kendati berbagai dugaan pelanggaran mengitari.
Saat ditemui pewarta, Korupsinikus memberikan komentar yang lebih satire daripada serius. Ia mengaku mengidolakan Sadimin (Donny Damara), pembuat jamu keabadian dalam ANJ.
Menurutnya, dunia membutuhkan sekuel yang lebih “progresif”:
“Ciptakan jamu antikorupsi yang efek sampingnya sederhana: koruptor saling memangsa lalu punah.”
Pernyataan itu jelas metafora. Tetapi metafora, dalam dunia satire, sering lebih jujur daripada kenyataan.
Film ANJ sendiri bercerita tentang Sadimin yang menenggak ramuan keabadian, mati, lalu bangkit sebagai zombi dan menularkan wabah ke seisi Desa Wanirejo. Konflik keluarga yang selama ini diglorifikasi sebagai harmoni tiba-tiba berubah menjadi perebutan hidup yang brutal.
Ambisi keabadian, dalam film maupun dalam dunia kekuasaan, selalu punya harga mahal:
ketika hasrat menguasai tak terkendali, nalar kemanusiaan ikut hancur.
Satire yang Menggigit, Tanpa Menunjuk Siapa Pun
Ketika jurnalis menggoda Korupsinikus mengenai adegan akhir—Grace (Karina Suwandhi) yang ikut meminum jamu keabadian—makhluk satire itu menjawab dengan nada jenaka:
“Semoga efeknya lebih kuat. Siapa tahu ekonomi hiburan dunia makin ramai oleh zombi lokal!”
Lalu ia menambahkan saran yang lebih sinis daripada lelucon stand-up mana pun:
“Kalau pemerintah NKR kreatif, jamu ANJ bisa jadi program nasional antikorupsi. Cukup icip sedikit, dan para pelaku akan saling memakan. Selesai perkara.”
Ia terdiam sejenak, seolah membayangkan dunia ideal tanpa koruptor—sebuah distopia yang justru terlalu menakutkan bagi sebagian pengelola kekuasaan dalam negeri fiktif NKR.
Satire ini bukan menyasar persona nyata, melainkan mengajak publik melihat ironi yang berulang di banyak ruang kekuasaan: ketika integritas dikalahkan oleh hasrat mempertahankan status.
Satire sebagai Cermin Bersama
Esai ini tidak menunjuk siapa pun, tidak menuduh institusi apa pun. Semua tokoh adalah fiksi, metafora, dan alegori, sebagaimana lazim dalam satire politik global.
Tetapi melalui Korupsinikus, Porosmedia.com mengajak pembaca merenungkan:
Mengapa di dunia nyata, budaya “keabadian kekuasaan” kadang justru melahirkan kerusakan?
Dan mengapa, seperti dalam film ANJ, yang lemah selalu jadi yang pertama dimangsa?
Satire memberi ruang untuk tertawa—tapi juga untuk berpikir lebih jauh.
Di situlah kritik menemukan rumahnya.
(Selesai)







