Apapun Agama Kita, Tetaplah Menjadi Orang Indonesia

Avatar photo

Porosmedia.com – Apapun agama yang kita anut, marilah tetap menjadi Orang Indonesia sejati, dengan memelihara warisan budaya dan peradaban Nusantara yang adi luhung.

Dalam kacamata geopolitik global, sejarah selalu mengajarkan bahwa kekuatan besar dunia kerap menggunakan strategi divide et impera—pecah belah untuk menguasai. Dulu, VOC memecah persatuan Nusantara melalui berbagai cara, termasuk mengadu sesama anak bangsa. Kini, bentuknya lebih halus: melalui narasi, media, dan wacana ideologis yang sering kali membingungkan masyarakat — siapa yang sungguh cinta tanah air, dan siapa yang sekadar menjadi alat kepentingan luar.

Permainan semacam ini menunjukkan betapa “dalang geopolitik” memang piawai membangun ilusi di atas panggung sejarah Nusantara.

Santri Datangi Kantor Trans7

Pesantren, kiai, dan santri telah menjadi bagian dari sejarah panjang pendidikan di Nusantara — jauh sebelum Indonesia berdiri. Lembaga ini telah mencerdaskan pribumi di masa kolonial, ketika sekolah Belanda hanya terbuka untuk kalangan bangsawan.

Namun pada 13 Oktober 2025, sebuah tayangan program Xpose Uncensored di stasiun televisi Trans7 memunculkan reaksi keras dari kalangan pesantren. Potongan dialog dalam acara tersebut dinilai menyinggung martabat dunia pesantren dan adab santri.

Baca juga:  Satpol PP Kota Bandung Tertibkan Bangunan Liar dan PKL di Dua Kecamatan: Komitmen Penegakan Perda atau Solusi Parsial?

Keesokan harinya, 14 Oktober 2025, halaman kantor Trans7 di Jakarta Selatan dipenuhi oleh lautan sarung dan kopiah. Puluhan santri dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo dari wilayah Jabodetabek mendatangi stasiun televisi tersebut. Mereka tergabung dalam Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal).

Namun “serbuan” itu bukan dalam arti negatif. Para santri datang dengan akhlak dan adab, bukan dengan amarah. Mereka membawa pesan moral, bukan provokasi.

Penasihat Himasal Jabodetabek, Rasyud Syakir, menyampaikan dalam audiensi bersama jajaran direksi Trans7:

“Kami datang untuk mengklarifikasi pemberitaan yang menimbulkan keresahan. Kami ingin menegaskan bahwa kehidupan pesantren bukan seperti yang digambarkan dalam tayangan tersebut. Ada nilai, adab, dan tradisi yang kami jaga.”

Direksi Trans7, termasuk Program Director Andi Chairil, kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, serta berkomitmen melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang.

Meski demikian, reaksi publik belum sepenuhnya reda. Tagar #BoikotTrans7 sempat menjadi tren di media sosial. Beberapa tokoh ormas Islam juga menyampaikan keprihatinan. MUI dan PBNU menilai tayangan tersebut tidak sensitif terhadap nilai-nilai pendidikan Islam dan etika penyiaran.

Baca juga:  Wadan Kodiklatad Pimpin Apel Bersama, Tingkatkan Disiplin dan Kepatuhan Serta Ajak Prajurit Bekerja Dengan Semangat dan Ikhlas

Dalam perspektif dunia pesantren, adab adalah ruh ilmu. Minum sambil jongkok, mencium tangan kiai, atau bersikap tawadhu bukanlah simbol keterbelakangan, melainkan cermin kerendahan hati. Namun dalam penyajian media, nilai-nilai spiritual ini sering disalahpahami atau dipotong dari konteksnya — sehingga makna luhur berubah menjadi lelucon visual.

Yang menarik, para santri datang bukan untuk menuntut, tetapi untuk mengajarkan etika dialog. Mereka tidak membawa batu, tetapi membawa contoh. Sebab dalam tradisi pesantren, siapa pun yang berbuat salah tetap diajak bicara dengan santun.

Kini permintaan maaf telah disampaikan, namun pelajaran penting tersisa: pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan benteng terakhir adab dan moralitas Nusantara di tengah arus media yang sering kali menertawakan nilai-nilai luhur.

Catatan Geopolitik Media

Kasus ini sekaligus mengingatkan kita tentang arus besar kendali informasi global. Di era modern, media arus utama memiliki jaringan yang kompleks—dari kepemilikan lokal hingga kemitraan internasional. Publik perlu cerdas membaca struktur tersebut agar tidak mudah terseret oleh framing atau narasi yang mengaburkan realitas.

Baca juga:  Pemkot Bandung Gelar Job Fair 2025

Alih-alih menuding individu, penting bagi bangsa ini untuk memperkuat kedaulatan informasi, agar nilai-nilai budaya dan spiritual Nusantara tidak tergilas oleh arus globalisasi yang dikendalikan oleh kepentingan ekonomi dan geopolitik besar.

Kesimpulannya, yang dilakukan para santri bukanlah amarah, melainkan upaya menjaga marwah adab bangsa. Di negeri yang terlalu sibuk menertawakan kesopanan, pesantren masih setia berdiri — menjaga agar rasa malu dan hormat tidak punah di layar kaca.

 

Irom | Porosmedia