Porosmedia.com, Bandung – Wali Kota Bandung menegaskan kembali posisi strategis camat sebagai ujung tombak pelayanan publik di tingkat wilayah. Dalam banyak kasus, camat menjadi sosok pertama yang menerima keluhan warga sebelum persoalan tersebut sampai ke tingkat kota. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Silaturahmi Paguyuban Camat yang digelar di Pawon Pitoe Café, Talaga Bodas, Sabtu (29/11/2025).
Menurut Wali Kota, beban kerja camat tidak pernah ringan. Di lapangan, camat kerap hadir sebagai representasi pertama pemerintah dalam menghadapi persoalan mendesak masyarakat, termasuk sampah, banjir, penataan lingkungan, hingga dinamika aksi protes warga.
“Camat itu punya kewenangan yang hampir setara wali kota di wilayahnya. Mereka yang ditunggu, bahkan yang dikejar warga ketika ada masalah. Tugas ini berat dan sangat menentukan citra pemerintah,” ujarnya.
Wali Kota menceritakan pengalamannya turun langsung menemui masyarakat, memantau laporan warga, serta berdialog dengan pegawai yang bekerja di tengah tekanan sosial. Ia mengakui bahwa birokrasi sering kali berhadapan dengan situasi yang tidak hanya menuntut ketepatan regulasi, tetapi juga kepekaan rasa.
“Kadang ada keputusan yang benar secara aturan, tapi tidak diterima di hati masyarakat. Di sinilah camat harus mampu menjembatani persepsi publik,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tantangan utama pemerintahan kota seringkali terletak pada kesenjangan antara ekspektasi warga dan kapasitas layanan. Dalam situasi tersebut, kemampuan komunikasi camat dinilai menjadi faktor penentu stabilitas wilayah.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga medium penguatan emosional dan profesional antar-camat. Wali Kota menilai kegiatan seperti ini mampu menjaga kohesi aparatur, terutama di tengah tuntutan kerja yang tidak selalu sejalan dengan jam kantor.
“Kita sering bertemu karena pekerjaan, tapi pertemuan berbasis silaturahmi seperti ini justru yang menjaga energi dan keseimbangan kita sebagai pelayan publik,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga memberikan penghormatan kepada para camat yang memasuki masa purnabakti. Ia menilai purnabakti bukan akhir pengabdian, melainkan fase lanjutan yang tetap memiliki makna bagi kota.
“Pengalaman puluhan tahun di pemerintahan itu bukan hilang. Itu warisan untuk kota,” ujarnya.
Untuk camat yang berpindah tugas, Wali Kota menekankan pentingnya menjaga profesionalitas, jejaring kerja, serta loyalitas terhadap visi kota.
“Mutasi itu rotasi pengalaman. Rumah kita tetap sama: Kota Bandung,” tandasnya.
Sebelum menutup pertemuan, Wali Kota memberikan pesan yang mengundang tawa hangat sekaligus sarat makna.
“Kalau nanti sudah pensiun lalu diajak kumpul lagi, jangan sombong,” katanya, menutup acara dengan nada bersahabat.







