Porosmedia.com – Visualisasi sesosok entitas bernama “Baal” yang mengendalikan benang-benang tak kasat mata di atas kepala para bangsawan, bankir, hingga pemimpin dunia, bukanlah gambar baru di belantara media sosial. Gambar tersebut adalah representasi dari kegelisahan purba manusia: ketakutan bahwa kita tidak memiliki kendali atas hidup kita sendiri.
Namun, benarkah dunia dikelola seperti sebuah pementasan drama satu sutradara? Atau jangan-jangan, konspirasi ini adalah “produk” yang kita ciptakan sendiri untuk menjelaskan kekacauan yang gagal kita pahami?
Secara historis, nama-nama yang tertera dalam infografis tersebut—seperti keluarga Rothschild, Rockefeller, hingga Vatikan—memang memiliki pengaruh besar dalam sejarah ekonomi dan politik dunia.
Keluarga Rothschild: Membangun imperium perbankan pada abad ke-18.
Keluarga Rockefeller: Mendominasi industri minyak melalui Standard Oil.
Vatikan: Memiliki pengaruh geopolitik dan moral terhadap miliaran orang.
Namun, data menunjukkan bahwa dunia modern jauh lebih terfragmentasi. Kekuatan ekonomi global saat ini tidak lagi terkonsentrasi pada satu atau dua keluarga, melainkan pada manajer aset raksasa seperti BlackRock atau Vanguard, serta perusahaan teknologi Big Tech yang algoritmanya lebih “mengendalikan” perilaku manusia daripada instruksi mistis dari balik layar.
Psikolog sosial sering menyebut fenomena ini sebagai “Proportionality Bias”. Manusia cenderung percaya bahwa peristiwa besar (seperti pandemi, krisis ekonomi, atau perang) pasti disebabkan oleh rencana besar yang sebanding. Sulit bagi otak manusia menerima bahwa dunia ini sering kali berjalan dalam kekacauan murni atau kesalahan sistemik tanpa adanya “dalang”.
Ilustrasi boneka tali tersebut memberikan rasa aman yang semu: Setidaknya, jika ada dalangnya, berarti ada seseorang yang bertanggung jawab.
Jika kita ingin bicara soal “pengendalian”, kita tidak perlu mencari sosok kuno seperti Baal. Lihatlah ke layar ponsel Anda.
Manipulasi Opini: Media sosial menggunakan algoritma untuk menciptakan echo chambers (ruang gema), di mana publik hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar.
Ekonomi Perhatian: Seperti gambar tersebut yang menunjukkan publik menatap televisi, saat ini kita menatap layar yang mendikte gaya hidup, standar kecantikan, hingga pilihan politik kita melalui data privasi yang kita serahkan secara sukarela.
Kepercayaan pada konspirasi sering kali tumbuh subur di tengah kesenjangan ekonomi yang lebar. Ketika publik merasa tidak berdaya secara finansial, mereka akan mencari kambing hitam di puncak piramida.
Daripada terjebak dalam labirin teori yang sulit dibuktikan kebenarannya secara empiris, tantangan nyata bagi publik saat ini adalah membangun kembali literasi informasi.
Dunia mungkin tidak dikendalikan oleh satu tangan gelap, tetapi dunia pasti dipengaruhi oleh kepentingan kelompok yang terorganisir. Kedaulatan kita sebagai manusia tidak ditentukan oleh siapa yang memegang benang di atas sana, melainkan oleh seberapa kritis kita mempertanyakan informasi yang sampai ke meja makan kita.







