Surat Budaya Dari Mas Bambang Sulistomo Yang Heroik Meniupkan Energi Yang Baru

Jajat Sudrajat

Jacob Ereste :
Porosmedia.com – Sejujurnya, sungguh saya merasa bungah karena mendapat kehormatan atas apresiasi Mas Bambang Sulistomo – Putra Bung Tomo, sang Patriot Bangsa Indonesia – yang terkenal karena keberaniannya mengobarkan semangat perlawanan bangsa Indonesia pada 10 November 1945 di Surabaya,

Mas Bambang Sulistomo memberi komentar terhadap paparan tulisan saya berjudul “Nilai-nilai Spiritual Yang Patut Diperhatikan Untuk IKN di Penajam, Kalimantan Timur” pada 20 Februari 2022. Komentar Mas Bambang Sulistomo itu dikirim seusai waktu sholat Isa, sehingga membuat hati takjub lantaran perhatiannya yang sangat serius dan mendalam itu.

Mas Bambang Sulistomo menulis; Bung Jacob, tulisan anda sangat tajam sekali…itu mengingatkan saya bahwa kekuatan spiritual bangsa itu perlu digali kembali….sebab saya melihat bahwa tidak ada pemimpin yg mampu memberikan keteladanan revolusioner bagaimana mewujudkan masyarakat bangsa dan negara Pancasila….sebab Pancasila itu adalah intisari dari kekuatan spiritual bangsa yang ada dalam isi pembukaan UUD 45

….semua pemimpin tampak ingin terus berkuasa, paling tidak untuk mempertahankan kekuasaannya secara fisik…tidak tampak ke ikhlasan sama sekali, meskipun hanya contoh dipermukaan…semua cenderung melindungi kelompok atau golongannya sendiri….membangun kepercayaan rakyat tampak sangat sukar sekali, dengan sistem ekonomi pasar  yang liberal , egois,  anarkis dan radikal ini menunjukkan bagaimana para pemimpin tidak mampu menggali kekuatan spiritual bangsa ini….Salam hormat….Bambang Sulistomo (20/02/2022)

Baca juga:  5 Kebiasaan yang Tidak Disadari Dapat Memicu Keriput Pada Wajah

Pernyataan Putra Bung Tomo yang sangat saya hormati itu, memberi energi yang luar biasa sehingga saya jadi membayangkan betapa heroiknya Sang Pahlawan pada 10 November di Surabaya itu dahulu ketika membakar semangat warga bangsa Indonesia se Jawa Timur untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap penjajah. Semerta-metrta seusai membaca komentarnya itu saya membayangkan sosok pahlawan yang tengah berpidato berapi-api menyulut semangat arek-arek Suroboyo ketika itu sedang ada dihadapan saya.

Lalu mengenang sejumlah bacaan tentang kisah Bung Tomo yang selalu mengajarkan agar menjalani hidup dengan cara sederhana. Bahkan – tampaknya lantaran kejujurannya – sang Ayahandanya Mas Bambang Sulistomo pernah mengembalikan mobil dari pemerintah, karena tidak sanggup membayar cicilan yang harus dipenuhinya. Selain itu, toh Mas Bambang Sulistomo sendir pernah memberikan kesaksian bahwa betapa sederhananya, Mas Bambang Sulistomo mengaku jujur bila seragam sekolah yang digunakanna dijahit sendiri oleh ibunya, karena tidak ingin bergantung pada orang lain.

Percercapan Mas Bambang Sulistomo terhadap paparan tulisan saya itu katanya mengingatkan dirinya bahwa kekuatan spiritual bangsa itu perlu digali kembali, sungguh memberi energi tambahan bagi saya untuk memaparkan lebih jauh dasar keyakinan saya bahwa laku spiritual itu memang satu-satunya cara mengatasi krisis moral dan etika serta akhlak segenap anak bangsa utamanya bagi elit penguasa atau penyelengara negara yang semakin gandrung korup, tidak bermalu dan semakin tega menzalimi rakyat yang sepatutnya dilindungi dan diperjuangkan aspirasi dan cita-citanya agar dapat hidup lebih baik, sejahtera dan berkeadilan dengan penuh rasa nyaman dan aman.

Baca juga:  Pencapaian Spiritual Diukur Dari Shalatmu

Karena saya pun merasa miris ketika Mas Bambang Sulistomo mengatakan bahwa dia pun melihat tidak ada pemimpin yang mampu dan mau memberikan keteladanan revolusioner bagaimana cara mewujudkan masyarakat bangsa dan negara Pancasila yang sesungguhnya. Sebab Pancasila itu menurut Mas Bambang Sulistomo adalah intisari dari kekuatan spiritual bangsa Indonesia, seperti yang ada dalam kandungan isi Pembukaan UUD 45.

Apalagi kemudian Mas Bambang Sulistomo mengungkapkan bahwa semua pemimpin tampak ingin terus berkuasa, paling tidak untuk mempertahankan kekuasaannya secara fisik. Tidak tampak adanya keikhlasan bagi mereka untuk mengakhiri kekuasaannya yang sudah tidak lagi mewakili kepentingan rakyat. Meskipun hanya contoh dipermukaan, semua tetap cenderung melindungi kelompok atau golongannya sendiri. Semengtara untuk membangun kepercayaan rakyat tampaknya  sangat sukar. Apalagi dihadapan sistem ekonomi pasar yang liberal, egois, anarkis dan radikal. Semuamini, katanya membuktikan bagaimana para pemimpin tidak mampu menggali kekuatan spiritual bangsa semakin terlupakan dan dilupakan.

Banten, 21 Februari 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *