Porosmedia.com, Jakarta – Jaringan solidaritas Free Palestine Network (FPN) menggelar aksi simpatik di kawasan Car Free Day (CFD) Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (5/4/2026). Aksi ini ditujukan sebagai bentuk penghormatan dan doa bersama atas gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian di Lebanon akibat serangan militer Israel.
Massa aksi membentangkan sejumlah spanduk raksasa sepanjang 6 meter yang memuat pesan-pesan penegasan kedaulatan, di antaranya: “Israel Bunuh Prajurit TNI, Saatnya Indonesia Tegas!” serta desakan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk konsisten melawan segala bentuk kolonialisme dan zionisme sesuai amanat UUD 1945.
Aksi ini menarik perhatian publik dan tokoh diplomatik. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, tampak hadir di lokasi dan menyempatkan diri berfoto bersama massa aksi sebagai bentuk dukungan moral terhadap aspirasi kemanusiaan dan solidaritas tersebut.
Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, menyatakan bahwa peristiwa gugurnya prajurit Indonesia di bawah bendera UNIFIL merupakan “alarm” keras bagi pemerintah.
”Gugurnya tiga patriot kita adalah momentum bagi Presiden Prabowo untuk mengembalikan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang lebih progresif. Agresi militer terhadap pasukan perdamaian PBB adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional yang tidak bisa dibiarkan,” tegas Furqan di sela-sela aksi.
Furqan mengapresiasi narasi Presiden Prabowo di berbagai forum internasional seperti KTT D8 dan Sidang Umum PBB yang kerap menyuarakan persatuan bangsa-bangsa Selatan melawan imperialisme. Namun, ia menekankan perlunya langkah konkret menyikapi eskalasi di Palestina dan Lebanon.
”Publik menantikan ketegasan nyata. Jangan sampai retorika anti-imperialisme di panggung internasional tampak kontradiktif dengan kebijakan di lapangan, terutama terkait jaminan keamanan prajurit kita dan posisi Indonesia terhadap agresi di kawasan Timur Tengah,” tambah aktivis 98 tersebut.
Dalam pernyataan sikapnya, FPN juga menyoroti beberapa poin krusial terkait posisi geopolitik Indonesia saat ini:
Evaluasi UNIFIL: Mendorong pemerintah mengevaluasi keberadaan kontingen Indonesia di Lebanon jika PBB tidak mampu memberikan jaminan keamanan absolut bagi pasukan perdamaian.
Penolakan ISF: Mengingatkan pemerintah agar tidak melibatkan TNI dalam International Stabilization Force (ISF) yang dinilai berisiko merugikan perjuangan kemerdekaan Palestina.
Tinjauan Kerja Sama Ekonomi: Meminta pemerintah meninjau ulang keterlibatan dalam Board of Peace (BoP) dan perjanjian dagang The Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat, menyusul dinamika hukum internal di AS terkait kebijakan tarif.
Aksi ditutup dengan penggalangan tanda tangan dukungan dari masyarakat yang melintas di area CFD. FPN mencatat aksi serupa juga digelar serentak di berbagai kota besar seperti Bandung, Makassar, Solo, Yogyakarta, Surabaya, hingga Tarakan.
Adapun tiga prajurit TNI yang gugur dalam tugas di Lebanon adalah:
Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon (Gugur akibat serangan mortir).
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar (Gugur akibat ledakan ranjau).
Sertu Muhammad Nur Ichwan (Gugur akibat ledakan ranjau).
”Indonesia berduka. Kami menuntut keadilan bagi para prajurit yang telah mengorbankan nyawa demi perdamaian dunia. Saatnya pemerintah menunjukkan kedaulatan di mata internasional,” tutup Furqan.







