Porosmedia.com | Tasikmalaya – Kehidupan seorang ulama besar pada abad ke-2 Hijriah seringkali dicatat dengan tinta emas, sanjungan keilmuan, ketaatan beribadah, dan keberanian di medan jihad. Namun, terkadang justru sebuah pertemuan singkat, dengan sosok yang nyaris tak tercatat sejarah, yang mampu membelah jiwa seorang alim, mengungkap hikmah terdalam tentang makna kemuliaan sejati di hadapan Sang Maha Raja.
Abdullah bin Mubarak, lahir di Merv, Khurasan (kini Turkmenistan) pada 118 H/736 M, adalah legenda hidup pada masanya. Dikenal sebagai ulama multidimensi—ahli hadis (hafiz), faqih, sastrawan, pedagang kaya, mujahid, dan zahid—ia adalah representasi sempurna seorang Muslim sejati yang menggabungkan dunia dan akhirat. Para sejarawan seperti Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ memujinya sebagai “panglima kaum beriman dalam hal hadits” dan “seorang yang mulia, ahli ibadah, dermawan, dan pemberani” (Sumber, Siyar A’lam an-Nubala’, jilid 8).
Konon, kekayaannya yang melimpah dari perdagangan internasional yang jujur, ia bagikan untuk jihad dan menyantuni para penuntut ilmu. Hidupnya berirama antara Merv, Baghdad, Makkah, dan perbatasan Romawi Timur (Byzantium). Namun, di balik reputasi globalnya itu, ada satu momen di Baghdad yang membuatnya merasa seperti seorang murid yang baru mulai belajar.
Istisqa’ di Lapangan Baghdad, Sebuah Doa yang Membelah Langit
Alkisah, seperti diriwayatkan dalam kitab Syarah al-Yaqut an-Nafis, Baghdad dilanda kemarau panjang. Kaum Muslimin berkumpul di tanah lapang untuk salat Istisqa’ memohon hujan. Di tengah lautan manusia yang terdiri dari para pembesar, ulama, dan rakyat jelata, Abdullah bin Mubarak—sang tokoh ternama—justru tertarik pada seorang budak berkulit hitam, bertubuh kurus, dan terlihat lemah. Sosoknya tak menarik perhatian siapapun, nyaris tak terlihat.
Tiba-tiba, telinga Abdullah yang peka menangkap sebuah doa yang meluncur dari bibir budak itu. Bukan dengan rangkaian kata panjang atau bahasa sastra tinggi, namun dengan ketulusan yang menghujam,
“Ya Allah, sungguh hamba-hamba-Mu datang kepada-Mu memohon hujan. Maka, demi cinta-Mu kepadaku, siramilah mereka… sekarang.”
Efeknya seperti sebuah perintah langsung ke langit. Sejarawan dan ahli hadis sering mencatat fenomena “cepat terkabulnya doa orang-orang saleh yang tersembunyi (majdhub)” sebagai tanda kewalian. Dan saat itu, alam seakan membenarkan catatan itu. Mendung segera menyelimuti, dan hujan deras pun turun membasahi bumi Baghdad yang gersang.
Abdullah bin Mubarak terdiam. Hatinya bergetar hebat. Ia baru saja menyaksikan bukti nyata dari sabda Rasulullah SAW, “Berhati-hatilah dengan firasat seorang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah” (HR. Tirmidzi). Firasatnya berkata, lelaki ini adalah seorang Waliyullah (kekasih Allah) yang tersembunyi.
Misi Rahasia Sang Ulama, Mencari Wajah di Pasar Budak
Diam-diam, Abdullah mengikuti budak itu hingga ia masuk ke rumah seorang pedagang budak. Esok harinya, dengan niat membebaskannya, Abdullah mendatangi pedagang tersebut. Puluhan budak dengan fisik prima dan harga mahal ditawarkan padanya. Tak satu pun yang ia cari.
“Masih adakah yang lain?” tanya Abdullah.
“Ada satu, tapi ia lemah, tak berguna, dan hampir tak bernilai,” jawab sang pedagang dengan nada merendahkan.
“Perlihatkan padaku,” pinta Abdullah.
Dan benar, itu adalah sang budak pendoa hujan. Tanpa tawar-menawar, Abdullah membelinya. Di perjalanan pulang, dengan kerendahan hati yang luar biasa dari seorang guru besar, Abdullah membalikkan posisi,
“Mulai saat ini, akulah budak, dan engkaulah tuanku.”
Budak itu terkejut, “Tuanku, apa maksudmu?”
“Aku menyaksikan doamu diijabah Allah,” jawab Abdullah polos.
Budak itu hanya diam, seribu bahasa tersimpan dalam heningnya.
Pertemuan Terakhir di Masjid, Pamit kepada Sang Kekasih
Saat mereka melewati sebuah masjid, sang budak meminta izin untuk salat dua rakaat. Di dalam masjid, ia salat dengan kekhusyukan yang dalam, lalu bermunajat pelan setelah salam,
“Ya Allah, rahasia antara Engkau dan aku kini telah terbuka. Maka, ambillah aku sekarang, menghadap-Mu.”
Ia kemudian mengucapkan syahadat, merebahkan tubuhnya menghadap kiblat, dan ruhnya yang mulia pun berpulang. Ia meninggalkan dunia ini dengan tenang, setelah “identitas rahasianya” sebagai kekasih Allah terbuka di hadapan mata seorang yang bisa dipercaya, Abdullah bin Mubarak.
Epilog, Pelajaran Abadi untuk Peradaban yang Silau dengan Penampilan
Kisah ini, meski sanadnya dicatat dalam literatur klasik seperti Syarah al-Yaqut an-Nafis, mengandung pesan universal yang relevan sepanjang zaman. Dalam dunia yang semakin terobsesi pada penampilan luar, gelar, pengikut, dan pengakuan publik, kisah budak hitam dari Baghdad ini adalah tamparan halus.
Ia mengingatkan kita pada ayat Al-Qur’an, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat, 13). Takwa itu tersembunyi di dalam hati. Sebagaimana dinyatakan oleh banyak sufi dan ulama, seperti Ibnu ‘Atha’illah dalam Al-Hikam, “Betapa banyak amal lahir yang kecil menjadi besar karena niat yang tulus, dan betapa banyak amal lahir yang besar menjadi kecil karena niat yang rusak.”
Abdullah bin Mubarak, sang ulama besar, justru belajar dari seorang yang dianggap “tak bernilai” oleh pasar. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan sejati adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya. Ada para “pilot-pilot tak terlihat” yang doa-doa merekalah yang sesungguhnya menopang langit dunia ini dari kehancuran.
Mereka mungkin tak dikenal oleh algoritma media sosial, tak memiliki gelar mentereng, atau bahkan hidup dalam status sosial yang rendah. Namun, di mata Dzat Yang Maha Melihat, mereka adalah bangsawan sejati, yang dengan sekali bisikan, pintu langit terbuka dan hujan rahmat tercurah.
Tulisan ini disarikan dari riwayat dalam Syarah al-Yaqut an-Nafis, dengan konteks sejarah dan analisis karakter Abdullah bin Mubarak yang diperkaya dari referensi biografis klasik seperti Siyar A’lam an-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi dan studi tentang kehidupan para tabi’in







