Porosmedia.com – Artikel ini disusun khusus untuk publikasi eksklusif di portal digital PorosMedia.com. Seluruh uraian substansi bersumber dari hasil kajian historis dan verifikasi ilmiah dokumen otentik Babon I Sejarah Bandung yang dihimpun oleh Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten Bandung. Artikel ini dirancang dengan integritas akademik, kepatuhan hukum hak cipta standar jurnalistik, serta keaslian naskah yang belum pernah dimuat di media daring lain.
1. Pendahuluan dan Akar Historiografi Bandung
Sejarah perkembangan wilayah Tatar Sunda, khususnya Kota dan Kabupaten Bandung, memiliki akar silsilah yang sangat panjang dan terstruktur. Berdasarkan naskah otentik historiografi lokal yang tersimpan dalam bagan silsilah Babon I Sejarah Bandung, garis keturunan kepemimpinan Bandung bertaut langsung dengan penguasa Pakuan Pajajaran, yakni Prabu Siliwangi (bergelar Prabu Guru Dewataprana, Sri Baduga Maharaja, Ratu Haji di Pakuan Pajajaran yang bertahta pada rentang 1482–1521 M).
Perjalanan transformasi politik dan administratif dari era kerajaan tradisional menuju sistem kepemerintahan daerah (Kabupaten) mengalami beberapa fase dinamis, termasuk penyesuaian terhadap pengaruh Kesultanan Mataram hingga era Hindia Belanda. Memahami rantai keturunan dan dinamika tata pemerintahan ini memberikan sudut pandang komprehensif mengenai fundamen kebudayaan dan jati diri masyarakat Bandung modern.
2. Transisi Kepemimpinan: Dari Pajajaran Hingga Timbanganten
Silsilah mencatat bahwa jalur keturunan Prabu Siliwangi menurun kepada keturunannya yang memegang peranan penting di berbagai wilayah strategis Tatar Pasundan. Garis keturunan awal bergerak melalui:
Prabu Siliwangi (1482–1521 M) \rightarrow Ratu Maharaja Inten Dewata (Putra Dalem Pasirhuni).
Prabu Punteun Rapa Dewa \rightarrow Bermukim dan memerintah di Bardala Puntang, Dayeuh Manggu/Lembang (Agama Hindu).
Prabu Rakean Santan (Sunan Sugih) \rightarrow Penanda masuknya ajaran Islam di wilayah Budira/Guntur.
Prabu Rajamanah (Raja Timbanganten) \rightarrow Berkedudukan di Budira/Guntur (Agama Islam).
Prabu Hangga Laga No. 1 (Baginda Salemba) \rightarrow Berkedudukan di Robok/Kopo.
Dipati Masangbagan \rightarrow Memerintah di Bangkan Luhur (dimakamkan di Ciroke).
Pada era transisi ini, kepemimpinan Timbanganten diwarnai oleh pembagian wilayah kekuasaan dan pengangkatan kepemimpinan daerah (Dipati/Bupati) yang memperkuat struktur birokrasi tradisional di Tatar Garut dan Bandung kuno.
3. Era Pengaruh Mataram dan Pembentukan Kabupaten Bandung
Sejak awal abad ke-17, dinamika politik Nusantara menempatkan wilayah Priangan di bawah naungan Kesultanan Mataram. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung Mataram, dilakukan penataan ulang wilayah administrasi di Tatar Sunda. Periode ini menjadi tonggak sejarah yang sangat krusial dengan diangkatnya para Bupati di wilayah Priangan.
|
Nama Penguasa / Bupati |
Gelar & Wilayah Kedudukan |
Keterangan Historis |
|---|---|---|
|
Dipati Djajakusumah Wirapati |
Dalem Rd. Aria Kusuma Wiradipura |
Bupati Timbanganten Nagara (Gegersong). Keturunan langsung dari jalur penguasa terdahulu. |
|
Dipati Wiranatubumi / Wirawinangun |
Bupati Timbanganten / Bandung Ke-I (1641 M) |
Mulai di bawah penguasaan Mataram. Salah satu figur sentral pembentuk Kabupaten Bandung awal. |
|
Tumenggung Ardikusumah |
Bupati Bandung Ke-II (1681–1704 M) |
Memerintah pada masa transisi pengaruh kekuatan politik di Tatar Pasundan. |
|
Bupati Wiranatakusumah I |
Bupati Bandung Ke-III (1704–1747 M) |
Penguasa dari trah Wiranatakusumah yang meletakkan fondasi kuat kepemimpinan Bandung modern. |
4. Periodisasi Suksesi Bupati Bandung (Abad ke-18 hingga ke-20)
Historiografi otentik Babon I Sejarah Bandung secara rinci mencatat rantai kepemimpinan Bupati Bandung yang terus berlanjut hingga abad ke-20. Garis kepemimpinan Wiranatakusumah menjadi pilar utama dalam pemindahan ibu kota Bandung dan pembangunan tata kota modern:
Bupati Bandung Ke-IV: Angradiredja I (1747–1763 M).
Bupati Bandung Ke-V: Wiranatakusumah II (1763–1794 M) — Tokoh pendiri kota Bandung modern yang memindahkan ibu kota dari Karapyak ke lokasi Kota Bandung saat ini.
Bupati Bandung Ke-VI: Wiranatakusumah III (1794–1829 M) / Dalem Karapyak.
Bupati Bandung Ke-VII: Wiranatakusumah IV (1829–1846 M) / Dalem Bintang (dimakamkan di Karanganyar).
Bupati Bandung Ke-VIII: Rd. Adipati Wiranatakusumah V (1846–1874 M) / Dalem Ujungberung.
Bupati Bandung Ke-IX: Dalem Maruyung (1874–1893 M).
Bupati Bandung Ke-X: Raden Adipati Aria Martanagara (1893–1918 M).
Bupati Bandung Ke-XI & XIII: Raden Adipati Aria Wiranatakusumah VI (1920–1931 M & 1935–1945 M) — Figur negarawan penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Bupati Bandung Ke-XII: R.T. Suriaputra (1931–1935 M).
Bupati Bandung Ke-XIV: R.T. Male Wiranatakusumah (1945–1956 M).
5. Penelitian dan Verifikasi Metodologis (1961–1997)
Keabsahan data silsilah dan alur sejarah yang tertuang dalam naskah ini bukanlah hasil andaian semata, melainkan buah dari proses kerja keilmuan dan penelitian sejarah lokal yang panjang. Naskah Babon I Sejarah Bandung telah melalui tahapan penelitian dan uji cocok (verifikasi) silang dengan naskah-naskah kuno serta buku-buku sejarah Bandung:
Tahap I (1961): Penelitian awal diselesaikan pada 5 November 1961 oleh Penulis I (Nazir Asaputra) dan Penulis II (Slamet Wiranatakesumah).
Tahap II (1997): Diteliti ulang, dicocokkan kembali secara cermat, dan ditandatangani di Bandung pada 4 Januari 1997 oleh Pengurus Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten Bandung:
Ketua: H. R. Oetje Dachran Tirtadiningrat
Wakil Ketua: Deto Suparnarna
Penerbitan rekonstruksi sejarah ini di portal PorosMedia.com bertujuan untuk memberikan edukasi sejarah yang akurat, obyektif, dan memiliki pertanggungjawaban ilmiah serta kepastian hukum. Dengan memahami silsilah Prabu Siliwangi hingga para Bupati pembangun Kota dan Kabupaten Bandung, generasi muda dapat menghargai warisan budaya dan kearifan lokal Tatar Pasundan secara utuh.
Sumber Referensi Primer: Dokumen Silsilah Otentik Babon I Sejarah Bandung, Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten Bandung, Jl. Sultan Agung No. 17 Bandung (Disahkan 4 Januari 1997).







