Porosmedia.com – 25 Agustus 2025, kami akan turun ke jalan.
Bukan untuk menciptakan gaduh,
tetapi untuk menyuarakan hati nurani.
Kami berdiri membawa suara ribuan pekerja pariwisata,
yang keringatnya ikut menghidupi bangsa,
namun nasibnya terus diabaikan.
Kami hadir untuk berkata lantang:
“Lawan Arogansi Kekuasaan, Selamatkan Pekerja Pariwisata!”
Kami adalah sopir, kenek, pemandu wisata, pemilik bus,
dan seluruh pelaku yang menggerakkan denyut pariwisata.
Kami bukan musuh negara,
kami justru bagian penting dari ekonomi rakyat.
Namun kebijakan yang semena-mena
telah menyingkirkan kami dari ruang kehidupan.
Karena itu kami bersatu dan berteriak:
“Bus Pariwisata Bersatu, Demi Nasib Pekerja Pariwisata yang Terlupakan!”
Jangan biarkan pariwisata mati di tangan aturan yang menindas.
Jangan injak jerih payah rakyat kecil
yang bertahun-tahun menopang sektor ini.
Kami menolak mati perlahan oleh kebijakan
yang gagal menghadirkan keadilan.
Maka kami tegaskan:
“Jangan Matikan Pariwisata!
Selamatkan Pekerja, Lawan Arogansi Kekuasaan!”
Kami tidak menuntut istana, tidak meminta kemewahan.
Kami hanya menuntut hak paling mendasar:
keadilan dan keberlangsungan hidup yang layak.
Karena itu kami berkata dengan tegas:
“Kami Bukan Musuh, Kami Pejuang Pariwisata!”
Kini saatnya bus pariwisata bangkit,
saatnya pekerja berdiri tegak untuk kesejahteraan.
Bagi kami, tidak ada lagi ruang tawar-menawar:
“Bus Pariwisata Bangkit! Kesejahteraan Pekerja Harga Mati!”
Arogansi kekuasaan hanya akan
membunuh pariwisata,
membunuh mimpi ribuan keluarga
yang menggantungkan hidup pada sektor ini.
Itulah sebabnya kami bersatu,
sebab hanya dengan kebersamaan
masa depan bisa diselamatkan.
“Arogansi Kekuasaan Membunuh Pariwisata,
Saatnya Bersatu Selamatkan Pekerja!”
Dan akhirnya, dari lubuk hati terdalam,
kami berseru dengan semangat tak tergoyahkan:
“Hidup Pekerja Pariwisata!
Lawan Penindasan Kekuasaan!”
Oleh : Aceng,
Driver Bus Pariwisata DMH Trans







