Porosmedia.com – Selama ini, kita mengagumi kemegahan gedung-gedung universitas yang menjulang tinggi, mengejar label World Class University, dan merayakan akreditasi internasional. Namun, di balik fasad mentereng tersebut, ada sebuah ironi yang menyesakkan: para intelektualnya—para dosen—sedang mengalami “alienasi” atau keterasingan di rumahnya sendiri.
Fenomena dosen yang lebih aktif mencari eksistensi dan penghidupan di luar kampus bukan sekadar urusan “kurang gaji”. Ini adalah protes sunyi terhadap sistem pendidikan tinggi yang kian mekanistik. Kampus yang seharusnya menjadi oase pemikiran, kini perlahan berubah menjadi unit administratif yang kaku, di mana kreativitas seringkali terbentur oleh tembok tebal laporan BKD (Beban Kerja Dosen) dan tuntutan administratif yang nyaris tidak manusiawi.
Akar masalahnya terletak pada pergeseran paradigma. Ketika kampus dipaksa menjadi entitas income generating tanpa dukungan sistem yang matang, dosen tidak lagi dipandang sebagai “pemberi arah peradaban,” melainkan sebagai “operator produksi.”
Dosen yang seharusnya menghabiskan waktu di perpustakaan atau laboratorium untuk meriset solusi bagi bangsa, justru disibukkan dengan urusan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) dan input data yang berulang-ulang. Akibatnya, terjadi defisit makna. Ruang-ruang diskusi di kantin atau lorong kampus yang dulu riuh dengan perdebatan ideologis, kini berganti menjadi keluhan tentang sistem informasi yang sering error.
Inilah yang memicu lahirnya “Dosen Migran”—mereka yang secara fisik ada di kelas, namun pikiran dan gairahnya berada di proyek-proyek konsultasi, bisnis, atau panggung-panggung luar. Luar kampus memberikan apa yang tidak diberikan institusi: penghargaan nyata, otonomi, dan rasa berdaya.
Mengutip paradigma People, Purpose, dan Prosperity, institusi pendidikan harus sadar bahwa aset terbesarnya bukanlah gedung beton atau perangkat lunak terbaru, melainkan manusia.
- People: Berhenti memperlakukan dosen sebagai bawahan birokrasi. Dosen adalah mitra intelektual yang butuh ruang untuk bernapas dan berinovasi.
- Purpose: Kembalikan martabat dosen sebagai pendidik. Jangan biarkan beban administratif menggerus waktu mereka untuk membimbing mahasiswa secara mendalam.
- Prosperity: Kesejahteraan adalah harga mati. Namun, kesejahteraan bukan hanya soal nominal rupiah, melainkan kepastian karier yang transparan dan akses pengembangan diri (seperti sabbatical leave) yang selama ini hanya jadi mimpi bagi mayoritas dosen di Indonesia.
Jika kampus ingin kembali menjadi kiblat peradaban, maka “rekreasi akademik” harus dihidupkan kembali. Kampus harus menyediakan ruang di mana ide-ide liar boleh tumbuh tanpa takut dipangkas oleh aturan birokrasi yang kaku. Lingkungan yang sehat secara psikologis akan dengan sendirinya melahirkan loyalitas.
Kita tidak ingin melihat universitas yang hanya megah di atas kertas, namun keropos di dalamnya. Jika para intelektual terus-menerus mencari “makna” di luar, maka yang tersisa di dalam kampus hanyalah raga-raga kosong yang mengajar tanpa jiwa.
Sudah saatnya pemangku kebijakan di tingkat universitas maupun kementerian melakukan refleksi mendalam: Apakah kita sedang membangun pusat keunggulan bangsa, atau sedang membangun pabrik administrasi yang perlahan membunuh gairah intelektualitas pengajarnya sendiri?
Sumber awal:
Radarjatim.id
Kampus Yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus.
Oleh: Prof. Dr. Mohammad Kurjun, M.Ag.,







