Memaknai Kata “Anjing” Dalam Pidato Prabowo Di PBB 

Worse Than Dog....!!!

Avatar photo

Porosmedia.com – Sidang Umum PBB tahun ini mendadak jadi sorotan dunia. Bukan hanya karena isu Palestina kembali mengemuka, atau karena ketegangan geopolitik antarnegara besar, melainkan karena satu kata yang meluncur tegas dari podium: “anjing.”

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia, menyampaikan refleksi sejarah panjang bangsa Indonesia di bawah kolonialisme:

“Negara saya memahami penderitaan ini. Selama berabad-abad, rakyat Indonesia hidup di bawah dominasi kolonial, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih buruk daripada anjing di tanah air kami sendiri. Kami orang Indonesia tahu apa artinya ditolak keadilan, tahu bagaimana hidup dalam apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan ditolak kesempatan yang sama. Kami juga tahu apa yang dapat dilakukan solidaritas. Dalam perjuangan kami untuk kemerdekaan, dalam perjuangan kami untuk mengatasi kelaparan, penyakit, dan kemiskinan, Perserikatan Bangsa-Bangsa berdiri bersama Indonesia dan memberikan bantuan penting.”

Ungkapan “worse than dog” sontak menjadi perhatian besar. Para diplomat kaget, sebagian tertawa kecil, sebagian lagi sibuk memastikan terjemahan simultan tidak keliru. Namun faktanya, pesan yang ingin ditegaskan Presiden Prabowo jelas: bangsa Indonesia pernah mengalami perlakuan yang begitu hina di masa kolonial, bahkan lebih rendah dari makhluk yang selama ini identik dengan loyalitas.

Baca juga:  Membasuh Luka di Bulan Suci: Kala Doa Para Lansia dan Anak Istimewa Mengetuk Pintu Langit

Simbolisme Kata “Anjing”

Mengapa “anjing”? Mengapa bukan hewan lain? Karena kata ini bersifat universal, mudah dipahami lintas budaya. Dari Asia hingga Eropa, kata “dog” selalu menghadirkan kesan kuat—baik sebagai simbol kesetiaan, maupun sebagai metafora penghinaan.

Dengan memilih istilah tersebut, Prabowo menggunakan strategi diplomasi retoris: kejutan yang membangunkan forum internasional. Alih-alih pidato panjang yang formal namun membosankan, satu kata itu justru membekas dan memantik refleksi moral.

Dari Satire ke Solidaritas

Tentu, pidato tersebut bukan sekadar “sensasi bahasa.” Di balik gaya lugasnya, ada pesan serius yang ditujukan pada dunia: jangan ulangi sejarah kelam, jangan biarkan bangsa atau kelompok mana pun diperlakukan lebih hina dari manusia itu sendiri.

Pesan ini pun dikaitkan dengan isu Palestina, menegaskan bahwa Indonesia hadir di PBB bukan hanya untuk bernostalgia pada masa kolonialisme, tetapi juga untuk menyerukan solidaritas global melawan ketidakadilan.

Resonansi di Dunia

Media sosial pun ramai. Ada yang bangga dengan ketegasan Presiden, ada yang terhibur dengan gaya penyampaian yang berbeda dari kebiasaan forum internasional yang kaku, bahkan sebagian kalangan menganggap ini sebagai bentuk satire diplomatik yang justru efektif.

Baca juga:  Wakasad Terima Laporan Korps Kenaikan Pangkat 12 Pati TNI AD

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya isi pidato itu, tetapi juga keberanian memilih diksi yang mengejutkan namun sarat makna. Dengan satu kata, Prabowo berhasil membuat dunia berhenti sejenak, mendengarkan, tertawa, berpikir, lalu bertepuk tangan.

Hari itu, istilah “anjing” resmi masuk dalam catatan diplomasi internasional. Bukan sekadar kata, melainkan simbol perlawanan, ingatan sejarah, sekaligus panggilan moral untuk solidaritas kemanusiaan.