Esai Satire: Harri Safiari
Porosmedia.com – Di suatu waktu yang kehilangan arah, berdirilah sebuah negeri makmur dari ilusi—negeri yang menolak cermin, disebut Negeri Nir Cermin.
Di sana, kejujuran adalah penyakit langka, dan kemunafikan tumbuh seperti tanaman hias di halaman istana. Cermin-cermin pernah ada, konon, tapi disingkirkan karena terlalu sering memperlihatkan wajah asli: penguasa yang pandai menunduk, rakyat yang pandai meniru.
Kini, tak seorang pun tahu rupa mereka sendiri—sebab setiap refleksi dianggap penghinaan terhadap kemapanan.
Para warganya hidup dengan senyum terpolitur, nurani yang dikredit, dan dosa yang disubsidi silang.
Mereka menyebut kebohongan sebagai strategi, pencurian sebagai insentif, dan kemiskinan sebagai efek samping pembangunan.
Dari rahim absurditas itulah lahir Korupsinikus — anak paling jujur dari kebusukan yang dilembagakan. Ia bukan penjahat, bukan pahlawan; ia hanyalah cermin retak terakhir di negeri yang takut bercermin. Lewat dirinya, yang tabu menjadi tontonan, dan yang suci diuji hingga ringsek.
Sebab di Negeri Nir Cermin, kebenaran hanya bisa diselamatkan lewat olok-olok, dan humor satiris menjadi bentuk terakhir dari kejujuran yang tersisa. Negeri ini berdiri di atas fondasi tawa getir dan absurditas kolektif — tempat setiap janji politik kedaluwarsa lebih cepat dari meme, dan setiap pejabat berlomba menjadi legenda dengan cara melupakan dosa.
Negeri Nir Cermin tak butuh revolusi — cukup sepotong refleksi.
Namun karena cermin telah tiada, yang tersisa hanyalah satire kering dan rasa pahit di ujung lidah.
Ironi terdengar saat Korupsinikus menghadiri Rapat Dengar Pendapat di lembaga legislatif Negeri Nir Cermin, membahas rancangan undang-undang hukuman mati dan perampasan aset koruptor.
“Materi hukuman mati dan perampasan aset mohon diperhalus, disamarkan dalam bahasa yang lebih beradab,” seru mayoritas anggota legislatif, serempak dan sopan. Usai rapat, para jurnalis bertanya tentang progresnya.
Korupsinikus menjawab dengan wajah yakin:
“Saya sudah dorong penuh agar hukuman mati dan perampasan aset segera diundangkan. Dan mereka menyambut dengan antusias!”
Padahal, kenyataannya berbalik arah.
Namun Korupsinikus tahu — di Negeri Nir Cermin, berbohong hanyalah efek samping pembangunan.
(Selesai)







