Porosmedia.com, Cimindi – Di suasana hangat sebuah panggung terbuka, ketika sorot kamera dan perhatian publik tertuju ke satu titik, seorang seniman bernama Kang Trisna Batara Putra melangkah naik membawa sesuatu yang baginya lebih dari sekadar karya: sebuah bentuk penghormatan.
Ia tidak memilih kata-kata panjang, tidak pula membawa bunga. Yang ia bawa adalah ketulusan yang diterjemahkan lewat goresan tangan.
Kang Trisna dikenal sebagai pribadi yang tenang dan rendah hati. Bagi dirinya, sebagian cerita tidak perlu diucapkan—cukup digoreskan. Setiap garis, setiap arsiran, baginya adalah ruang untuk menyimpan emosi, ingatan, dan rasa hormat. Dan pada hari itu, rasa hormat itu ia persembahkan kepada seorang sosok yang ia kagumi: Panglima TNI Agus Subiyanto.
“Saya menggambar beliau bukan karena popularitas, tetapi karena nilai-nilai hidup yang saya lihat dalam keteladanannya,” ujar Kang Trisna setelah acara. Baginya, sosok panglima bukan sekadar jabatan publik, tetapi simbol kedisiplinan, keberanian, dan pengabdian panjang yang memberi inspirasi.
Lukisan yang diserahkan itu bukan potret glamor, melainkan sketsa hitam-putih—sederhana namun penuh jiwa. Setiap garis menyiratkan ketekunan; setiap detail menyimpan kekaguman; dan setiap arsiran menghadirkan doa agar keteladanan tetap hidup di ingatan banyak orang.
Momen penyerahan tersebut berlangsung hangat. Senyum mengembang, tangan saling berjabatan, dan tepuk tangan kecil mengiringi prosesi sederhana itu. Tidak ada pesan politik, tidak ada kepentingan terselubung. Yang hadir hanyalah penghormatan tulus seorang seniman kepada sosok yang ia anggap inspiratif.


Pertemuan itu terjadi dalam suasana Reuni Akbar SMAN 13 Cimindi Bandung, Minggu, 16 November 2025, yang juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya: Bapak Dadan Hendayana, Menteri Badan Pangan, Komjen Pol (Purn.) Rudi Sufhariyadi, mantan Kapolda Jawa Barat dan sejumlah alumni dan tokoh masyarakat lainnya
Dalam kesempatan terpisah, Panglima TNI Agus Subiyanto menyatakan kesediaannya membuka pameran seni, sekaligus memberikan dukungan moral bagi Komunitas Seniman Jawa Barat sebagai pelindung kehormatan. Rencana ini menjadi energi baru bagi banyak pelaku seni yang berharap seni dapat semakin dekat dengan publik dan ruang sosial.
Selain itu, dua tokoh yang selama ini aktif mendampingi kegiatan budaya—Buky (DPRD Jawa Barat) dan Edwin (DPRD Kota Bandung)—direncanakan turut memberikan pandangan dan masukan sebagai penasehat komunitas.
Kang Trisna, yang dikenal aktif sejak masa sekolah melalui kegiatan Pramuka dan OSIS, menyebut bahwa reuni ini bukan hanya ajang temu kangen, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas generasi, lintas profesi, dan lintas kecintaan pada seni serta kebudayaan lokal.
Di balik gemerlap acara dan hiruk-pikuk suasana reuni, karya Kang Trisna menjadi pengingat bahwa bentuk penghormatan paling tulus justru sering lahir dari mereka yang bekerja dalam diam.
Baginya, seni bukan tentang panggung besar. Seni adalah ruang batin—ruang yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai keteladanan. Dan melalui sketsa yang ia serahkan, Kang Trisna mengabadikan rasa hormat itu dalam bentuk yang paling ia kuasai: goresan yang berbicara tanpa suara.
Penghormatan itu bukan sekadar karya lukis. Ia adalah sikap hidup. Dan pada hari itu, Kang Trisna menunjukkan bahwa ketulusan tidak pernah membutuhkan banyak kata—cukup hati yang jernih dan tangan yang bekerja dengan keikhlasan.







