Kemelut Utang BUMN ke Bank BJB: Korupsinikus (Eks Java Man) Pura-pura Bertanya …

Avatar photo

Esai Satire: Harri Safiari

Porosmedia.com – Awan mendung sore itu menggantung sopan di atas warung Mang Dodo. Ia tampak setia, seperti janji penuntasan kasus yang tak kunjung turun hujan. Rubi dan Korupsinikus duduk berhadap-hadapan. Kopi hitam di meja lebih jujur daripada sebagian pernyataan resmi: pahitnya konsisten, tidak berubah-ubah sesuai kepentingan.

Korupsinikus—bukan nama lahir, tentu saja—adalah julukan yang tumbuh liar di Negeri Konoha Raya (NKR). Ia dinamai demikian karena terlalu sering muncul setiap ada bau ganjil di sekitar kekuasaan. Pernah suatu masa, karena terlalu awet dan selalu selamat, ia disangka the Java Man atawa Phitecan Tropus Erectus: manusia purba yang hidup kembali, bertahan di segala rezim, dan tetap sehat walau udara politik sering tercemar dan bau anyir.

Rubi, sahabatnya, adalah warga Konoha Raya yang tak pernah dapat jabatan, tapi hafal kronologi. Ia hidup dari satu berita ke berita lain, seperti pustakawan tak resmi di NKR. Orang-orang seperti Rubi biasanya dianggap remeh—sampai suatu hari, mereka benar dan terbukti.

Baca juga:  ​Di Balik Lonjakan Harga Plastik: Ancaman "Inflasi Kemasan" dan Ujian Ketahanan UMKM

Gawai Rubi menyala. Berita media daring 22 Januari 2026 muncul.
“Ini mah déjà vu,” katanya pelan. “Isu lama. Setahun lalu sudah muncul. Tapi mungkin karena terlalu lama, jadi dikira basi dan aman dimakan lagi.”

Yang ia maksud adalah Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN Erick Thohir pada 20 Mei 2025, muncul kala itu nama anggota DPR RI yang cukup lantang mencecar lawan bicaranya, Mulyadi namanya. Saat itu, publik disuguhi kabar sembilan BUMN berutang ke Bank BJB hingga Rp 3,5 triliun. Angkanya jumbo, tapi bunganya mini. Nol sampai satu persen. Bunga penundaan cicilan tiga sampai lima persen. Murah, ramah, manusiawi.

Hampir terasa seperti pinjaman keluarga dan persahabatan abadi — bedanya ini pakai uang publik!
Korupsinikus terkekeh kecil.
“Kalau begini caranya,” katanya, “bank daerah bukan lagi lembaga keuangan. Ini sudah mendekati panti asuhan korporasi. Ya, bak lembaga amal …ibadah.”

Rubi melanjutkan, mengutip Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Total utang itu kini naik menjadi sekitar Rp 3,7 triliun. Seperti proyek, hampir selalu membengkak tanpa perlu revisi anggaran yang ribet.

Baca juga:  Farhan Lantik Pejabat Baru, Tantang Tuntaskan Krisis Sampah, Stunting, dan Pariwisata Mandek

Daftarnya mengalir lancar:
PT Barata Indonesia Rp 89 miliar, PT Perikanan Indonesia Rp 96 miliar lebih, PT Papros Rp 98 miliar. PT Rajawali Nusindo Rp 403 miliar lebih, PT Kimia Farma hampir Rp 950 miliar, Waskita Karya Rp 91 miliar. Dua utang PT Wijaya Karya masing-masing Rp 278 miliar dan Rp 511 miliar, serta PT PP Semarang–Demak Rp 239 miliar.
Korupsinikus mengangguk-angguk, kagum.

“Lengkap pisan. Layaknya, nomor antrean BPJS yang harus hadir sejak subuh. Ini bank atau loket cicilan akhirat?”

Ia menyeruput kopi, lalu berkata dengan nada penuh tata krama penuh adab.
“Utang segini tentu membebani bank daerah. Tapi mungkin sekarang beban itu sudah diredefinisi. Yang berat bukan utangnya, tapi niat untuk menagih.”
Ia tersenyum. Senyum khas orang yang tahu terlalu banyak, tapi masih mau hidup tenang.

“Berbahagialah wargi Jawa Barat. Punya bank daerah yang dari luar tampak stabil, dari dalam penuh dinamika. Seperti gunung api: tidak meletus, tapi hangat terus. Namun, kapan erupsi?”

Baca juga:  Dandim Titip Doa Kepada Ulama dan Santri Ponpes Untuk Keberkahan Purwakarta

Korupsinikus lalu menambahkan, suaranya diturunkan satu oktaf.
“Belum lagi kabar mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang namanya ikut disebut dalam dugaan korupsi belanja iklan Bank BJB senilai Rp 222 miliar. Ditambah lagi, Direktur Utama Bank BJB per 13 Maret 2025 ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Kalau ini sinetron, rating-nya pasti naik. Kalau ini negara, ya… kita doakan saja.”
Awan mendung masih di tempatnya. Hujan tetap ditunda.
Seperti transparansi: dijanjikan, tapi entah jadwalnya.

Korupsinikus—yang dulu disangka Java Man, kini lebih cocok disebut cermin retak republik—menghela napas. Tapi senyumnya tetap someah, sebab marah terus itu capek.
“Intina mah sederhana,” katanya.
“Ini sebenarnya bank daerah sedang diuji tata kelolanya… atau publik sedang diuji daya lupanya?”

Korupsinikus meneguk kopi terakhir, lalu menutup dengan kalimat yang terdengar ringan, tapi berat dibawa pulang:
“Sampai kapan nih…kasus ini rampung? Hayu ah… kita pura-pura nunggu clear?”
(Selesai, tapi masalah belum)