Ibu Oetari Soehardjono & Kuda Pacu Indonesia

Avatar photo

Porosmedia.com – Ibu Oetari Soehardjono, sering dijuluki Ibu Kuda Pacu Indonesia (KPI), dan mungkin masih banyak yang belum tau siapa beliau.

Ibu Oetari Soehardjono lahir di Lahat, Sumatera Selatan, pada 12 Februari 1928. Beliau bukan sekadar penggemar kuda atau pemilik stable, tetapi sosok yang mendedikasikan hidupnya pada pengembangan pacuan kuda Indonesia dari sisi pembibitan dan riset, bukan hanya mengejar hasil lomba jangka pendek.

Bersama suaminya Alm. Mayjen Soehardjono, beliau membangun Pamulang Stud & Stables di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Lokasi ini awalnya merupakan lahan peternakan sapi, yang kemudian dikembangkan menjadi pusat pemeliharaan dan pembiakan kuda. Dari sinilah cikal bakal Pamulang berkembang, yang kelak dikenal sebagai Pamulang Equestrian Centre. Pamulang bukan sekadar kandang atau tempat latihan, tetapi menjadi pusat penting bagi pembibitan dan pengembangan kuda pacu nasional.

Sejak awal, ada satu persoalan besar dalam pacuan kuda Indonesia : ketergantungan dan kecocokan pada Thoroughbred (THB) murni. Bukan karena THB tidak berkualitas, melainkan karena kuda ini dikembangkan di iklim empat musim, sementara Indonesia memiliki iklim tropis dengan tantangan yang berbeda, mulai dari kelembapan, penyakit, sistem pakan, hingga kondisi lintasan. Dalam praktiknya, banyak THB impor yang tidak berkembang optimal dalam jangka panjang di Indonesia.

Baca juga:  Pemkot Bandung Anugerahi 10 Kreator Terbaik: Penguatan Hilirisasi Jadi Pekerjaan Rumah Ekosistem Kreatif Kota

Dari pengamatan lapangan tersebut, lahirlah gagasan Kuda Pacu Indonesia (KPI). KPI bukan dimaksudkan untuk menggantikan Thoroughbred, tetapi sebagai hasil persilangan kuda lokal dengan darah Thoroughbred, yang dirancang agar lebih adaptif terhadap lingkungan Indonesia, lebih tahan terhadap iklim tropis namun tetap mempertahankan kualitas kekuatan serta kecepatan THB, serta solusi yang lebih realistis untuk dikembangkan secara nasional tanpa ketergantungan terus-menerus pada impor.

Program pembentukan KPI ini bukan proses singkat. Prosesnya dimulai sejak sekitar pertengahan 1970-an dan berlangsung lintas dekade. Di Pamulang, dilakukan persilangan, seleksi, dan pencatatan silsilah secara konsisten selama puluhan tahun. KPI lahir bukan sebagai eksperimen sesaat, melainkan sebagai hasil dari pendekatan jangka panjang yang terencana.

Klasifikasi dan program KPI mulai secara resmi diadopsi oleh Pordasi pada tahun 1975 melalui Musyawarah Nasional III di Bandung, Jawa Barat. Dalam proses ini, peran Ibu Oetari sangat sentral. Beliau tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga terlibat dalam perumusan arah breeding dan pembakuan karakteristik KPI. KPI berkembang sebagai konsep yang memandang pacuan kuda sebagai ekosistem berkelanjutan, bukan sekadar agenda lomba musiman.

Baca juga:  Ketika Kamera Jadi Sasaran — Tragedi Nasser Hospital dan Gugurnya Para Jurnalis Gaza

Upaya panjang tersebut akhirnya mendapat pengakuan resmi pemerintah ketika pada tahun 2013, KPI ditetapkan sebagai rumpun kuda nasional melalui keputusan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penetapan ini menandai bahwa Indonesia secara resmi memiliki standar trah pacuan kuda sendiri, yang dibangun berdasarkan kondisi lokal dan pengalaman panjang di lapangan.

Selain peran praktis di dunia pembibitan, Ibu Oetari juga aktif dalam upaya dokumentasi sejarah pacuan kuda Indonesia, termasuk dalam konteks beberapa penulisan buku, seperti buku “Sejarah Pembentukan Kuda Pacu Indonesia” dan buku “Kuda”. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusinya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual, meninggalkan pemikiran dan catatan sejarah bagi generasi berikutnya.

Kalau hari ini kita bicara tentang KPI sebagai identitas pacuan kuda Indonesia, atau menyebut Pamulang sebagai salah satu fondasi penting pembibitan nasional, maka peran Ibu Oetari Soehardjono ada di balik semua itu. Mungkin namanya tidak sering muncul di sorotan utama, tetapi jasanya bersifat fundamental.

Bulan depan beliau berusia 98 tahun, sehat selalu Bu !