Hari Solidaritas Internasional: Ketika Kepedulian Harus Diingatkan, Bukan Dilupakan

Avatar photo

Porosmedia.com – Ada ironi besar dalam peringatan Hari Solidaritas Internasional. Solidaritas—nilai paling mendasar dalam kehidupan manusia—justru harus diperingati secara khusus, seolah-olah ia bukan lagi bagian alami dari nurani bersama. Fakta bahwa dunia membutuhkan satu hari khusus untuk mengingatkan arti solidaritas sesungguhnya adalah pengakuan jujur bahwa kepedulian sosial global sedang mengalami kemunduran serius.

Di tengah kemajuan teknologi, keterbukaan informasi, dan jargon globalisasi, manusia justru semakin terbiasa menutup mata terhadap penderitaan sesamanya. Ketidakadilan sosial, kemiskinan ekstrem, konflik kemanusiaan, dan diskriminasi struktural berlangsung lama, namun sering kali dianggap sebagai “urusan orang lain”. Dalam kondisi inilah Hari Solidaritas Internasional menjadi relevan—bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai teguran moral.

Solidaritas yang Terjebak Retorika
Opini ini berangkat dari kegelisahan yang sama: solidaritas hari ini terlalu sering berhenti pada retorika. Negara, lembaga internasional, bahkan aktor politik kerap menggunakan narasi solidaritas sebagai bahasa formal dalam pidato dan dokumen, namun minim dalam tindakan nyata. Kepedulian dibungkus rapi dalam kalimat normatif, tetapi tercerai ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Baca juga:  Kisah Raja Jawa Era Kolonialisme 

Lebih problematis lagi, solidaritas kerap dipilih-pilih. Ia hadir dengan lantang ketika menguntungkan secara politik, namun senyap saat menuntut keberanian mengambil risiko. Solidaritas semacam ini tidak hanya kehilangan makna, tetapi juga berpotensi melanggengkan ketidakadilan itu sendiri.

Seharusnya dibaca sebagai indikator kegagalan kolektif, bukan pencapaian. Jika solidaritas telah menjadi praktik hidup sehari-hari, hari peringatannya mungkin tidak lagi dibutuhkan. Fakta bahwa ia terus diperingati menunjukkan bahwa ketimpangan masih dipelihara, dan empati sering kali dikalahkan oleh pragmatisme.

Peringatan ini semestinya menjadi momen refleksi kritis: sejauh mana solidaritas benar-benar diterjemahkan ke dalam kebijakan publik, sistem ekonomi, dan tata kelola kekuasaan? Tanpa keberanian mengevaluasi diri, solidaritas hanya menjadi simbol kosong yang berulang setiap tahun.

Solidaritas masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ketimpangan sosial, konflik agraria, masalah buruh, kelompok disabilitas, hingga akses kesehatan dan pendidikan yang belum merata, menunjukkan bahwa solidaritas belum sepenuhnya menjadi fondasi kebijakan. Solidaritas sering dimaknai sebatas bantuan karitatif, bukan keadilan struktural.

Opini ini menegaskan bahwa solidaritas tidak boleh direduksi menjadi belas kasihan sesaat. Solidaritas sejati menuntut keberpihakan yang jelas terhadap kelompok rentan dan keberanian negara untuk hadir secara adil, bukan selektif.

Baca juga:  ‎Perumda Pasar Juara: Membangun Regulasi, Mencari Solusi

Dari Simbol Menuju Tindakan Nyata
Hari Solidaritas Internasional tidak akan berarti apa-apa jika hanya diisi dengan seremoni, diskusi tanpa tindak lanjut, atau pernyataan normatif yang berulang. Solidaritas adalah tindakan, bukan slogan. Ia menuntut konsistensi, keberanian moral, dan komitmen jangka panjang.

Opini ini berpandangan bahwa solidaritas sejati justru diuji pada saat ia tidak populer, tidak menguntungkan, dan bahkan berisiko secara politik. Di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya yang paling jujur.

Pada akhirnya, alasan mengapa Hari Solidaritas Internasional harus tetap ada adalah karena dunia masih membutuhkan pengingat keras bahwa netralitas dalam ketidakadilan adalah bentuk keberpihakan yang paling berbahaya. Solidaritas bukan pilihan opsional, melainkan kewajiban moral bersama.

Jika peringatan ini hanya menjadi rutinitas tahunan, maka yang dirayakan bukan solidaritas, melainkan kegagalan kita sendiri untuk belajar darinya.